Bagaimana Meningkatkan Penjualan Apotek Anda? |
| Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,28/task,userProfile/user,88/">arinosan</a> | |||||
| Jumat, 05 Februari 2010 17:39 | |||||
|
Saya memiliki usaha apotik yang sudah berjalan hampir 5 tahun. Selama ini omzet penjualan ya hanya segitu-gitu saja. Saya juga sudah menerapkan strategi sebagai berikut : harga murah, free konsultasi, good service. Yang ingin saya tanyakan bagaimana meningkatkan omzet penjualan? Sekedar informasi, di kota kami ada 1 apotik yang terkenal murah, setiap konsumen selalu membandingkan harga. Intinya, meski saya memberikan harga yang sama dengan apotik tersebut tetap saja tidak bisa mendongrak omzet penjualan kami. Demikian terima kasih. Ita Andajani Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Jawaban Yth Ibu Ita, Terima kasih atas emailnya dan senang dengan usaha ibu di bidang apotek yang ikut menyehatkan masyarakat. Saya akan coba berikan solusinya atas masalah penjualan. Pada dasarnya, omzet penjualan bisa meningkat kalau (1) jumlah pembeli baru bertambah, (2) pelanggan membeli lebih banyak dan (3) pelanggan kita setia, tidak pindah ke pesaing. Kita bahas satu per satu.
Pertama, tingkatkan jumlah pembeli baru yang belum pernah membeli ke apotek bu Ita. Alasan mereka tidak membeli bisa macam-macam, misalnya belum mengenal apotek Anda sehingga tahunya apotek pesaing, lokasi apotek Anda mungkin jauh, atau karena tawarannya selama ini tidak menarik. Untuk itu coba dicek, apakah apotek bu Ita sudah memasang spanduk dan papan nama yang jelas menunjukkan identitas sebagai apotek yang terpercaya. Karena apotek sudah berdiri 5 tahun, mestinya sudah cukup dikenal. Untuk itu coba lakukan pembaruan sehingga apoteknya tampak lebih segar (fresh). Perbarui spanduk atau tampilan luar apotek yang sudah usang dengan cat yang baru. Kemudian rutin tiap 1-2 bulan menyebar brosur ke perumahan di sekitar apotek, supaya mereka ingat kembali atau jadi mengetahuinya. Kalau lokasi apotek Anda kurang menguntungkan, tawarkan layanan antar sehingga orang tinggal order lewat telepon. Perlu diingat orang sakit susah bepergian jadi layanan antar sangat berguna.
Bu Ita menyampaikan kalau harga sudah murah atau sama dengan pesaing. Untuk itu perlu diberikan layanan yang merupakan nilai lebih. LAYANAN merupakan salah satu kunci kesuksesan di bisnis ritel. Untuk layanan, Ibu Ita juga mengatakan sudah memberi good service dan free konsultasi. Coba dicek lagi apakah layanan berikut sudah diberikan: pramuniaga melayani pembeli dengan ramah dan akrab. Ini bisa dilakukan dengan selalu menyambut ramah begitu pembeli datang dan mengucapkan terima kasih serta ucapan semoga cepat sembuh kalau selesai transaksi. Berikan perhatian personal. Intinya ciptakan layanan yang berkesan sehingga pembeli senang. Layanan lain adalah cepat tanggap sehingga pelanggan tidak menunggu lama, jaminan keaslian produk, layanan antar, layanan konsultasi dengan SMS, layanan pemesanan obat dengan telepon, dll. Selain itu yang penting juga adalah jam buka apotek. Ingat, kebutuhan obat seringkali mendadak dan bisa muncul kapanpun. Kalau mungkin usahakan jam buka apotek diperpanjang atau bahkan buka 24 jam (perlu perhitungan matang untuk operasionalnya).
Usahakan pula apotek tidak pernah menolak pembeli karena stok habis. Tujuannya supaya pelanggan tidak sempat mencoba ke apotek lain (pelanggan pada dasarnya suka beli di tempat yang biasanya, namun kalau tidak tersedia, ini membuka peluang mencoba ke apotek lain dan bisa keterusan untuk pindah). Untuk itu kalau ada pelanggan datang dan stok obat habis, coba usahakan bisa memenuhinya dan menawarkan untuk mengantarkan beberapa jam kemudian. Layanan yang luarbiasa bagusnya akan membuat pembeli berkesan dan mengajak relasi-relasinya membeli ke kita. Apalagi di kota kecil, peranan komunikasi dari mulut ke mulut sangat besar pengaruhnya.
Pembeli baru juga cepat bertambah kalau apotek bu Ita menjalin kerjasama atau networking dengan dokter yang ternama. Contohnya menyediakan ruangan praktek dokter di apotek Anda. Jadinya pasien yang selesai berobat akan membeli obatnya di apotek Anda.
Kedua, omzet meningkat kalau pelanggan membeli lebih banyak. Pelanggan yang sudah membeli obat misalnya, jangan lupa ditawari produk pelengkap. Misalnya ditawari beli juga vitaminnya, bantal penghangat, dll. Atau mungkin ada semacam pembelian paket. Ini bertujuan untuk memperbesar volume pembelian per pelanggan.
Ketiga, supaya omzet terus naik, kita perlu mempertahankan pelanggan. Caranya dengan menawarkan kartu keanggotaan (membership) pada pelanggan. Melalui kartu keanggotaan, kita dapat kumpulkan database pelanggan. Lalu kita rutin membina hubungan misal dengan mengirim SMS, menginformasikan dan memberi perlakuan spesial. Kalau membeli lagi dengan kartu anggota ada harga khusus atau poin hadiah sehingga mereka kembali lagi. Bahkan kartu boleh dipindahtangankan dalam satu keluarga sehingga memacu semuanya membeli di apotek Anda.
Demikian solusinya, silakan dicek kembali poin-poin di atas. Semoga apoteknya laris manis setelah melakukan strategi tersebut.
Salam bisnis dari Istijanto Oei, konsultan marketing di Prasetiya Mulya Business School. Sumber: www.swa.co.id
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
Login
CB Login
Who's The Star
Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ... Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010 |
Build Your Dream (BYD) : Wang ChuanfuTanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang... Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010 |
Marni: Pengrajin Sulam Usus LampungManusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su... Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010 |
