Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,6/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Sabtu, 06 Februari 2010 01:26
Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan kekayaan 21,3 miliar dollar AS.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, artinya kekayaan Li Ka-Shing mengalami lonjakan hebat. Forbes mencatat, sepanjang tahun lalu kekayaan Li Ka-Shing naik sebesar 5 miliar dollar AS.

Forbes juga menyebutkan, total kekayaan 40 orang terkaya di Hongkong tahun 2009 lalu membengkak dan telah mencapai 135 miliar dollar AS atau naik sekitar 82 miliar dollar AS dari tahun lalu. Forbes tak mencatat satu pun dari 40 orang terkaya itu yang mengalami penyusutan kekayaan.

Sebagian besar lonjakan kekayaan 40 orang tajir di Hongkong itu, antara lain, karena menggelembungnya investasi properti mereka di China.

Adapun delapan orang kaya baru yang masuk 40 besar orang kaya Hongkong antara lain Allan Wong, salah seorang pendiri Vtech Holdings Ltd, pembuat telepon cordless dan mainan pendidikan elektronik. Lalu, Tang Chien Hsiang yang merupakan ayah Hongkong Chief Secretary for Administration Henry Tang Ying Yen. Juga Harindarpal Banga, Wakil Chairman Noble Group Ltd. (Syamsul Ashar/Kontan)
 

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,6/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Kamis, 21 Januari 2010 07:53
Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang Warren Buffett tak segan berinvestasi di perusahaan yang dia dirikan?

Ke mana Warren Buffett bergerak, ke sana para investor menyerbu. Di tengah kerugian besar, US$ 1,53 miliar pada kuartal I/2009, yang menimpa Berkshire Hathaway Corporation, “Efek Buffett” ini ternyata tak kehilangan daya. Buktinya, hanya dalam bilangan minggu sejak sang Peramal dari Omaha mengumumkan akuisisi 9,9% saham BYD Company Limited pada akhir September lalu, pemilik perusahaan yang didirikan pada Februari ini berkibar di puncak Hurun List — daftar peringkat orang terkaya Cina. Padahal, dalam daftar yang sama pada 2008, Wang Chuanfu yang menguasai 28% saham BYD Co. cuma bertengger di posisi ke-102.

Asal tahu saja, menurut versi Hurun (akhir September 2009) ini, Efek Buffett telah menyebabkan kekayaan Wang meroket jadi US$ 5,1 miliar dari hanya US$ 880 juta pada setahun sebelumnya. Sementara itu, menurut versi Forbes (yang didasarkan pada nilai saham BYD per 16 Oktober), masuknya Buffett menyebabkan nilai saham BYD Co. melejit enam kali lipat. Dengan price-to-earning ratio (PER) yang mencapai 97 (dihitung dari laba bersih pada 2008), saham yang di Bursa Efek Hong Kong dikenal dengan nomor kode 1211 itu membuat kekayaan Wang menggelembung jadi US$ 5,8 miliar dari US$ 1,06 miliar pada tahun sebelumnya.

Buffett, melalui anak perusahaan Berkshire bernama MidAmerican Energy, telah mengumumkan niat membeli 225 juta saham baru BYD senilai HK$ 8/lembar pada tahun lalu. Sejak akhir September 2008 itu, Efek Buffett mulai bekerja. Memasuki 2009, atau hanya dalam tempo kurang dari empat bulan, kekayaan Wang melejit hampir 50% hingga menembus US$ 1,3 miliar. Lalu, itu tadi, dengan keluarnya izin resmi otoritas Cina pada akhir September 2009, aset milik Wang langsung menyalip kekayaan Zhang Yin, pendiri Nine Dragons Paper Holding Ltd., yang US$ 4,9 miliar.

Reputasi Buffett sebagai investor andal telah terbukti. Yang menakjubkan justru Wang yang mampu membuat Buffett melanggar prinsip investasi yang telah mengibarkannya sebagai orang terkaya kedua di dunia dengan kekayaan US$ 37 miliar — hanya kalah dari Bill Gates, pendiri Microsoft yang diperkirakan memiliki aset US$ 40 miliar.

Salah satu prinsip Buffett yang dikenal luas itu adalah: kalau sebuah manajemen dengan reputasi brilian menangani bisnis dengan reputasi ekonomi yang jelek, biasanya reputasi bisnis itulah yang akan utuh (dan bukan tak mungkin membenamkan reputasi manajemen ke dalam lumpur). Prinsip lain, yang membuat Buffett memborong saham Coca-Cola dan McDonald’s ketika nilai saham kedua kampiun industri makanan-minuman tersebut cukup rendah, dia hanya menanamkan dananya di bisnis yang dijalankan oleh orang bego sekalipun. Alasannya? Karena suatu saat kursi manajemen perusahaan itu akan diduduki oleh orang yang tak kelewat pintar.

Ada lagi satu prinsip investasi Buffett yang lebih terkenal: jangan pernah berinvestasi di bisnis yang tak Anda kenal. Ketika Charlie Munger, mitra terpercaya Buffett, mengusulkan Berkshire menanam investasi di BYD — produsen baterai, telepon seluler (ponsel) dan mobil elektrik Cina — yang namanya tidak bunyi, siapa pun bakal menyangka bahwa Buffett akan mengemukakan prinsip ketiga ini. Bukankah dia menutup diri ketika industri teknologi Amerika Serikat booming pada 1990-an?

“Saya nggak mengerti apa-apa tentang ponsel ataupun baterai. Saya juga nggak paham tentang mobil elektrik,” ujar Buffett yang mengaku gaptek, gagap teknologi. Namun, Chairman dan CEO Berkshire yang sekarang berusia 78 tahun itu tertarik dengan penggambaran Munger tentang tokoh di balik BYD. “Orang itu,” ujar Munger, “seperti kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch.”

Wang, pendiri BYD, dikatakan mirip Edison, pendiri General Electric (GE), dalam kemampuannya memecahkan masalah teknis. Dia juga mirip Welch, CEO GE tersukses, karena mampu mengatasi semua hal yang harus dia lakukan. Puji Munger seperti dikutip Majalah Fortune, “Saya nggak pernah lihat orang semacam itu sebelumnya.”

Keluar dari mulut seorang Munger, pujian selangit tersebut sungguh berarti. Maklum, Vice-
Chairman Berkshire yang lima tahun lebih tua dan telah menjadi investor sukses sebelum membesarkan bersama perusahaan yang sahamnya di Bursa Efek New York dikenal sebagai BRKA dan BRKB ini amat-sangat skeptis terhadap ide-ide investasi.

“Kalau saya menelepon Charlie dan menyampaikan ide investasi lalu dia bilang ‘That is really a dumb idea’,” tutur Buffett, “itu berarti Berkshire laik menaruh 100% net worth-nya ke situ. Lalu, kalau dia bilang, ‘That is the dumbest thing I’ve ever heard’, artinya kami sebaiknya hanya menaruh 50% net worth-nya ke situ. Baru, kalau bilang ‘I’m going to have you committed’, berarti dia betul-betuk nggak suka pada ide investasi tadi.”

Ibaratnya, Munger yang juga asli Omaha itu adalah rem yang menjaga Bershire agar tak kebablasan dikemudikan Buffett yang jauh lebih berani main gas itu. Jadi, kalau komentar “itu ide bego” saja sudah bisa diterjemahkan sebagai “ide investasi yang ciamik”, sulit dibayangkan hebatnya Wang di mata Munger. Maka, Buffett segera meminta mitra lain yang juga sangat dia percaya, David Sokol, terbang ke Cina buat melihat sendiri macam apa BYD itu.

Di markas besar BYD yang baru di Shenzhen, sebuah bangunan berwarna perak yang tak kalah modern ketimbang kantor pusat perusahaan Silicon Valley, Sokol dibawa berkeliling melihat “museum” perusahaan yang memamerkan produk dan tonggak pencapaian kampiun industri yang relatif muda usia itu. Setelah itu, Chairman MidAmerican Energy itu, perusahaan utilitas milik Berkshire, dipertemukan dengan Wang di sebuah ruang konferensi.

Duduk berhadapan di seberang meja dengan piring-piring berisi apel, pisang dan tomat ceri
segar, Wang bercerita bahwa dia memulai BYD dengan tujuan sederhana: mengakhiri dominasi Jepang di pasar baterai dalam negeri Cina. “Mengimpor baterai dari Jepang itu mahal,” ujar lelaki kecil berkacamata itu. “Bea masuknya cukup tinggi, dan waktu pengirimannya lama.”

Laiknya pengusaha negara dari negara berkembang, Wang lalu melakukan reverse engineering. Dia mempelajari paten milik Sony dan Sanyo serta membongkar baterai buatan dua samurai industri elektronik Jepang tersebut untuk memahami cara pembuatannya. Sebuah proses yang, menurut pengakuan Wang, “Melibatkan banyak trial and error.”

Wang tak malu mengakui langkah awal bisnisnya yang biasa-biasa saja itu. Buntutnya, Sony dan Sanyo mengajukan tuntutan — yang kalah di pengadilan — bahwa BYD telah melanggar paten milik mereka.

Target awal yang tak kelewat muluk menunjukkan sikap Wang yang realistis sebagai entrepreneur. Berasal dari keluarga petani miskin, kelahiran Wuwei di Provinsi Anhui ini dibesarkan dua kakaknya ketika kedua orang tuanya meninggal. Beruntung, karena brilian, selulus SMU dia bisa kuliah di bidang kimia pada Central South Industrial University of Technology, bahkan pada 1990 menyabet gelar master dari Beijing Non-Ferrous Research Institute.

Setelah itu, Wang muda bekerja sebagai peneliti di lembaga milik pemerintah. Dijalani hanya beberapa tahun, profesi kering ini tak memungkinkannya mengumpulkan kapital ayaupun membentuk jejaring dengan industrialis mancanegara. Sebab itu, ketika ingin mewujudkan impian sebagai pengusaha, langkah paling logis buat Wang yang cuma menguasai masalah teknis adalah masuk ke industri substitusi impor. Dan, sebagai ahli kimia dan teknologi logam nonbesi di Cina yang infrastrukturnya andal, mengambil baterai rechargeable (untuk ponsel) — produk yang volume bisnisnya besar, pertumbuhannya tinggi dan pasarnya mendunia tetapi teknologinya tak begitu rumit — sebagai produk awal adalah pilihan yang cerdas.

Dengan modal seperti itu, ketika melangkah ke dunia bisnis pada usia 29 tahun, mungkin Wang sadar bahwa dia sedang mengejar sesuatu yang jauh, nun di dunia angan-angan. Wang muda mungkin sadar sedang mengejar impian yang, bagi banyak orang (dan dirinya sendiri), terlalu besar sehingga dia menamakan perusahaan yang didirikannya pada Februari 1995 itu Build Your Dreams yang lalu ditampilkan dalam bentuk akronimnya: BYD Company Limited.

Kendati demikian, Wang tak sekadar bermimpi atau berangan-angan. Dia berupaya keras mewujudkan impiannya. Buktinya, dalam tempo tak sampai dua tahun, Juli 1996, BYD Co. sudah meraih sertifikasi ISO 9002 dan, pada Desember 1998 menyabet sertifikasi ISO 9001. Di sisi bisnis, baterai buatan perusahaan asal Shenzhen, Guangdong, yang awalnya hanya bersaing dengan produk Jepang di pasar domestik itu dengan cepat merebut pasar dunia sehingga Wang merasa perlu mendirikan kantor cabang BYD di Uni Eropa (1998) dan AS (1999).

Memasuki 2000, BYD telah mengibarkan diri sebagai perusahaan Cina pertama yang dipercaya Motorola menjadi pemasok baterai Li-ion. Tahun itu juga, BYD mendirikan cabang di negara asal para kampiun industri elekronik high-end dunia: Jepang. Kemudian, pada 2001, BYD menapakkan kaki ke Korea, negeri yang terkenal dengan para kampiun industri elekronik yang, seperti BYD dan perusahaan elektronik Cina lainnya, mengandalkan strategi produksi volume-besar-kualitas-bagus.

Memasuki 2002, BYD menancapkan tonggak pencapaian terbesarnya: menjadi perusahaan Cina pertama yang dipercaya Nokia menjadi pemasok baterai Li-ion. Kepercayaan kampiun industri ponsel terakbar di dunia ini — dan keberhasilan BYD dalam mengembangkan diri sebagai perusahaan yang memenuhi standar internasional seperti yang terbukti dengan perolehan sertifikasi ISO 9000 — jelas memberi BYD peluang menjadi yang terbesar di bidangnya.

Buat meraih peluang emas tersebut, pada Juli 2002 Wang meluncurkan saham BYD ke Bursa Efek Hong Kong. Pada 2002 itu, saham BYD yang bersimbol 1211-HK bukan hanya meroket, bahkan mencapai harga tertinggi di antara 54 saham yang diluncurkan sehingga dinobatkan sebagai “2002 Best Medium-Sized Company IPO Project” oleh Asset Magazine dan menempatkan BYD sebagai peringkat puncak jajaran “2002 Best Managed Company” versi Asia Money.

Di sisi bisnis, suntikan dana segar dari masyarakat memungkinkan Wang, hanya dalam tempo satu dasawarsa, menggenggam 50% lebih pasar baterai ponsel dunia. Pada 2005 itu, Wang juga mampu menempatkan BYD sebagai Empat Besar Dunia dalam jajaran produsen baterai rechargeable (untuk semua tipe, tak terbatas baterai ponsel).

Wang lalu berpuas diri dengan pencapaiannya yang luar biasa ini? Tidak. Sukses dengan baterai ponsel, dia mengembangkan BYD menjadi produsen komponen ponsel — sebuah langkah yang logis.

Akan tetapi, bukan Wang “Thomas Edison cum Jack Welch” Chuanfu kalau dia berhenti hanya
sampai di situ. Memasuki 2003, kelahiran 8 April 1966 ini membawa BYD memasuki industri otomotif. Mengakuisisi Tsinchuan Automobile Company Ltd., BUMN otomotif Cina yang mogok, pada 22 Januari dia mendirikan BYD Auto Company Ltd. dan membangun pabrik mobil seluas 1 juta m2 di Xi’an Hi-tech Development Zone. Pada 2003 itu juga dia mengambil alih Beijing Car Module Company Ltd. (yang memiliki pabrik seluas 200 ribu m2), mendirikan BYD Industrial Park di Shanghai (seluas 560 ribu m2), dan memindahkan markas penjualan BYD Auto ke Shenzhen. Fasilitas di Shanghai sekaligus dijadikan pusat riset dan pengembangan (R&D), sementara yang di Shenzhen berperan pula sebagai pusat R&D dan basis perakitan.

Gebrakan kilat ini membuat BYD mampu secara serentak mengibarkan pusat layanan yang melingkupi seluruh negeri: timur di Shanghai, selatan di Shenzhen, barat di Xi’an, utara di Beijing. Dengan demikian, ketika pada April 2005 meluncurkan produk otomotif pertamanya, F3, pabrik di Xi’an yang berkapasitas 200 ribu unit/tahun sudah berani langsung tancap gas untuk membanjiri pasar, terutama kawasan pedalaman yang masyarakat konsumennya lebih peka harga. Bahkan, pada 2006, F3 telah menembus pasar Ukraina.

Hasilnya? Dari saat peluncurannya sampai Februari 2006, F3 menyabet 68 penghargaan termasuk New Car Award, Best Popularity Award dan Most Expectable Car pada Shanghai International Auto Show. Selain itu, sedan kompak bermesin bensin ini juga menyabet Best Price-Performance Car Award pada 2005 Chinacars Annual Billboard. Memasuki 2007, F3 menjadi produk otomotif asli Cina yang menembus penjualan 10 ribu unit/bulan.

Masuknya BYD, sebuah perusahaan baterai, ke industri otomotif awalnya mungkin membuat khalayak mengernyitkan dahi. Namun, sekali lagi, Wang menunjukkan visinya yang jauh ke depan walau, untuk desain bodi (styling), BYD masih seperti laiknya perusahaan Cina ― mengopi produk para kampiun industri otomotif dunia, mulai dari Toyota, Daihatsu dan Honda sampai Mercedes-Benz, Buick, Subaru, Renault dan BMW. Dengan membawa BYD Auto merambah produksi mobil elektrik, dia mampu mengintegrasikan bisnis baru itu dengan bisnis dan kompetensi intinya sekaligus mendorong industri baterai BYD itu ke nilai tambah yang jauh lebih tinggi.

Bahkan, lebih dari itu. Karena produk otomotif memerlukan banyak komponen, dari mesin sampai sistem audio dan sistem air conditioning, masuknya BYD ke industri otomotif juga membuka peluang bagi Wang menggarap industri mesin otomotif dan komponen-komponennya, elektronik dan banyak lagi industri lain.

Era mobil elektrik sedikit-banyak menyebabkan disrupsi terhadap industri otomotif yang
sebelumnya berbasis pada teknologi mesin berbahan bakar fosil. Artinya, walau mungkin disrupsi teknologi yang ada tak sebesar yang disebabkan oleh pasang naik teknologi digital (yang menyapu habis teknologi analog di industri elekronik, bahkan multimedia termasuk film dan siaran televisi), semua pemain di industri otomotif harus bersaing di tataran permainan yang relatif sama.

Memang, para kampiun industri otomotif Jepang (Toyota, Honda) dan AS (General Motors, Ford) serta Eropa (Volkswagen) telah lebih dulu mengembangkan mobil elektrik. Akan tetapi, BYD memiliki keunggulan dalam teknologi baterai. Di tangan Wang, keunggulan teknologi baterai “Ferrous” LiFePO4 yang secara inheren aman ini dengan cepat direalisasi menjadi hatchback kompak F3DM ― PHEV (plug-in hybrid electric vehicle) pertama dunia yang dijajakan secara massal.

Ketika diluncurkan pada pertengahan Desember 2008, F3DM yang “dual mode” (menggunakan tenaga baterai dan bensin) ini dibanderol US$ 21.900/unit dan, sejak April 2009, harganya telah turun menjadi US$ 16 ribu. “Pada 2010,” Wang meyakinkan, “F3DM akan dijajakan ke Eropa dan pada 2011 ke AS.”

Menyusul F3DM, BYD telah mempersiapkan BYD e6, MPV enam penumpang bermesin elektrik penuh. Telah dipamerkan pada North American International Auto Show, di Detroit, MPV yang bisa melaju dengan kecepatan tertinggi 160 km/jam dan, dengan baterai terisi penuh, menjelajah sampai 400 km ini akan dibanderol sekitar US$ 40 ribu ketika diperkenalkan ke masyarakat AS tahun depan. Selain itu, BYD juga tengah mempersiapkan sedan midsize F6DM (bermesin hibrida) yang akan disusul dengan F6e (bermesin elektrik penuh).

Asal tahu saja, Toyota dan GM baru akan meluncurkan mobil elektrik bermesin hibrida untuk pasar luas pada 2009 atau 2010, menunggu hasil uji keamanan baterai (berteknologi konvensional) Lithium-ion LiCoO2. Itu pun, untuk spesifikasi yang sebanding, harga produk kampiun otomotif Jepang dan AS ini bisa dipastikan lebih mahal ketimbang produk BYD.

“Perusahaan pemula yang tak banyak dikenal itu,” tulis Fortune memuji BYD, “telah ngebut dan meninggalkan para pesaing yang jauh lebih besar dalam lomba mengembangkan mobil elektrik yang terjangkau.”

Apa yang unik dari BYD sehingga mereka mampu mengalahkan para kampiun dunia di semua industri yang dirambahnya?

Cerita Daniel Kim, mungkin bisa menggambarkan hal ini. “Ketika pertama kali menngunjungi pabrik BYD,” tutur Kim, “saya syok.” Telah menjelajah berbagai pabrik di Jepang dan Korea yang semuanya mengadopsi sistem produksi otomatik penuh, dengan memanfaatkan teknolog robotik yang canggih, Kim yang analis teknologi Merril Lynch Hong Kong sungguh takjub melihat ribuan insan BYD mengerjakan seluruh pekerjaan, dari perakitan baterai sampai pengecatan mobil, secara manual. “Perusahaan yang satu ini,” ujarnya, “mengambil model bisnis yang sama sekali beda.”

Dan pendekatan yang diambil Wang amat masuk akal. Dengan sistem padat karya, dia tak perlu menyediakan robot yang harganya saja US$ 100 ribu atau lebih/unit. Namun, tantangan yang dihadapi untuk mengarahkan ribuan pekerja itu juga sangat besar. Buat mengendalikan mutu produk, Wang memecah setiap pekerjaan (job) menjadi basic task dan menerapkan protokol uji yang ketat. Untuk memimpin barisan karyawan yang banyak itu, dia memercayakan para manajer dan enjinir yang mengembangkan dan merancang produk sebagai komandan lapangan.

Saat ini BYD mempekerjakan 10 ribu enjinir yang telah lulus program pelatihan perusahaan (separuhnya ditempatkan di BYD Auto) dan menggembleng 7 ribu lulusan baru dalam pelatihan yang menetapkan standar kompetensi tinggi itu ― sekitar 40% peserta pelatihan gugur atau digugurkan. Wang selalu mengambil lulusan terbaik dari fakultas teknik terbaik. “Mereka itu top of the top,” ujarnya bangga. “Mereka pekerja keras dan mampu bersaing dengan siapa pun.”

BYD mampu mempekerjakan SDM luar biasa dalam jumlah banyak karena standar gaji mereka cuma US$ 600-700/bulan. Dan mereka sudah happy karena, selain gaji, diberi subsidi perumahan di kompleks apartemen milik perusahaan plus makan murah di kantin BYD. “Mereka boleh dibilang bernapas, makan, mikir dan kerja di perusahaan 24/7,” ujar seorang eksekutif AS yang mempelajari kunci sukses BYD.

Wang sendiri, yang tinggal di kompleks apartemen yang sama, bekerja sampai pukul 11 atau 12 malam, lima atau enam hari seminggu. “Di Cina, orang-orang dari generasi saya menaruh pekerjaan sebagai prioritas pertama dan (kenikmatan) hidup di tempat kedua,” ujar sang CEO yang memercayakan pendidikan anak-anaknya ke istrinya.

“Keunggulan SDM” seperti itu, Wang mengakui, merupakan “bagian terpenting” dari strategi BYD. Dengan demikian, para enjinir BYD dapat mempelajari beragam teknologi ― dari sistem AC otomotif yang dapat dijalankan dengan baterai sampai lampu jalanan bertenaga surya. Selain itu, yang lebih penting, dengan barisan enjinir yang luar biasa itu Wang dapat pula menerapkan strategi yang sama sekali beda dari para pesaing. Tak seperti perusahaan otomotif lain yang mengandalkan alih daya, BYD membuat sendiri hampir seluruh bagian produk mobilnya, termasuk AC, lampu-lampu, seatbelts, airbags dan elektronik.

“Sulit bagi perusahaan lain untuk bersaing dengan kami,” ujar Wang.

Keunggulan kompetitif BYD lainnya adalah perilaku Wang sebagai seorang pemimpin bisnis, selain kemampuannya yang komplet sebagai enjinir andal sekaligus manajer piawai. Dia tak mau bermewah-mewah.

“Saya nggak kelewat tertarik dengan kekayaan,” ujar Wang. Dan ini bukan omdo, omong doang. Pada 2008, enterpreneur yang telah masuk ke dalam jajaran orang terkaya Cina ini hanya menerima bayaran US$ 265 ribu. Barang mewah yang dia nikmati juga cuma satu unit Mercedes dan satu unit Lexus ― itu pun tak sepenuhnya. Sebab, kedua mobil itu suka dia pereteli buat melihat bagaimana mesinnya bekerja. Loyalitas insan BYD semakin tinggi ketika, tak lama setelah peluncuran saham BYD, Wang mengambil sekitar 15% kepemilikannya di perusahaan yang didirikannya itu untuk dibagikan kepada 20 eksekutif dan enjinir senior BYD.

Mendapat teladan yang luar biasa, tak mengherankan, para eksekutif BYD rela untuk selalu menumpang penerbangan kelas ekonomi ketika melakukan perjalanan dinas. Bukan itu saja. Ketika para eksekutif BYD mengunjungi Detroit Autoshow 2008, misalnya, mereka tak segan menyewa rumah di pinggiran kota, bukan tinggal di hotel yang bisa dipastikan lebih mahal, guna menghemat biaya akomodasi.

Perhatian yang begitu besar terhadap biaya itu membuat rapor BYD tetap biru walau sedang melakukan ekspansi bisnis besar-besaran. Pada 2008, semua unit bisnis mereka ― baterai, komponen ponsel, otomotif ― membukukan laba bersih walau tak begitu besar, yaitu secara keseluruhan US$ 187 juta. Dengan kinerja seperti ini, pada 2008 itu nilai pasar BYD yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Hong Kong menembus US$ 3,8 miliar, alias telah menyalip GM (US$ 1,3 miliar) walau masih lebih kecil ketimbang Ford (US$ 7 miliar).

“Kami akan jadi perusahaan otomotif No.1 di Cina pada 2015 dan No.1 di dunia pada 2025,” Wang mencanangkan dua target besarnya pada seremoni peresmian fasilitas produksi modern BYD di Shenzhen, pada Agustus 2007.

Cita-cita besar ini masih harus dibuktikan. Namun, kemungkinan BYD menjadi perusahaan kelas dunia bukanlah hal yang mustahil. Setidaknya, seorang Buffett yakin akan hal ini. Awalnya, Buffet bahkan ingin mengambil alih 25% saham BYD, tetapi ditolak. Walau sangat ingin berbisnis dengan Berkshire buat mendongkrak citra perusahaannya, Wang hanya bersedia melepas maksimal 10% saham BYD.

“Orang itu nggak mau melepas perusahaannya,” ujar Buffett. “Dan itu pertanda bagus.”


Riset: Ratu Nurul Hanifah
 

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,6/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 19 Januari 2010 01:59
Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang sukses.

Perkenalan Marni dengan sulaman usus dalam bentuk kebaya terjadi tahun 1998. Saat itu ia bekerja di bagian desain kain tapis atau kain khas Lampung dan bordir di galeri dan butik milik Aan Ibrahim, desainer asal Lampung. ”Waktu itu saya hanya tahu soal sulaman usus, belum bersentuhan langsung,” ujar Marni.

Keterlibatan Marni yang sesungguhnya terjadi pada akhir tahun 2005. Sejak tahun 2003 suaminya tidak lagi bekerja di sebuah bank swasta. Ia sendiri sudah berhenti bekerja sejak akhir tahun 1998. Marni lantas mencari tambahan penghasilan dengan membuka warung makanan. Namun, usaha itu tidak menghasilkan. Kondisi keuangan keluarga kian terpuruk.

Pilihan membuat sulaman usus diambil ketika perempuan berasal dari Kebumen, Jawa Tengah, itu menyadari, ia punya keterampilan membuat rancangan baju atau gaun berbahan sulaman usus. Dengan modal Rp 50.000, ia membeli 2 meter kain dan menjadikannya bolero atau baju atasan berbentuk rompi. ”Kain yang saya beli itu saya potong, jahit, dan saya jadikan sulaman usus, yang pada akhirnya saya bentuk menjadi bolero,” ujar Marni, ibu dari Dinni Citra N (16) dan Nabilla Zahara (11).

Baju kreasinya itu laku Rp 300.000. Marni pun giat membuat rancangan baju lain dari sulaman usus dan menjualnya.

Pada akhir tahun 2005 rancangan baju Marni memenangi juara pertama lomba desain baju kasual berbahan sulaman usus yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Lampung. Marni pun berpartisipasi pada International Handicraft Trade Fair atau Inacraft di Jakarta tahun 2006.

Kepada pengunjung stannya, Marni menjelaskan, sulaman usus merupakan sulaman khas Lampung. Awalnya, sulaman usus hanya sebagai bebe atau kain penutup dada pada baju pengantin perempuan adat Lampung. Sulaman usus kemudian dikreasikan sebagai baju, kebaya, atau gaun.

Sulaman usus dibuat dari kain, biasanya kain satin atau sutra. Kain dibentuk segitiga dan dengan mesin dipotong memanjang seperti lembaran pita. Lembaran pita itu dijahit sisi kanan kirinya dan dibalik dengan menggunakan lidi.

Setelah dirapikan, lembaran pita berubah bentuk menjadi seperti pipa-pipa pipih panjang menyerupai usus ayam. Muncullah istilah sulaman usus. Untuk membuat kebaya, gaun, atau baju, perajin akan menempelkan pita-pita usus ke pola baju, kebaya, atau gaun yang sudah dibuat dengan cara menjahit.

Di pola tersebut perajin lantas merajut pita-pita usus dengan benang nilon dan menyulam aneka motif. Bahan kain yang lembut dan jatuh memungkinkan pembentukan motif-motif tersebut.

Berkat produk yang rapi dan menarik, kreativitas Marni di Inacraft 2006 dilirik Gobin Dram Ghurbani, pemilik toko tekstil dan butik Apique Silk Route di Jalan Mayestik, Kebayoran, Jakarta. Mr Gobin pun menjadi bapak angkat bagi Marni yang menamakan produksi gaun, kebaya, dan baju sulaman ususnya Nabilla. ”Mr Gobin menyediakan kain sutra yang saya butuhkan. Terkadang Mr Gobin mengirim desain baju atau gaun dan saya yang membuatnya dari bahan sulaman usus,” ujar Marni.

Mr Gobin pula yang menyemangati Marni untuk maju. ”Bayangkan, beliau datang ke rumah saya tahun 2006 yang saat itu masih gedek. Melihat kondisi saya, beliau menyemangati, saya harus bisa maju dalam dua tahun,” ujar Marni.

Lewat Mr Gobin, rancangan Marni mulai dikenal pasar luar negeri, seperti Singapura dan India. Peluang ini membuat Marni terpacu berkarya. Jumlah pemesan terus meningkat.

Marni pun mulai memberdayakan warga kampung tetangganya yang umumnya berpenghasilan rendah. Apalagi, produk Marni banyak dikerjakan secara nonmesin sehingga waktu produksi yang lama diatasi dengan memperbanyak tenaga kerja.

Untuk membuat satu kebaya dibutuhkan waktu satu sampai satu setengah bulan. Sementara baju-baju kasual membutuhkan waktu pembuatan satu minggu.

Oleh karena itu, Marni dan suaminya, Nazarudin (42), pun melatih ibu-ibu di kampungnya di Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Satu kelompok di setiap desa khusus membuat pita-pita usus, kelompok lain khusus menempel pita-pita usus, ada kelompok lain desa lain yang khusus menyulam.

Saat ini ada 87 ibu rumah tangga yang ikut bekerja dalam usaha sulaman usus Marni. Aktivitas ini bisa membantu menambah penghasilan keluarga di satu sisi dan mempercepat proses produksinya di sisi lain.

Usaha Marni tidak lepas dari bantuan permodalan dari PT Pos Indonesia sebesar Rp 40 juta tahun 2007. Modal tersebut dengan cepat dia lunasi. Marni selanjutnya menjadi mitra binaan PT Perkebunan Nusantara VII melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Ia mendapat pinjaman lunak sebesar Rp 15 juta dan Rp 40 juta selama tahun 2007-2008. ”Saya lunasi tepat waktu,” ujar Marni.

Sejak tahun 2005 hingga kini Marni menghasilkan 200-an rancangan desain. Sulaman ususnya juga tidak hanya kebaya, gaun malam, ataupun baju kasual. Karya Marni muncul juga dalam bentuk tank top atau baju atasan seperti singlet bertali tipis, peci, hingga taplak meja dan sarung bantal.

Kisah pengembangan rancangan produk, menurut Marni, cukup unik. Setelah kenal Mr Gobin, artis Vicky Burki dan Ria Irawan datang ke outlet milik Marni, meminta dibuatkan tank top dari bahan sulaman usus.

Rancangan produk tank top tersebut kini sangat disukai di Bali dan Singapura. Sementara rancangan kebaya atau gaun malam disukai di Kalimantan. Tahun 2010 Marni berencana membuka dua outlet baru, di Bali dan Kalimantan.

Marni sudah punya outlet di Lampung. Dia juga bekerja sama dengan butik Mr Gobin di Jakarta dan Pands’ Collection di Semarang, Jawa Tengah. Apabila konsumen Jakarta menyukai rancangan kebaya, gaun, dan baju kasual, konsumen di Semarang menyukai peci dan terkadang kebaya sulaman usus.

Sebagai produk buatan tangan dan dirancang satu desain untuk satu pembeli, Marni mematok harga sesuai dengan upaya produksi. Ia mematok harga satu juta hingga dua juta rupiah untuk kebaya, gaun malam, ataupun baju kasual. Peci sulaman usus per satuan dijual Rp 75.000-Rp 80.000. Produk tank top Rp 400.000 per potong.

Marni pun kini terus mengucap syukur. Omzet Marni yang semula Rp 17 juta kini mencapai Rp 100 juta per bulan. Rumah Marni sudah megah.

Marni kini tertantang agar bisa menghasilkan baju atau gaun dengan sulaman usus tidak hanya terbuat dari satin atau sutra polos, tetapi juga dari bahan lain. Marni tetap optimistis karya barunya itu bisa ia hadirkan pada ajang Inacraft 2010.
 

Febriati Nadira

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,6/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 15 Desember 2009 11:40

Awal Desember 2008, Febriati Nadira didapuk sebagai Head of Corporate Communication PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL). Sebelumnya, lulusan Jurusan Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, yang akrab disapa Ira ini menempati pos Manajer Humas XL. Tugasnya saat ini tak hanya berhubungan dengan media, tetapi juga terkait dengan peningkatan citra perusahaan melalui hubungan yang harmonis dan transparan antara XL dengan seluruh pemangku kepentingan.

Posisi Ira memang tidak ditargetkan pada nominal penjualan, melainkan program-programnya diharapkan mendukung target pendapatan XL. “Kini, bagaimana program komunikasi kami lebih inovatif, kreatif dan agresif untuk mendapatkan pemahaman dan penerimaan karyawan, pelanggan, serta seluruh stakeholder XL,” ujar kelahiran Situbondo 18 Februari 1975 ini.

Telko bukan dunia baru bagi Ira. Mengawali karier di Telkomsel pada 1995 sebagai customer service, ia lalu pindah ke beberapa departemen yaitu penjualan dan distribusi, manajemen account korporat, komunikasi pemasaran, hingga komunikasi korporat selama 7 tahun terakhir di sana. November 2007, ia bergabung dengan XL. Menurutnya, tantangan dunia telekomunikasi sesungguhnya masih sama, yakni memberikan nilai kepada pelanggan. “Tidak hanya murah, tapi juga berkualitas,” ucapnya.

Ira menuturkan, XL selalu menargetkan pertumbuhan di atas industri telko secara umum. Tahun ini, XL diperkirakan tumbuh 10%-12%. Apa filosofi kerja sang ibu dua anak ini? “Do the best and let God do the rest,” kata Ira yang menyukai novel karya Sindhunata, Anak Bajang Menggiring Angin.

(swa)

.links { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; color: #B50000; text-decoration: none; } .links:hover { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; color: #B50000; text-decoration: underline; } .normal { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 8pt; color: #000000 }

 

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image