|
Museum Rekor Indonesia (MURI) belum lama ini mengumumkan terpilihnya Jimmy Gani sebagai direktur utama BUMN termuda di Indonesia. Lelaki kelahiran 15 September 1972 ini dilantik sebagai Chief Executive Officer PT Sarinah (Persero) pada 15 Mei 2009. Pelantikan itu menjadikannya CEO BUMN termuda dalam sejarah perusahaan pelat merah di Indonesia. Maklum, saat itu usianya 36 tahun 8 bulan.
Siapa sebenarnya Jimmy Gani? Sebegitu hebatkah sehingga pemerintah berani mengangkatnya sebagai CEO dalam usia semuda itu? Orang yang kenal dekat tentu mengamini dia layak menduduki posisi itu. Mantan Presiden Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) San Francisco ini punya jam terbang memadai di dunia bisnis. Selulus S-2 dari San Francisco State University, Jimmy menetap dan bekerja tiga tahun di Negeri Abang Sam. Dia berkarier di sebuah perusahaan swasta skala menengah di San Francisco. Karena berprestasi, dia pun ditawari sebagai chief financial officer anak perusahaan itu di Indonesia. Dua tahun sebagai CFO, lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung, ini kemudian memperkaya pengalamannya dengan memasuki perusahaan konsultan produktivitas terbesar di dunia. Tugasnya, membantu pembenahan operasional perusahaan yang menjadi klien. Sebagai konsultan, ia menangani banyak proyek lintasnegara atas klien-klien kakap: Matsushita, Hitachi dan beberapa perusahaan besar dari AS, Singapura, Malaysia dan Filipina. Berkat prestasinya pula, dia dipercaya sebagai vice president wilayah Asia Pasifik. “Hidup saya saat itu lebih banyak di pesawat daripada di rumah,” katanya mengenang seraya senyum. Pengalaman kerja itu membuat Jimmy percaya diri untuk mendirikan perusahaan konsultan sejenis. Maka pada 6 Januari 2003 dia pun mengibarkan Proven Force Indonesia (PFI), yang bertujuan membantu perusahaan di Indonesia dalam meningkatkan kinerja dan restrukturisasi organisasi. Kini, 6 tahun berjalan, PFI telah mendapatkan kepercayaan dari lusinan perusahaan asing dan lokal ternama di Tanah Air, mulai dari Frisian Flag Indonesia, Bentoel, Alcan Packaging, Grup Indorama, Grup Medco, Hitachi, Dupont, Chubbs, Grup Tempo, Tip Top, Indolok hingga Grup Lautan Luas. PFI pun kian berkembang, memiliki empat unit usaha dengan hampir 1.000 karyawan dan pendapatan jutaan US$ per tahun. “Sekarang PFI lebih banyak dijalankan orang-orang kepercayaan saya. Saya lebih banyak di belakang layar,” ujarnya. Karena dianggap berpengalaman “mengobati” perusahaan sakit, diam-diam ada kawannya yang memasukkan nama Jimmy dalam kandidat peserta fit & proper test untuk jadi pemimpin beberapa BUMN yang dilaksanakan Kementerian Negara BUMN. Dan betul saja, kepiawaiannya mengantarkannya terpilih setelah mengalahkan beberapa kandidat lain. Dia pun ditempatkan di Sarinah yang saat itu posisi puncaknya lowong. Jelas, itu sebuah tantangan besar. “Jika boleh saya katakan, kini Sarinah tenggelam, apalagi dibanding ritel lain yang agresif berekspansi. Saat ini kami hanya memiliki lima outlet. Kami tidak bisa serta-merta bersaing langsung dengan peritel yang sudah well established. Tapi harus menemukan titik di mana kami bisa bersaing, yakni menjadi speciality store dengan mengedepankan keanekaragaman Indonesia sebagai jati diri Sarinah,” papar Jimmy yang melihat Sarinah unik karena merupakan satu-satunya BUMN yang didirikan dan diberi nama langsung oleh Bung Karno. Lantas, apa rencananya untuk Sarinah? Jimmy ingin menjadikan Sarinah sebagai department store yang punya keunikan produk dan menyasar niche market. Sarinah akan dijadikan sebagai tempat berbelanja wisatawan asing ataupun konsumen lokal yang butuh produk-produk kerajinan Indonesia. Selain itu, juga menawarkan produk fahion untuk segmen yang mencari nilai tambah (value added), bukan sekadar harga murah atau diskon. Untuk menopang rencananya, sejumlah strategi telah disiapkan. Di antaranya: mengadakan showcase of Indonesian product agar roh keindonesiaan Sarinah lebih kelihatan. “Itu advantage bagi Sarinah karena sejak dulu memang terkenal dengan handicraft product-nya, apalagi untuk konsumen asing,” kata Jimmy. Saat ini Sarinah mencanangkan program “Little Indonesian Exhibition” yang tergabung dalam tema besar Experiencing Colorful Indonesia di mana setiap provinsi bisa mengadakan pameran mengenai daerahnya – baik fashion, kerajinan maupun kuliner yang dibarengi show kebudayaan. Sarinah ingin menggarap segmen konsumen asing yang saat ini belum terlalu signifikan diperoleh. Di luar hal di atas, Jimmy juga berencana menaruh iklan dan pemberitaan mengenai Sarinah di inflight magazine, membuat showcase Sarinah di bandara dan memberikan fasilitas call toll free bagi mereka. Selain itu, di hotel-hotel, Sarinah akan menyediakan pelayanan penjemputan, yang terdiri atas dua macam servis: individual service dan umum dengan shuttle bus. Kapan target pembenahan tercapai? “Saya bukan orang yang muluk-muluk. Tahun ini kami fokus pada pembenahan fisik yang mungkin selesai dua tahun lagi. Saya rasa pada 2011 kami siap take off dan mencapai target itu. Jika berhasil di Jakarta, konsep tersebut akan kami replika dengan melakukan ekspansi ke beberapa daerah di Indonesia,” kata Jimmy. Yang jelas, untuk pembenahan PT Sarinah (Persero), dia sudah menyiapkan Road Map Sarinah 2009-13 yang terbagi dalam lima tahap: konsolidasi (2009-10), the year of improvement perfomance (2010-11), the year of growth (2011-12), the year of expansion (2012-13), dan the year of excellence (2013- dan seterusnya). “Saat ini kami sedang melakukan konsolidasi semua aset, reputasi, sistem dan karyawan,” ujar ayah tiga anak ini. Budi Soetjipto melihat Jimmy sebagai sosok yang punya pengalaman, kemampuan dan keahlian dalam membenahi perusahaan. Hanya saja, dia juga masih bertanya-tanya apakah kemampuan dan keahlian tadi memadai untuk menyembuhkan PT Sarinah. “Seperti kita tahu, BUMN itu banyak ribetnya. Mulai dari banyak pihak yang bertindak seolah-olah sebagai pemilik (mau mengatur, banyak permintaan, dsb.) hingga adanya berbagai peraturan yang membelenggu. Secara internal, BUMN biasanya punya penyakit serupa, yaitu kebanyakan pegawai, etos kerja rendah, sistem yang tidak berdasarkan merit,” kata pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu panjang lebar. Belum lagi Sarinah harus menghadapi persaingan superketat dan global. Banyak pemain besar mancanegara yang masuk ke pasar ritel. Ada Sogo, Metro, Seibu, dll. Lalu, ada pula pemain lokal semacam Matahari dan Pasaraya Grande. “Di antara kerumunan tadi, PT Sarinah mau diposisikan di mana? Menurut saya, branding amat penting karena akan menggerakkan konsumen untuk paling tidak berkunjung,” ujar Budi. Mengacu pada gagasan Bung Karno, Sarinah bukan dimaksudkan sebagai Sogo, Metro atau Seibu, mungkin lebih menekankan pada promosi dan penjualan produk dalam negeri. “Sarinah harus punya sourcing kuat untuk mendapatkan barang-barang lokal yang dapat dijual dengan margin memadai. Seharusnya Sarinah juga bisa sebagai EO (event organizer) seperti Inacraft dan Debindo,” katanya mengusulkan. Usulan yang mungkin layak didengar Jimmy, anak muda di pucuk Sarinah.
Sumber: Swa.co.id
|