Kadek Eka Citrawati : Bali Alus |
| Sabtu, 07 Februari 2009 08:31 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Awal mula membangun Bali Alus? Lalu? Apa jenis produk pertama yang Anda buat? Apalagi, saya melakukan semuanya sendiri, mulai dari riset, mencari bahan, meramu, eksperimen, sampai tes produk. Makanya butuh waktu lama, bertahun-tahun, baru saya bisa membuat produk yang layak pakai. Yang juga bikin lama, saya berkeras semua bahan serba tradisional dan asli. Saya ingin produk saya alami dan natural. Misalnya membuat sabun, saya benar-benar dari minyak kelapa murni tanpa campuran bahan kimia sedikit pun. Berapa lama Anda harus bereksperimen hingga menemukan formula ramuan yang pas hingga bisa menghasilkan produk jadi? Kabarnya, latar belakang Anda tidak ada hubungannya dengan produk kecantikan ya? Jadi saya cuma mengandalkan kekuatan sendiri dan belajar otodidak dalam semua hal. Internet dan buku-buku adalah alat utama saya mencari ilmu tentang pembuatan produk perawatan tubuh. Sama sekali tanpa bantuan tenaga ahli? Dulu, nenek membuat boreh dari campuran beras, jahe, cengkeh, diulek hingga menjadi pasta. Ini menginspirasi saya. Dengan bahan yang sama, tapi dimodifikasi dengan bengkuang, jadilah lulur scrub ala Bali Alus yang bisa memutihkan kulit. Jadi mulanya saya murni otodidak. Tapi, setelah lulus kuliah dan fokus dengan Bali Alus, saya mulai mencari pengetahuan tambahan dengan belajar pada ahlinya. Saya sampai mendatangkan tenaga ahli dari Belanda. Beliau saya kontak lewat internet. Jauh-jauh datang ke Bali hanya untuk mengajari saya. Produk seperti apa sih yang sebenarnya ingin Anda buat hingga mau repot-repot begitu? Saya juga berusaha semaksimal mungkin agar produk saya memenuhi standar kualitas produk kecantikan luar yang sudah mendunia. Tujuannya tentu supaya orang luar juga mau pakai produk saya. Target saya bukan cuma pasar Indonesia. Anda begitu optimis. Apa pasar untuk produk perawatan tubuh memang menjanjikan? Saya juga optimis mengembangkan usaha ini karena melihat sekitar saya. Di Bali ada banyak sekali hotel dan tempat peristirahatan yang menyediakan fasilitas spa dan perawatan tubuh. Jadi, enggak usah jauh-jauh dulu, cukup menawarkan produk saya ke berbagai hotel dan spa yang ada di Bali. Itu yang Anda lakukan dalam memperkenalkan produk Anda pertama kali? Saya memilih yang pertama. Makanya saya pilih model pemasaran yang simpel. Saya datangi hotel-hotel, salon, serta spa di seputar Bali, saya tawarkan mereka untuk memakai produk lulur scrub saya. Tentu saja gratis. Ini saya maksudkan juga sebagai uji coba, apakah konsumen menyukai produk saya. Bagaimana sambutan awal? Selanjutnya? Maksudnya? Akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi melakukan penjualan langsung. Karena itu saya juga tidak mau membuka toko, outlet, atau gerai. Semua produk Bali Alus hanya tersedia di workshop saya. Supplier yang mengambil atau membelinya dari saya, selanjutnya mereka menjual produk saya ke konsumen. Yang unik, saya tidak mengikat para supplier ini dengan harga khusus. Mereka bebas menjual produk dengan harga berapa saja. Tapi tentu supplier yang memberi harga termurah akan lebih laku jualannya, kan. Jadi biar mereka bersaing secara sehat. Berarti Anda tidak menjual produk Bali Alus secara eceran? Yang menyenangkan, biasanya setelah pulang ke kota masing-masing dan mencoba produk saya, mereka akhirnya tertarik untuk memasarkan Bali Alus di kotanya. Jadilah sekarang agen-agen Bali Alus sudah tersebar di banyak kota besar di seluruh Indonesia. Akhirnya tanpa sengaja saya menemukan cara membesarkan brand saya secara gratis. Yang unik juga, karena Bali banyak didatangi turis, produk saya pun sampai ke luar negeri. Sama dengan turis Indonesia, mula-mula mereka beli untuk konsumsi sendiri. Setelah pulang ke negaranya, ada yang memesan untuk dijual lagi. Yang saya tahu Bali Alus sudah sampai di Korea, India, Singapura, dan Malaysia. Ada cara lain mengenalkan Bali Alus pada khalayak? Lewat iklan mungkin? Anda jalan sendiri? Ngomong-ngomong, berapa sih modal yang Anda keluarkan saat pertama kali merintis Bali Alus? Saat ini, produk Bali Alus mencakup apa saja? Apa kendala yang masih Anda temui? Ya, gara-gara ingin produk Bali Alus benar-benar alami, jadilah saya menggunakan semua bahan baku asli tumbuh-tumbuhan, bukan sintetis. Akhirnya, produk Bali Alus enggak bisa awet dalam jangka waktu panjang. Setelah berbagai cara saya lakukan, dioven berulang kali, maksimal produk Bali Alus bisa disimpan 8 bulan. Mengapa harus bahan baku asli? Berarti Anda menggaransi Bali Alus bebas bahan kimia? Hanya lavender yang saya tidak bisa tanam sendiri. Sudah pernah saya coba, tapi gagal. Jadi satu-satunya produk yang saya tidak bisa jamin keasliannya adalah produk dengan wangi lavender. Karena untuk lavender saya gunakan minyak atau esens lavender yang saya impor dari luar. Buah stroberi enggak bisa halus meski sudah digiling. Tetap kasar karena ada biji-bijinya. Selain itu, dari wanginya juga kita bisa tahu tingkat keaslian bahan baku. (Memang, lulur scrub stroberi buatan Kadek begitu terasa wangi stroberinya hingga mampu menerbitkan air liur. Begitu pula dengan lulur scrub cokelatnya). Sekarang Anda dibantu berapa karyawan? Apa sih obsesi Anda? Terakhir, bagaimana dukungan suami dan anak-anak?
Bali Alus
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||
Login
CB Login
Who's The Star
Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ... Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010 |
Build Your Dream (BYD) : Wang ChuanfuTanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang... Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010 |
Marni: Pengrajin Sulam Usus LampungManusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su... Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010 |
Berani mengambil jalur yang berbeda, Kadek Eka Citrawati (31) harus berpeluh membangun bisnis produk perawatan tubuhnya dari nol. Namun, kerja keras perempuan kelahiran 18 Agustus 1977 ini berbuah manis.