Setelah berbulan-bulan tak terdengar aktivitas bisnisnya, pada Kamis, 18 Desember 2008, Ilham Akbar Habibie hadir di ruang rapat PT Krakatau Steel, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Ilham muncul ke muka publik untuk menandatangi perjanjian usaha patungan antara perusahaannya, PT Mitra Investasi Artaperdana (MIA), dan Dana Pensiun Krakatau Steel (DPKS). Kerja sama MIA-DPKS tersebut melahirkan PT Krakatau Ilthabi Adhijaya (KIA), pabrik pig iron berkapasitas 300.000 ton/tahun.
Inilah mainan terbaru putra sulung Presiden Republik Indonesia ke-3, B.J Habibie, itu. “Kami tertarik masuk ke bisnis ini karena pasarnya jelas, Krakatau Steel,'“ ujar Dirut MIA yang lahir dan bersekolah sampai tingkat doktoral di Jerman itu.
Pig iron atau logam panas yang menjadi barang dagangan Ilham kali ini adalah bahan baku pembuat baja. Untuk membuat pig iron, KIA menggunakan teknologi Oxycup yang berasal dari Kuttner dan Thyssen Krupp, Jerman. Pabrik yang keenam di dunia dalam penggunaan teknologi Oxycup ini dirancang menggunakan konsep nir limbah (zero waste concept). Bahan baku pembuatnya akan menggunakan limbah-limbah pabrik baja yang ditambahkan dengan iron ore, iron sand dan scrap. Ilham mengklaim semua bahan baku bisa didapat dari sumber domestik, seperti limbah dari Krakatau Steel.
“Teknologi ini juga akan menjawab permasalahan terkait pemanfaatan bijih besi lokal yang mayoritas mempunyai kadar Fe yang tidak begitu tinggi serta membuat pabrik-pabrik baja di Indonesia menjadi lebih ramah lingkungan dengan zero waste concept,” papar Aluguro Mulyowahyudi, Direktur Pengembangan Ussaha DPKS.
Produk jadi dari pabrik yang dibangun satu kompleks dengan pabrik Krakatau Steel di Cilegon ini lantas akan ditransfer langsung ke dapur elektrik Krakatau Steel. “Manfaat bagi Krakatau Steel adalah mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor yang nilainya mencapai sekitar Rp 300 miliar/tahun,” ujar Fazwar Bujang, Dirut Krakatau Steel seraya menyebutkan, pihak Ilham-lah yang mendekati DPKS terlebih dulu.
Herman Husodo selaku Dirut DPKS yang mengelola Rp 1,26 triliun dana pensiun karyawan KS juga merasa proyek ini layak direalisasi. “Kami harap ini bisa meningkatkan manfaat pensiun bagi karyawan. Selain itu, potensinya jelas, kami bisa mendapat material dari Krakatau Steel serta menyuplai hasilnya ke Krakatau Steel juga,” tutur Herman.
Miranti Handajani Serad, salah satu direktur MIA, menjelaskan, untuk menjadi negara industri yang kuat, Indonesia membutuhkan baja sebagai bahan dasar produk-produk yang akan dihasilkannya. Maka, keberadaan KIA diharapkan dapat memberikan sumbangan bahan baku dalam proses industrialisasi. “Di samping itu, mengingat proses yang digunakan pabrik ini ramah lingkungan, pembangunan pabrik ini pun diharapkan dapat memicu tumbuhnya industri-industri yang ramah lingkungan di sekelilingnya,” kata Miranti.
Menurut Ilham, pabrik yang menelan biaya sekitar Rp 780 miliar ini akan dibangun dalam waktu 18 bulan dengan masa pengembalian investasi (payback period) sekitar empat tahun. “Dananya 60% dari DPKS dan sisanya dari MIA. Kami sendiri akan mencari pendanaan untuk membiayai bagian kami yang sebesar Rp 312 miliar. Kami sedang menimbang-nimbang apakah akan meminjam bank atau dari yang lain,” ujarnya. Ilham juga optimistis dengan payback period yang „hanya“ empat tahun. “Kami punya hitung-hitungan sendiri,” katanya tanpa merasa dirinya kelewat pede dengan kalkulasi tersebut.
Ilham berpendapat, pertaruhannya di bidang baja kali ini masih sesuai dengan bisnis intinya, sumber daya alam. “Saya sendiri tidak pernah masuk ke bisnis macam-macam. Hanya bergerak di bidang sumber daya alam. Ada perusahaan batu bara di Kutai Kartanegara, PT Ilthabi Bara Utama, namun memang belum banyak berproduksi. Ada juga pertambangan kaolin dan beberapa pertambangan lainnya,” ujar Ilham yang mengelak ketika diajak berbicara soal omset perusahaan-perusahaannya.
Pria yang setiap akhir pekan berkumpul bersama istri dan ketiga anaknya di Bandung itu mengaku dalam berbisnis selalu melihat kesempatan yang menguntungkan sambil terus menjaga kompetensi intinya. Menurut rekan kerjanya, Miranti, dua kualitas yang sangat menonjol dari Ilham adalah sikapnya yang rendah hati dan kecerdasannya. “Dua hal itu yang membuatnya mudah masuk ke mana-mana,” kata Miranti.
Diam-diam, bisnis kelahiran Jerman 1963 ini memang terus membesar. Melalui holding usahanya, PT Ilthabi Rekatama, yang berkantor di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Ilham menaungi lebih dari 10 perusahaan yang membidangi mulai dari asuransi umum, pertambangan batu bara, pertambangan kaolin, eksplorasi minyak dan gas, trading, suku cadang pesawat terbang sampai obat-obatan herbal. Sebagian bisnisnya berupa penyertaan saham.