KFC Music Factory |
| Jumat, 20 Maret 2009 15:50 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Buat merealisasi progam itu, Fabian mendirikan PT Music Factory Indonesia (MFI) yang kemudian bersinergi dengan lebih dari 350 jaringan KFC di seluruh Indonesia. MFI tak ubahnya perusahaan rekaman yang mencari artis, merekam lagu mereka dan mempromosikannya. Promosi dilakukan melalui pemutaran CD para talent itu di jaringan KFC seluruh Indonesia, manggung live, dan program-program lain yang didukung resto cepat saji itu – seperti kerja sama dengan radio-radio swasta. Kolaborasi lewat KFC Music Hit List bisa pula dibaca sebagai bagian dari aktivitas promosi KFC. Bisa dibayangkan, dengan program itu, KFC selalu diikutkan pada setiap kegiatan band-band di bawah payung MFI – misalnya promosi album, baik tur maupun di radio dan media lain. Jelas, ini merupakan strategi mendekati konsumen yang lebih membumi. KFC Music Hit List ini, dalam gagasan Fabian, harus menjadi komunitas musik yang dikenal masyarakat. Sebab itu, grup penyanyi atau band yang diorbitkan juga mesti punya musik dan lagu yang diterima sekaligus nge-hit. Maklum, keberadaan para talent itu diharapkan memicu terbentuknya komunitas remaja pelanggan “Kolonel Sanders”. Para remaja itu sendiri bisa menjadi anggota komunitas KFC Music Hit List – dinamai hitters – cukup dengan membeli CD koleksi KFC Music Hit List. Dari situ mereka harus melakukan registrasi dengan menggosok nomor di sampul CD, mengetik nomornya dan mengirimnya via SMS ke nomor telepon yang sudah ditentukan. Para hitter akan mendapatkan berbagai macam program promosi, update info KFC dan KFC Music Hit List, serta bonus-bonus – contohnya mendapatkan free Rp 5.000 setiap minggu. Masa keanggotaan hitter minimal satu tahun. Tak dinyana, rupanya komunitas musik KFC terus berkembang. Saat awal-awal peluncuran KFC Music Hit List di 2007, per bulan hanya 8-15 ribu CD yang terjual. Sekarang 130 ribu CD per bulan dan jumlah band yang diorbitkan pun mencapai 30-an grup. "Bisa melonjak karena komunitas KFC Music Hit List sudah terbentuk," Fabian menunjuk kinerja programnya. Rata-rata jumlah hitter bertambah 10-15 ribu/bulan. Per Januari 2009 mencapai 144 ribu orang. Komunitas itu semakin berkembang antara lain setelah adanya KFC Music Hit List Goes to School. Saat event ini digelar, awak band bisa tahu sejauh mana penerimaan lagu-lagu mereka di mata remaja. Dan sebaliknya, kalangan remaja juga bisa berinteraksi dengan band dan KFC. “Tiap ada road show musik, otomatis memunculkan crowd di acara tersebut. Dari crowd inilah brand KFC akan semakin terkenal dan eksis karena tiap event selalu membawa nama KFC,” Fabian menegaskan. Hubungan ini tak hanya satu arah karena hitter juga bisa berkomunikasi, baik dengan band-band itu maupun KFC. Apalagi dengan adanya situs www.kfcmusic.co.id, mereka bisa melakukan banyak hal: mengunduh ring back tone, mendapat info acara manggung band-band, dll. Belum lagi, disediakan pula hotline telepon dan alamat surat elektronik untuk memberikan aneka masukan. Fabian menjelaskan, setelah sukses membangun gerai yang memadukan konsep gaya hidup di KFC Kemang, Jakarta, tahun 2001, resto cepat saji ini memang terus diremajakan lewat musik. “Ini pertama kalinya restoran fastfood meluncurkan program musik,” kata lulusan Boston University, Amerika Serikat, ini. Sebenarnya yang ingin dibangun bukan musiknya. Musik dipilih karena inilah satu-satunya bahasa yang paling mudah untuk memahami dan mendekati anak muda. KFC sendiri pun melengkapi program menggarap segmen remaja ini dengan strategi mendesain ulang gerai yang kini makin trendi. "Sekarang KFC store-nya banyak yang direnovasi. Bukan hanya sebagai dining room, tapi juga ada sofa area dan playland," ujar Fabian. Sekitar 10% dari store sudah memperkenalkan sofa area untuk membantu perubahan citra. Tepatnya hal ini digencarkan pada 2008. Menariknya, inovasi ini merupakan masukan dari konsumen, termasuk hitter komunitas musik. Jadi, pada lini ini aspek horizontal business telah berjalan. Lalu, seperti yang sudah ada di KFC Kemang, juga ada panggung musik. "KFC Kemang bisa menciptakan komunitas tersendiri, terutama hari Sabtu. Namanya KFC nge-jam," tutur Fabian. Karena cukup sukses, konsep itu segera diterapkan di beberapa kota besar di Tanah Air. Di antaranya, di KFC Sam Ratulangi, Makassar. Aktivitas ini membuat jumlah pengunjung semakin banyak. "Karena muncul crowd yang dibawa komunitas musik itu, yang diuntungkan ya KFC dong!” kata kelahiran 26 Oktober 1970 ini. Rahmad Mulyanto, karyawan perusahaan swasta di Jakarta, rupanya termasuk penggemar menu KFC yang juga biasa hang out di KFC Kemang. Dia juga suka nge-jam di sana. Rahmad mengetahui ajang ini dari kawan-kawannya yang suka nongkrong di resto ini. Walhasil, dia ikut rajin menyambanginya. Namun, walau tidak ada ajang nge-jam sekalipun, dia menyukai lay out resto milik Fabian yang sekarang makin muda. “Kalau ke Bandung saya paling suka nongkrong di KFC Dago. Terkenal dari mulut ke mulut buat nongkrong sambil ngobrol,” katanya. Dalam pandangan Yuswohady, pemerhati pemasaran dari MarkPlus & Co., resto ini terbilang sudah melakukan horizontal marketing melalui program musiknya itu. KFC membangun komunitas musik yang akhirnya selalu related ke brand KFC. Itu juga tampak dari kegiatan musiknya yang masuk ke SMA-SMA dan banyaknya event musik yang diciptakan untuk anggotanya, memfasilitasi komunitas musiknya. "Komunitas ini memasarkan konsep pemasaran dari many to many," ujar Yuswo. Fabian sendiri berprinsip, bila band (penyanyi) yang diorbitkan KFC Music Hit List bisa populer, tentu hal itu akan menimbulkan inspirasi kaum muda. “Ketika mereka terobsesi menjadi bintang, yang diingat KFC. Ini value yang tak ternilai,” ungkapnya. Resto ini akan diingat sebagai wadah yang membantu anak-anak muda tampil menjadi bintang. "Di sisi lain, para pemusik yang sudah kami lahirkan juga bisa menjadi brand ambassador KFC itu sendiri di balik brand image KFC yang semakin muda," Fabian meyakini strateginya. Melihat hasil yang ada, tampaknya pengelola “Kolonel Sanders” ini akan terus sibuk membidik remaja dengan berbagai program pelibatan langsung. Sekarang melalui musik, mungkin besok dimunculkan program lain. Hal ini ditujukan untuk mempertahankan dan memompa kinerjanya. Dengan dukungan lebih dari 350 gerai, kinerja jaringan resto cepat saji itu cukup kinclong. Pada 2006 omsetnya Rp 1,25 triliun, dan di 2008 telah menembus angka Rp 2 triliun. Sangat baik. Gerai yang menjadi andalan antara lain gerai di Segi Tiga Senen dan Harco, Jakarta. “Rata-rata omset per bulan Rp 500-600 juta per gerai,” tutur Fabian. Ya, kalau ingin ada hasil, memang butuh upaya serta pendekatan yang berbeda dan ekstra.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

