Novita Tandry, Berburu Tumble Tots Sampai ke London |
| Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,6/task,userProfile/user,62/">Administrator</a> | |||||
| Kamis, 22 Januari 2009 18:19 | |||||
Wanita kelahiran Kendari, 9 Maret 1971, ini terbilang nekad. Di usia 20 tahun, ia sudah ngotot melamar jadi Master Franchise lembaga pendidikan anak Tumble Tots (TT). Meski awalnya tak dilirik sebelah mata pun oleh manajemen TT yang berpusat di Inggris, lulusan Psikologi Universitas New South Wales, Australia, ini tak menyerah. Kini 48 cabang TT dengan 5 ribu siswanya telah tersebar di seluruh Indonesia.
Kapan sih, tepatnya Anda buka TT? Makanya, jarak usia Joel dan adiknya, Joelle Joscelyne Joviana (8), lumayan jauh, 8 tahun. Itu supaya semua kebutuhan masa golden ages mereka bisa terpenuhi. Jadi saya benar-benar fokus, dari pagi sampai bikin PR, saya yang mendampingi. Tapi seiring berjalannya waktu, kok, bosan juga. Kebetulan saya suka dunia anak. Saya ingin kerja, tapi enggak tahu mau ngapain. Saya juga enggak mau ninggalin anak. Akhirnya saya coba ke TT. Kebetulan, anak pertama saya masuk TT juga di Singapura. Prosesnya bagaimana? Saya kemudian coba kejar Managing Director TT Internationalnya ke London, tapi enggak mau ketemu. Beliau seorang ibu, usianya lebih tua 2 tahun dari ibu saya. Jadi pantas kalau ia menganggap saya anak ingusan. Kebetulan, waktu itu saya masih nganggur, jadi punya banyak waktu. Meskipun enggak dianggap, saya terus kejar. Akhirnya, setelah ngikutin ke Bangkok, Malaysia sampai balik lagi ke Singapura, barulah saya ketemu. Setelah ngobrol, beliau memberi kesempatan saya mencoba buka 1 cabang. Tidak sebagai master franchise, tapi hanya sub lisensi. Saya dikasih waktu 2 tahun. Kalau enggak bisa berkembang, ya, tutup. Ternyata dalam 2 tahun, dari target membuka 2, saya malah bisa buka 3 cabang. Kenapa memilih TT? Kedua, penerapan disiplin di TT juga sangat bagus. Ketiga, di TT, semua guru dipanggil dengan Auntie dan Uncle. Sementara di sekolah sejenis, guru dipanggil namanya langsung. Bayangkan, anak usia 3 tahun panggil guru dengan namanya, tanpa embel-embel Pak atau Bu. Kalau di sini kan, masih janggal. Tapi, kurikulum TT tetap saya mix n match-kan dengan kultur di sini. Kurikulum yang tidak sesuai dengan kultur kita, saya sesuaikan. Background pendidikan psikologi yang saya punyai juga banyak membantu. Ada alasan lain? Di TT, mulai usia 6 bulan, karena di usia itu anak dianggap sudah cukup siap menerima info dan stimulasi dari orang yang paling dekat dengan dia, yaitu orangtua. Bukan pengasuh, baby sitter, atau orang lain ya, tapi orangtua. Nah, itu yang membuat saya tertarik ke TT. Itu sebabnya di TT ada kelas untuk anak 6 bulan, ya? Ternyata, dari sebuah penelitian ditemukan bahwa konsentrasi belajar di usia sekolah berbeda antara anak yang merangkak dengan yang tidak melewati proses merangkak. Pusat saraf (spinal bone) kita ada di bagian belakang tubuh. Nah, kalau terjadi kerusakan di sana, maka semua fungsi yang menopang tubuh kita akan ikut rusak. Salah satunya adalah saraf yang berkaitan dengan konsentrasi belajar. Merangkak akan memperkuat seluruh tubuh sampai ke jaringan otak. Itulah sebabnya salah satu terapi untuk anak penderita cerebral palsy (brain injured) adalah dengan proses merangkak dan merayap. Padahal yang terkena adalah otaknya. Tak jarang, banyak dokter yang memberi terapi CP mengirim pasien ke TT untuk memperbaiki sel-sel saraf yang rusak. Sekarang ada berapa cabang di seluruh Indonesia? Sebenarnya mana yang lebih penting, kualitas atau kuantitas? Kembali ke TT, apa resepnya hingga bisa berkembang pesat? Saya memang ingin ada lebih banyak anak yang bisa ditampung di TT, ada lebih banyak orangtua yang mengerti bagaimana membesarkan anak, baik secara fisik dan mental. Kebanyakan orang tua kan, masih belum mengerti bahwa usia 0-5 tahun adalah usia krusial anak. Jadi, pendampingan orang tua itu sangat penting. Paling tidak, kita selalu meng-encourage orangtua untuk mendampingi anak. Masak dalam satu minggu enggak ada waktu untuk anak? Terbayang enggak, 70 persen dari karakter manusia dibentuk di usia 0-5 tahun. Semua pengalaman traumatis yang kita alami, baik maupun jelek, pasti berasal dari masa kecil. Contoh gampang, guru yang paling kita sebelin pasti kita inget sampai dewasa. Itu enggak bisa hilang. Selain di kelas, kegiatan di TT apa saja? Untuk orangtua, kita sediakan communication book. Jadi ada komunikasi dengan orangtua. Kita juga adakan semacam family gathering. Di situ kita lihat seberapa jauh peran aktif orangtua dalam perkembangan anak. Ke depannya, apa rencana buat TT? Selain TT, Anda juga master franchise usaha kecantikan Quick Cut (QC) dari Jepang. Kok, agak jauh ya, dari dunia pendidikan? Bagaimana cara Anda membagi waktu dengan keluarga? Apa biasanya kegiatan Anda bersama keluarga?
Sumber : Kompas.com
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
Login
CB Login
Who's The Star
Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ... Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010 |
Build Your Dream (BYD) : Wang ChuanfuTanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang... Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010 |
Marni: Pengrajin Sulam Usus LampungManusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su... Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010 |
Wanita kelahiran Kendari, 9 Maret 1971, ini terbilang nekad. Di usia 20 tahun, ia sudah ngotot melamar jadi Master Franchise lembaga pendidikan anak Tumble Tots (TT). Meski awalnya tak dilirik sebelah mata pun oleh manajemen TT yang berpusat di Inggris, lulusan Psikologi Universitas New South Wales, Australia, ini tak menyerah. Kini 48 cabang TT dengan 5 ribu siswanya telah tersebar di seluruh Indonesia.
