Desainer Bertangan Emas

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,44/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Kamis, 26 November 2009 06:41
rinaldy_a_yunardiDia itu bertangan emas," demikian komentar Eddy Betty, desainer papan atas Indonesia. Komentar ini ditujukan kepada Rinaldy Arvianto Yunardy, desainer aksesori kondang di Tanah Air. “Rinaldy bisa membuat semua bahan yang ada di tangannya menjadi berbagai karya seni yang artistik,” kata Eddy. Ia mencontohkan performance terakhir Rinaldy yang tampil menggunakan lampu-lampu pada beragam aksesori karyanya yang sangat unik dan artistik. "Awalnya ia mengerjakan aksesori pesanan klien, sekarang ia sudah bisa membuat karya sendiri," imbuh Eddy yang mengenal Rinaldy sejak 15 tahun lampau.

Di jagat fashion, sosok Rinaldy yang akrab disapa Yunyun memang sudah sangat populer. Lebih dari sedasawarsa, ia ikut andil menyemarakkan pangung-panggung perhelatan peragaan busana. Hampir semua desainer top kerap berkolaborasi dengan Yunyun. Selain Eddy Betty, Sebastian Gunawan, Didi Budiarjo, Widhi Budhi Mulia dan desainer papan atas lainnya juga sering menggandeng Yunyun dalam berbagai peragaan busana. "Waktu itu, di Indonesia belum ada desainer aksesori. Biasanya sebelum show, desainer-desainer fashion itu harus keliling dulu ke luar negeri untuk mencari aksesori yang tepat untuk show-nya. Mungkin, saya bisa mengisi kekosongan itu," kata Yunyun merendah.

Karya Yunyun juga diminati beberapa artis papan atas Indonesia seperti Titi DJ, Melly Goeslaw, Dewi Sandra dan Krisdayanti. Biasanya, artis-artis ini datang kepadanya untuk memesan aksesori sesuai dengan kebutuhan show mereka. Belum lama ini, Yunyun mengaku, penyanyi Conny Constantia juga memesan aksesorinya untuk syuting videoklip lagu terbarunya.

Tak mengantongi pendidikan khusus di bidang desain tak menghalangi Yunyun untuk berkiprah di bisnis fashion. Dengan kemauan keras dan otodidak, ia mengembangkan desain aksesorinya. "Dulu saya tidak bisa menggambar. Sekarang sudah bisa membuat desain-desain dari gambaran yang ada di kepala saya," tuturnya. Namun sejatinya, dunia seni tak jauh dari hidupnya. Ibunya adalah pembuat bunga dari kertas krep, sedangkan ayahnya seorang pembuat tas anak-anak. Bungsu dari tiga bersaudara ini juga suka sekali pada segala sesuatu yang glamor, extravaganza, couture dan unik.

Setamat SMA pada 1990, Yunyun memutuskan langsung bekerja. "Saya tidak terlalu suka belajar," ungkapnya. Lajang kelahiran 13 Desember 1970 ini kemudian bekerja di perusahaan milik kakaknya. Ia juga sempat bekerja di perusahaan ban. Pergulatannya dengan dunia aksesori dimulai saat ia berkenalan dengan desainer gaun pengantin kenamaan, Kim Tong, yang menawarinya pekerjaan sebagai tenaga pemasaran. Saat itulah ia kerap bolak-balik menawarkan berbagai aksesori, termasuk kepada beberapa desainer busana seperti Sebastian Gunawan dan Eddy Betty.

Bekerja di Kim Tong menjadi titik awal perjalanannya hingga pencapaiannya saat ini. Hanya setahun di Kim Tong, ia kembali bergabung dengan perusahaan kakaknya, produsen barang elektronik. Di sela-sela waktu istirahat, ia mulai membuat beberapa aksesori sederhana dengan menggunakan materi yang dibelinya sendiri. "Saya coba-coba eksperimen. Eh, ternyata saya bisa," ujar Yunyun mengenang.

Ia pun kian tertantang untuk menggunakan bahan kristal Swarovski hingga berhasil membuat tiga mahkota (crown) yang dijualnya seharga Rp 75-100 ribu kepada beberapa teman dekatnya. Mula-mula, tahun 1997, ia mempekerjakan dua karyawan dan hanya membidik teman-teman dekatnya. Seiring dengan bertambahnya pesanan, ia menambah tiga karyawan lagi dan menyewa ruko di depan rumahnya yang disulap menjadi bengkel kerja (workshop). Saat ini, ia mempekerjakan sekitar 50 karyawan.

Hubungan dengan para desainer Indonesia yang pernah terjalin saat memasarkan produk-produk Kim Tong dimanfaatkannya untuk memperkenalkan karyanya. Kebetulan, karyanya juga disukai para desainer ini. Kolaborasi demi kolaborasi show dilakoninya bersama para desainer ini hingga sekarang. Selain mahkota, ia membuat aksesori seperti kalung, cincin, gelang dan tas. Karya-karyanya terbuat dari kawat, kristal, plat, batu alam, semi-precious stone dan American diamond yang diimpornya dari luar negeri seperti Prancis, Cina, Hong Kong dan Thailand. Tidak mengherankan, sebagian besar peminat karya Yunyun yang harganya dibanderol pada kisaran Rp 500 ribu sampai puluhan juta rupiah ini berasal dari kalangan menengah-atas.

Menurut Yunyun, kebanyakan pelanggannya datang untuk memesan karyanya secara eksklusif. Misalnya, calon pengantin yang ingin memesan mahkota atau aksesori lainnya khusus untuk hari pernikahan. Karena itu, untuk menghasilkan sebuah karya, ia harus mendiskusikan semua ekspektasi pelanggan. Dengan demikian, ia bisa mendapatkan gambaran tentang aksesori yang diinginkan pelanggan. Ia mengaku mendapat inspirasi desain kapan saja. "Bisa saja, pas duduk-duduk begini, tiba-tiba melihat sesuatu yang menarik, ya langsung digambar desainnya. Kalau ditunda-tunda, feel-nya sudah berbeda dan akan ada juga pekerjaan yang tertunda."

Meski pasarnya sudah meluas, Yunyun mengaku masih enggan membuka cabang dan merambah pasar ekspor. "Showroom dan workshop ini saya buat di satu tempat biar efektif dan efisien," katanya. Menurutnya, membuka ruang pajang khusus tidak akan membantu banyak karena pelanggan biasa mencarinya untuk berkonsultasi sebelum memesan. "Kalau ada dua tempat saja, ya saya tidak bisa melayani konsultasi sekaligus melihat-lihat bengkel setiap hari. Sehari atau dua hari saja ditinggalkan, pekerjaan di workshop pasti menumpuk," ujarnya. Selama ini, ia hanya memajang beberapa produknya di butik Sebastian di Grand Indonesia dan Plaza Senayan yang menjadi aksesori pendukung gaun karya Sebastian. Satu-satunya ruang pajang Yunyun terletak di Jalan Gedong Panjang.

Yunyun juga tak terlalu berminat go international karena hal itu dinilainya menuntut komitmen yang besar untuk bisa memenuhi pesanan. "Untuk memenuhi pesanan dalam negeri dan stok saja, saya sudah kewalahan," tutur Yunyun sembari menyebut karyanya sebagai karya seni yang tidak bisa dibuat secara massal.

Ekspansinya justru pada produk. Tahun lalu, Yunyun mulai merambah industri pembuatan lampu hias. "Ini atas permintaan pelanggan," katanya. Lampu hias ini pula yang diluncurkannya pada Bazar Concerto tahun ini, yang dijualnya dari harga Rp 2,5 juta hingga puluhan juta rupiah. Sejak awal, ia mengaku selalu tertantang oleh masukan dari para pelanggan dan mitranya. "Jika ada satu masukan desain baru, saya selalu mikir bagaimana mengeksekusinya. Pasti bisa," ujarnya. Belakangan, ia juga mulai tertarik pada benda-benda artistik seperti batu atau patung karena permintaan seorang pelanggannya. Namun, niat itu disimpan rapat karena masih ingin fokus pada aksesori dan lampu hias.

Di mata Sebastian, Yunyun adalah sosok yang ulet dan selalu ingin maju. Ini terlihat dari sikapnya yang mau bekerja sama dan mendengar pendapat orang lain. "Dia itu orang yang punya kemauan tinggi untuk maju," katanya tegas sambil menambahkan, ide-ide Yunyun tak pernah habis.***

 

 

Sumber: Swa.co.id

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Links

feed image