Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra

Sumatera merupakan salah satu pulau di Indonesia dengan luas 473.481 km², hal itu mengakibatkan jaringan jalan menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat Sumatera dalam menghubungkan perniagaan dengan pekerjaan, jasa, pasar, penghematan biaya logistik, dan faktor penunjang pertumbuhan industri. Guna menjawab kebutuhan tersebut Pemerintah mencanangkan Mega Proyek Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera mulai tahun 2015, yang akan menghubungkan wilayah Lampung sampai wilayah Aceh melalui 24 ruas jalan berbeda. Panjang keseluruhan dari proyek jalan ini adalah 2.704 km, dimana proyek ini akan di kerjakan oleh PT. Hutama Karya untuk membangun, mengembangkan, dan merawat proyek jalan Tol Trans Sumatera ini.

Sumatera merupakan pulau terbesar kedua yang ada di Indonesia dengan populasi orang lebih dari 55 juta jiwa. Sumatera punya peran penting bagi perekonomian negara. Dengan anugerah dari Tuhan berupa keberagaman potensi alam dan komoditas berlimpah, seperti karet, kelapa sawit, kopi, minyak bumi, batu bara, dan gas alam, tercatat pada tahun 2015 Sumatera dapat menyumbang 22,21% produk domestik bruto (PDB) di Indonesia, masuk pada hitungan terbesar kedua setelah Pulau Jawa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Oleh karena itu, kemajuan dan perkembangannya perlu di dukung dan di sokong salah satunya dengan jaringan jalan yang mumpuni demi keberlanjutan perekonomian Sumatera yang stabil dan pertumbuhan di wilayah tersebut.

Manfaat dari dibangunnya jalan tol ini bukan hanya untuk masyarakat Sumatera saja, namun masyarakat dari luar pulau Sumetra seperti Jawa khususnya kota Jakarta sebagai pusat Ibu kota dan kesibukan utama dalam negara akan sangat terasa. Menurut pemaparan masyarakat Palembang (Sumsel) yang bekerja dan tinggal di Ibu kota, sebelum ada jalan tol perjalanan mereka pulang ke rumahnya bisa sampai 15 jam. Sekarang setelah ruas jalan tol beroperasi Jakarta-Palembang bisa ditempuh dalam waktu 7-8 jam saja. 

Ketika seluruh jalan tol telah tersambungkan, dampak yang dirasakan akan semakin luar biasa. Perjalanan dari Lampung sampai ke Banda Aceh bisa di tempuh dalam waktu yang lebih singkat atau dengan kata lain menghemat waktu lebih banyak.

Sampai saat ini tercatat sepanjang 653 Km jalan tol telah beroperasi. Yang terdiri dari 9 ruas tol, diantaranya :

  1. 140 Km – Bakauheni ke Terbanggi Besar 
  2. 189 Km – Terbanggi Besar ke Kayu Agung 
  3. 38 Km – Kayu Agung ke Palembang ke Betung 
  4. 43 Km – Belawan ke Medan ke Tanjung Morawa 
  5. 13 Km – Medan ke Binjai 
  6. 62 Km – Medan ke Kualanamu ke Tebing Tinggi 
  7. 22 Km – Palembang ke Indralaya 
  8. 14 Km – Sigli ke Banda Aceh Seksi 4 
  9. 132 Km – Pekanbaru ke Dumai 

Dampak positif dari pembangunan jalan tol ini khusus bagi masyarakat Sumatera akan sangat terlihat ketika semua ruas jalan tol telah selesai dibangun. Aktifitas kegiatan bepergian akan semakin lancar, sektor ekonomi dan wisata pun pastinya akan bangkit dengan adanya jalan-jalan tol menuju kawasan-kawasan yang terkonsentrasi. Namun di samping itu dampak negatif juga masih bisa dihasilkan, diantaranya seperti kerusakan infrastruktur atau lahan alami yang memang diperlukan untuk pembangunan jalan tol, serta pendapatan menurun yang dirasakan masyarakat. Misalnya warung nasi atau restoran yang menjajakan dagangan disamping jalan yang biasa dilalui dulu sebelum adanya jalan tol. 

Dengan nilai investasi sebesar Rp. 538 Triliun menurut data dari Kementrian Keuangan Indonesia, mega Proyek Jalan Tol Trans Sumatera ini direncanakan membentang dari bagian Selatan hingga ujung Pulau Sumatera dan di targetkan akan beroperasi secara penuh pada 2024 mendatang. Namun hal itu diprediksikan tidak akan bisa dengan mudah tercapai. Mengingat kita masih menghadapi kendala pandemi Covid-19, yang berakibat pada tersedotnya dana untuk mengatasi pandemi.