|
Ribuan muda-mudi tampak menyemut di area Pantai Karnaval Ancol, Jakarta. Menjelang senja, mereka sudah siap-siap memasuki area perhelatan musik rock internasional yang digelar selama tiga hari berturut-turut, 7-9 Agustus lalu. Padahal, Mr. Big—band rock legendaris itu—baru akan unjuk kebolehan pada penghujung malam. Persisnya, pukul setengah dua belas malam.
Konser musik rock tadi boleh dibilang festival musik rock internasional terakbar di Asia Tenggara. Ya, di konser milik Gudang Garam International (GGI) itu, sejumlah band internasional ternama di hadirkan. Sebutlah Mr. Big, Vertical Horizon, Mew, Third Eye Blind, Melee, Serenade, Joujouka, Motherjane, dan Bagga Bownz. Itu belum termasuk band rock lokal macam Gigi, Rif, Slank, dan lainnya. Tidak mudah tentunya, meyakinkan mereka untuk tampil di Tanah Air, pasca ledakan bom bunuh diri di Hotel JW Mariot dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu.
Menarik dicermati dari event bertajuk “Gudang Garam Inter Music Java Rockin'Land” itu adalah penampilan para penonton yang menyambangi konser. Jauh dari bayangan, hampir sebagian besar muda-mudi yang hadir berkonstum modis dengan model fashion kekinian. Yang perempuan bisa berpakaian sexy dengan hot pants yang dipadu tank top. Sementara sang pria, jarang sekali ditemukan tubuh bertindik aksesoris anting-anting, apalagi berambut gondrong. Bahkan dari sisi usia, sedikit sekali audience yang sudah berumur, alias tua.
Tentu saja fakta itu sesuai harapan. Sebagai merek yang tengah direvitalisasi atau diremajakan, GGI memang tengah meminang pasar baru, pasar dewasa muda. Setelah upaya revitalisasi lewat TVC-nya yang tayang pada Mei lalu, diakui Head of Promotion PT Gudang Garam Tbk. Hokiono, konser musik rock tersebut merupakan upaya lanjutan dari revitalisasi. “Obyektifnya, GGI bisa menjadi brand yang muda dan dinamis,” katanya.
Dengan harga tiket Rp 200 ribu per tiketnya, event tersebut sanggup menyedot animo massa yang jumlahnya melebihi ekspektasi. Hari pertama mencapai 20 ribu pengunjung, hari kedua yang menghadirkan Mr. Big mencapai 70 ribu pengunjung, dan hari ketiga angka perngunjung menembus 40 ribu. Bukan tidak mungkin event Gudang Garam InterMusic Java Rockin'Land bakal menjadi anchor event bagi GGI yang siap digelar tiap tahunnya.
Jatuhnya pilihan pada event musik, menurut Deputy Director PT Gudang Garam Tbk. Istata Siddharta, “Karena, musik adalah bahasa universal. Dan mengapa musik rock, lantaran GGI telah lama identik dengan musik keras.” Selain itu, diangkatnya genre rock dalam rangka revitalisasi ini demi menguatkan positioning GGI sebagai rokoknya para pria.
Sebelumnya, GGI menggelar “Road to Gudang Garam InterMusic Java Rockin'Land” di empat kota, yakni Semarang, Surabaya, Jogja, dan Bandung. “Beberapa band yang tampil di Ancol, tampil juga di empat kota tersebut. Untuk event musik gratis ini, animo pengunjung di daerah luar biasa hingga bisa mencapai 10 ribuan,” timpal Chandra Gunawan, Brand Manager PT Gudang Garam Tbk.
Upaya revitalisasi tidak cuma berlaku pada GGI. Merek Gudang Garam lainnya, seperti Gudang Garam Merah (GGM) turut dibenahi. Sebagai brand yang jauh lebih tua dari GGI, diterangkan Istata, GGM juga harus mengikuti perkembangan pasar. “Setiap produk memang ada naik-turunnya. Dulu, GGM memang big player dan cukup lama mengalami penurunan,” akunya.
Untuk itu, Gudang Garam memilih jalur revitalisasi merek. Salah satunya, dengan melakukan improvement dari sisi marketing. “Selain makin menguatkan kualitas produk dengan harga yang terjangkau atau good value, dari sisi marketing GGM juga di-improve,” ungkap Istata.
Langkah pertama, meriset ulang apakah tagline GGM yang lama, Buktikan Merahmu, masih cukup kuat. “Akhirnya, diputuskan melempar tagline baru, tanpa meninggalkan yang lama, yakni Nyalakan Merahmu,” urai Chandra.
Selanjutnya, sepanjang Agustus 2009 (2-17 Agustus), aktivitas merek GGM bertajuk “Pentas Gudang Garam Merah Spekta-fest” digelar secara bergilir di tujuh kota. Kali ini, selaras dengan target marketnya yang memang kelas menengah bawah, maka aktivitas GGM yang dibungkus bak pesta rakyat yang meriah dan bergengsi serta jauh dari kesan kampungan, digelar di tingkat kabupaten di wilayah Tasik, Tegal, Cirebon, Lampung, Semarang, Palembang, dan Bogor.
Inti acaranya adalah kompetisi kegiatan yang biasa dilangsungkan di daerah, seperti lomba panjat pinang antardesa, lomba futsal, lomba bakiak, dan sebagainya. Tentu saja, aneka perlombaan itu diselingi dengan hiburan utama musik pop dari band-band yang sudah terkenal seperti Five Minutes dan The Titans yang dikombinasikan dengan dangdut. “Dari empat kabupaten, setiap event Spekta-Fest selalu dipadati 20 ribuan pengunjung,” Chandra menerangkan.
Harapannya, melalui rentetan aktivitas itu, GGM bisa semakin dekat dengan konsumen. “Agar tidak ada lagi hambatan emosional untuk mengkonsumsi GGM,” tambah Chandra. Jamak saja, sebagai merek yang telah berumur puluhan tahun, anak muda yang ingin mengkonsumsi GGM memang mengalami hambatan emosional, berupa gengsi contohnya.
Sampai Agustus ini, Gudang Garam memang tengah fokus membenahi sejumlah mereknya. Selain GGI dan GGM, Gudang Garam pun mulai serius menggarap pasar mild. Awal Juli lalu misalnya, Gudang Garam melempar varian anyar Surya Slims, yaitu Surya Slims Premium dalam kemasan berwarna putih yang tampak sophisticated.
“Kami bandrol harganya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Surya Slim regulernya,” tuturnya. Hanya saja, hingga saat ini Gudang Garam masih menimbang waktu yang tepat untuk menggencarkan kegiatan merek Surya Slims Premium, si Putih yang Menawan—yang menyasar pasar kelas A dan B yang ber-life style. “Iklan TV-nya sudah ada. Tapi, memang belum begitu gencar,” akunya.
Pasar Rokok Melesu
Merujuk data Nielsen periode Januari-Mei 2009, pasar rokok sejatinya tengah melesu—tak heran para pemain di industri ini melakukan berbagai marketing action untuk menyiasati market yang sedang bearish, market size-nya melorot 3,5%. Namun, kemerosotan tadi tak menular pada GGI. Diakui Istata, sampai saat ini GGI masih menjadi salah satu market leader di pasar Sigaret Kretek Mesin Full Flavour.
Kinerja GGM jauh lebih fantastis. Berdasarkan sumber MIX, di tengah melesunya pasar rokok, GGM menjadi merek yang sanggup mencetak kenaikan penjualan tertinggi. “GGM memang tetap merupakan salah satu key player di pasar Sigaret Kretek Tangan,” tegas Istata, yang enggan menyebut nilai penjualan dari GGM.
Ke depan Gudang Garam bakal secara bertahap membenahi merek-mereknya yang lain. Sayangnya, Istata menolak menceritakan brand-brand mana saja—setelah GGI, GGM, dan Surya Slims—yang akan segera direvitalisasi. “Saya masih belum bisa cerita,” pungkas Istata.
Sumber: http://mix.co.id
|