Brand Building

Strategi HOLCIM memenangkan Persaingan

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,19/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Jumat, 05 Februari 2010 18:02

Persaingan bisnis menuntutnya melakukan pengembangan organisasi. Sejumlah programpun digelar. Hasilnya, positif.

“There are three secrets to managing. The first secret is have patience. The second is be patient. And the third most important secret is patience.”

Kalau Chuck Tanner membuat kesimpulan seperti itu, tentu bukan untuk lelucon. Bagi Tanner, kesabaran betul-betul kunci sukses, utamanya ketika harus mengelola banyak orang hebat menuju sebuah tujuan. Chuck membuat kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman suksesnya bertahun-tahun mengelola tim bisbol hebat mulai dari Chicago White Sox, Oakland Athletics, Pittsburgh Pirates, Atlanta Braves hingga tim America All Star 2006.

Di dunia bisnis, PT Holcim Indonesia Tbk. tampaknya termasuk memegang prinsip itu. Kesabaran. Itu sangat terlihat ketika produsen semen ini melakukan restrukturisasi serta pengembangan organisasi untuk menjadi winning company di tengah sengitnya persaingan. Ketika banyak perusahaan lebih memilih cara instan untuk membentuk winning team sebagai pilar winning company, Holcim memilih caranya sendiri. Pengelolaan SDM, misalnya. Sementara yang lain membajak SDM atau tim dari perusahaan lain, Holcim memilih memekarkan dari dalam, walaupun memang, butuh waktu lebih lama. “Kami butuh bertahun-tahun agar restrukturisasi berjalan seperti sekarang,” ungkap Eamon Ginley, Presdir Holcim. Namun, SDM hanyalah satu sisi dalam pembentukan winning team. Sejumlah langkah lain dilakukan.

Bila dikilas balik, Holcim memang berkepentingan memiliki organisasi yang inovatif dan adaptif. Perusahaan yang awalnya bernama PT Semen Cibinong ini mengalami sejumlah persoalan ketika diakuisisi Grup Holcim tahun 2002. Saat itu perusahaan masih merasakan dampak krisis ekonomi 1998. Banyak karyawan cemas dan menduga-duga apa yang akan terjadi pada perusahaan. Semen Cibinong berada di urutan ketiga di pasar. “Posisi kami ketiga, tetapi jaraknya dengan perusahaan di atasnya cukup lebar,” ungkap Ginley.

Pendeknya, ada banyak hal yang harus dibenahi pada 2001-02. Dari sisi positioning bisnis, sebut contoh, Holcim memutuskan mengubah dari yang berbasis bisnis komoditas menjadi perusahaan pemberi solusi dan inovasi bagi pelanggan. Lalu, membangun ekuitas merek. Maklum, perusahaan yang 77,33% sahamnya dikuasai Grup Holcim ini tahun itu masih menggunakan merek Semen Cibinong.

Melihat persoalan dan tuntutan, akhirnya manajemen memutuskan memperbaiki organisasi dulu, melalui program restrukturisasi di berbagai lini. Perbaikan pertama dilakukan di bidang SDM. “Kami yakin pengorganisasian SDM yang baik akan memberi dampak yang lebih besar daripada perubahan dalam hal pemasaran dan inovasi,” Ginley memberi alasan. Di antara upaya perbaikan SDM itu, melembagakan sistem yang disebut Holcim Academy. Ini bukanlah lembaga pendidikan, melainkan konsep peningkatan mutu SDM. Di dalamnya ada sejumlah program yang dianggap penting. Contohnya, people development program dan succession planning. Tujuan program yang dilakukan sejak awal 2005 ini adalah menetaskan leader untuk memimpin unit-unit organisasi.

Holcim Academy juga menyelenggarakan program Organizational Performance Improvement (OPI). Melalui program ini, Holcim mengambil beberapa orang terbaiknya, lalu diberi pelatihan untuk menjadi coach. Setelah dilatih, mereka dikembalikan ke unit area untuk membantu proses perubahan selama sekitar 8 bulan. Program itu berlaku bagi seluruh lapisan karyawan, dari kepala departemen sampai level terendah. OPI seperti program yang membangun DNA perusahaan. Dari sini diharapkan senantiasa muncul ide-ide baru dari karyawan.

Bicara Holcim Academy, Ginley menganalogikannya seperti mesin yang bisa membuat roda pengembangan organisasi terus berjalan. Di sini banyak dikombinasikan berbagai manufacturing technique dan best practice bidang manajemen dari perusahaan-perusahaan terbaik dunia. Di dalamnya ada proses pemilihan, rekrutmen dan induksi. “Ini semua terlaksana dengan talent management yang juga merupakan bagian dari Holcim Academy.”

Sebenarnya, Ginley menambahkan, elemen-elemen pada Holcim Academy cukup sederhana, tetapi penerapan yang benar dan terintegrasi membuatnya jadi sangat berarti. Pihaknya butuh lebih dari 6 bulan untuk mempersiapkan diri sebelum program itu siap dipakai. Saat ini Holcim Indonesia memiliki 2.500 karyawan yang semuanya terlibat dalam program peningkatan kualitas SDM tersebut.

Untuk pengadaan karyawan, Holcim lebih suka membina sendiri ketimbang mengambil dari luar yang sudah jadi. Dikembangkan program pelatihan bagi karyawan baru yang disebut Graduate Development Program. “Kami lebih suka membangunnya dari dalam, lebih efisien,” kata Ginley yang pernah ditugaskan di Holcim Selandia Baru, Cina dan Australia. Bahkan, ketika akan mengisi jabatan posisi mid-level career pun, Holcim lebih suka mencari dari dalam dulu. Tak mengherankan, di office board sering terdapat pengumuman lowongan kerja untuk internal.

Penyiapan winning organization juga dilakukan dengan mengirimkan sejumlah karyawan ke negara-negara di mana ada bisnis Holcim. Ada program penugasan internasional. Karyawan Holcim di Indonesia dimungkinkan bekerja di negara lain seperti Meksiko, Filipina dan Malaysia. Karyawan juga dikirim ke pertemuan inovasi. Tahun 2008, misalnya, ada Asian Marketing Board yang dihadiri lebih dari 100 peserta dari 12 negara Asia. “Ini ajang untuk pertukaran ide dan inovasi di antara para awak marketing yang sangat berguna,” kata Ginley seraya menjelaskan, perusahaannya berubah nama dari PT Semen Cibinong menjadi PT Holcim Indonesia Tbk. pada 2006.

Tak hanya itu, organisasi yang inovatif juga dirancang melalui berbagai program resmi. Contohnya, Holcim rutin mengadakan CEO Award yang dengan itu masing-masing unit bisnis bisa saling melihat dan berkompetisi mana saja yang memiliki ide inovatif. “Program yang menarik, karena membuat lebih banyak ide bagi perusahaan,” ungkap Ginley. Bahkan saking seriusnya, sejak 2004 Holcim pun merestrukturisasi susunan dewan direksi dengan membentuk Direktorat Pemasaran & Inovasi. Jadi, ada direktur tersendiri yang membawahkan bidang pemasaran dan inovasi. Tim ini tidak hanya fokus pada pemasaran dan penjualan, tetapi juga inovasi. Tujuannya, agar lebih inovatif dalam memberi solusi kepada pelanggan dan dalam menciptakan saluran pemasaran.

Ya, program-program inovasi memang menjadi prioritas manajemen Holcim agar perusahaan jadi winning company. “Kelebihan Holcim Indonesia dibanding perusahaan semen lainnya adalah inovasi,” kata Ginley mengklaim. Inovasi dinilai sangat penting karena Holcim tidak cukup besar untuk berani berkompetisi dengan menawarkan harga yang terendah di pasar.

Yang jelas, pelbagai upaya itu tampaknya tak sia-sia, terutama bila melihat efektivitas program yang dilakukan dalam dua tahun belakangan dan juga kinerjanya. Hal itu tampak dari program-programnya yang inovatif seperti membangun positioning perusahaan, melakukan product branding, dan membangun saluran-saluran baru pemasaran. Salah satu inovasinya, Solusi Rumah, suatu produk yang menawarkan bantuan membangun rumah dan memberikan akses finansial bagi konsumen untuk mendapatkan rumah impian. Hal ini belum dilakukan pemain semen lain.

Lalu, Holcim juga membuat sarana pengangkut semen dalam ukuran lebih kecil dari truk semen pada umumnya, dinamakan Minimix. Terbukti Minimix sangat berguna untuk memasuki jalan-jalan kecil di Jakarta yang merupakan kota dengan tingkat kemacetan tinggi.

Holcim pun sukses melakukan co-branding dengan beberapa pebisnis di daerah, dan menawarkan kesempatan franchise untuk Solusi Rumah dan Holcim Beton. Untuk Solusi Rumah, Holcim menawarkan waralabanya sejak 2008, sedangkan Holcim Beton baru mulai Juni 2009. Melalui PT Holcim Beton, grup ini ingin membuat terobosan dalam perluasan pasar dengan melibatkan masyarakat, dengan konsep waralaba. Cara ini pertama kali ada di Indonesia.

Konsep itu sudah diterapkan Holcim di Thailand dan sukses. Di Thailand, dari 77 batching plant Holcim, sekitar 22 dikelola mitra investor. Konsep ini akan menguntungkan Holcim yang sekarang memiliki dua manufacturing plant (Narogong-Bekasi dan Cilacap-Jawa Tengah). Para investor dapat menyediakan beton jadi kepada pelanggan di daerah masing-masing dengan dukungan tenaga ahli dari Holcim Beton, termasuk pengiriman yang terkomputerisasi dan kendali mutu berstandarkan ISO 9001. Beton jadi yang dihasilkan para mitra itu akan memiliki kualitas sama dengan produksi Holcim Beton.

Berbagai upaya perbaikan organisasi yang dilakukan sejak 2002 itu membawa hasil memuaskan. Holcim sukses membenahi berbagai aspek, seperti SDM, produksi, distribusi produk dan strategi pemasaran. Kini Holcim telah menjadi perusahaan solusi bangunan, bukan semata-mata berjualan semen.

Dari sisi keuangan, prestasi itu juga tampak. Akhir 2008, laba bersih yang dikantongi mencapai Rp 282,2 miliar, meningkat 66,59% dibanding tahun 2007 yang hanya Rp 169,4 miliar. Per kuartal III/2009 penjualan naik 8,3% menjadi Rp 4,1 triliun, dari Rp 3,8 triliun pada periode yang sama tahun 2008. Di seluruh Indonesia, Holcim menguasai 14% pangsa pasar semen. “Tiga tahun terakhir ini kami tumbuh cukup tinggi di Jawa, Sumatera dan Bali yang menjadi fokus kami,” tutur Ginley.

Ginley mengaku cukup sulit mengukur berapa besar dampak perubahan manajemen terhadap bisnis perusahaan. Ini memberikan gambaran bahwa banyak penghematan capital expenditure investasi yang dapat diperoleh dengan adanya berbagai program peningkatan mutu SDM dan manajemen tersebut, persentasenya mencapai 50%. “Karena dari total investasi perusahaan, 50% adalah kontribusi dari inovasi para pekerja, dan sisanya barulah hal-hal lain seperti teknologi dan peralatan,” ujarnya. Dia juga meriset, selama ini semua hasil inovasi bukan berasal dari teknologi. “Itu inovasi murni dari SDM.”

Yang jelas, apa pun yang dihadapi, manajemen Holcim berusaha selalu membangun komunikasi dengan karyawan. Jangan heran, dalam setahun setidaknya dilakukan tiga kali business briefing yang diikuti karyawan. Pada kesempatan itu biasanya direksi mengomunikasikan kondisi bisnis perusahaan.

Untuk rencana jangka panjang, Holcim akan terus berekspansi, seperti di Jawa Barat dan Jawa Timur. Holcim memang masih akan berkonsentrasi di Jawa sebagai pasar yang terus berkembang. Menurut Ginley, pihaknya juga akan terus memperkuat ekuitas merek karena peluncuran merek Holcim Indonesia baru dilakukan tiga tahun lalu.

Steve Sudjatmiko, pemerhati bidang manajemen, melihat hal yang luar biasa dari Holcim Indonesia adalah keberadaan Holcim Academy serta pengiriman karyawan ke negara lain atau penugasan internasional karena hal itu meningkatkan kapabilitas orang. “Sharing ilmu antarnegara akan meningkatkan kemampuan para karyawan,” katanya. Perusahaan Jepang biasanya juga mau menularkan ilmu kepada anak-anak perusahaan atau bahkan ke agen-agen mereka seperti Toyota dan Honda.

Holcim juga dinilai Steve mampu melakukan inovasi yang belum banyak dilakukan kompetitornya. Mulai dari Solusi Rumah dan Holcim Beton yang diwaralabakan hingga Minimix yang memang tepat untuk jalanan yang tidak cukup lebar dan kuat seperti di Indonesia. “Apalagi, pola franchise tepat untuk meningkatkan sales, memperkuat market share, dan sekaligus menurunkan biaya operasional. Franchise memangkas biaya karyawan dan manajemen di daerah yang sulit dikontrol,” katanya.

Sisi lain yang dilihat Steve, manajemen puncaknya solid, terbuka dan sangat aktif berubah terutama bila perubahan itu untuk memenuhi tuntutan konsumen. “Holcim berusaha membuat seluruh organisasi terus berubah,” ujarnya. Saran Steve adalah Holcim memiliki “self-running system” agar karyawannya siap berubah tanpa dorongan dari atas.

Ginley sendiri tak menampik pihaknya telah mengeluarkan cukup banyak uang demi program restrukturisasi. Termasuk untuk biaya konsultan berskala internasional yang berbasis di Indonesia yang digunakannya. Namun, menurutnya, kesuksesan bukan soal uang, melainkan soal sikap para direksi dan jajaran manajer. Di lain sisi, Ginley pun merasakan, dalam memperbaiki tidak bisa simsalabim 1-2 minggu selesai. “Kami butuh 7 tahun untuk menerapkan konsep ini. Kami serius menginvestasikan waktu kami untuk menjalankan program ini,” tuturnya. Ya, memang butuh kesabaran untuk mencapai sebuah tujuan besar, persis seperti diutarakan Chuck Tanner, si bintang bisbol Amerika di atas. Bagaimana perusahaan Anda?

Reportase: Kristiana Annisa

Sumber: www.swa.co.id

 

Strategi HOLCIM memenagkan Persaingan

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,19/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Jumat, 05 Februari 2010 18:02

Persaingan bisnis menuntutnya melakukan pengembangan organisasi. Sejumlah programpun digelar. Hasilnya, positif.

“There are three secrets to managing. The first secret is have patience. The second is be patient. And the third most important secret is patience.”

Kalau Chuck Tanner membuat kesimpulan seperti itu, tentu bukan untuk lelucon. Bagi Tanner, kesabaran betul-betul kunci sukses, utamanya ketika harus mengelola banyak orang hebat menuju sebuah tujuan. Chuck membuat kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman suksesnya bertahun-tahun mengelola tim bisbol hebat mulai dari Chicago White Sox, Oakland Athletics, Pittsburgh Pirates, Atlanta Braves hingga tim America All Star 2006.

Di dunia bisnis, PT Holcim Indonesia Tbk. tampaknya termasuk memegang prinsip itu. Kesabaran. Itu sangat terlihat ketika produsen semen ini melakukan restrukturisasi serta pengembangan organisasi untuk menjadi winning company di tengah sengitnya persaingan. Ketika banyak perusahaan lebih memilih cara instan untuk membentuk winning team sebagai pilar winning company, Holcim memilih caranya sendiri. Pengelolaan SDM, misalnya. Sementara yang lain membajak SDM atau tim dari perusahaan lain, Holcim memilih memekarkan dari dalam, walaupun memang, butuh waktu lebih lama. “Kami butuh bertahun-tahun agar restrukturisasi berjalan seperti sekarang,” ungkap Eamon Ginley, Presdir Holcim. Namun, SDM hanyalah satu sisi dalam pembentukan winning team. Sejumlah langkah lain dilakukan.

Bila dikilas balik, Holcim memang berkepentingan memiliki organisasi yang inovatif dan adaptif. Perusahaan yang awalnya bernama PT Semen Cibinong ini mengalami sejumlah persoalan ketika diakuisisi Grup Holcim tahun 2002. Saat itu perusahaan masih merasakan dampak krisis ekonomi 1998. Banyak karyawan cemas dan menduga-duga apa yang akan terjadi pada perusahaan. Semen Cibinong berada di urutan ketiga di pasar. “Posisi kami ketiga, tetapi jaraknya dengan perusahaan di atasnya cukup lebar,” ungkap Ginley.

Pendeknya, ada banyak hal yang harus dibenahi pada 2001-02. Dari sisi positioning bisnis, sebut contoh, Holcim memutuskan mengubah dari yang berbasis bisnis komoditas menjadi perusahaan pemberi solusi dan inovasi bagi pelanggan. Lalu, membangun ekuitas merek. Maklum, perusahaan yang 77,33% sahamnya dikuasai Grup Holcim ini tahun itu masih menggunakan merek Semen Cibinong.

Melihat persoalan dan tuntutan, akhirnya manajemen memutuskan memperbaiki organisasi dulu, melalui program restrukturisasi di berbagai lini. Perbaikan pertama dilakukan di bidang SDM. “Kami yakin pengorganisasian SDM yang baik akan memberi dampak yang lebih besar daripada perubahan dalam hal pemasaran dan inovasi,” Ginley memberi alasan. Di antara upaya perbaikan SDM itu, melembagakan sistem yang disebut Holcim Academy. Ini bukanlah lembaga pendidikan, melainkan konsep peningkatan mutu SDM. Di dalamnya ada sejumlah program yang dianggap penting. Contohnya, people development program dan succession planning. Tujuan program yang dilakukan sejak awal 2005 ini adalah menetaskan leader untuk memimpin unit-unit organisasi.

Holcim Academy juga menyelenggarakan program Organizational Performance Improvement (OPI). Melalui program ini, Holcim mengambil beberapa orang terbaiknya, lalu diberi pelatihan untuk menjadi coach. Setelah dilatih, mereka dikembalikan ke unit area untuk membantu proses perubahan selama sekitar 8 bulan. Program itu berlaku bagi seluruh lapisan karyawan, dari kepala departemen sampai level terendah. OPI seperti program yang membangun DNA perusahaan. Dari sini diharapkan senantiasa muncul ide-ide baru dari karyawan.

Bicara Holcim Academy, Ginley menganalogikannya seperti mesin yang bisa membuat roda pengembangan organisasi terus berjalan. Di sini banyak dikombinasikan berbagai manufacturing technique dan best practice bidang manajemen dari perusahaan-perusahaan terbaik dunia. Di dalamnya ada proses pemilihan, rekrutmen dan induksi. “Ini semua terlaksana dengan talent management yang juga merupakan bagian dari Holcim Academy.”

Sebenarnya, Ginley menambahkan, elemen-elemen pada Holcim Academy cukup sederhana, tetapi penerapan yang benar dan terintegrasi membuatnya jadi sangat berarti. Pihaknya butuh lebih dari 6 bulan untuk mempersiapkan diri sebelum program itu siap dipakai. Saat ini Holcim Indonesia memiliki 2.500 karyawan yang semuanya terlibat dalam program peningkatan kualitas SDM tersebut.

Untuk pengadaan karyawan, Holcim lebih suka membina sendiri ketimbang mengambil dari luar yang sudah jadi. Dikembangkan program pelatihan bagi karyawan baru yang disebut Graduate Development Program. “Kami lebih suka membangunnya dari dalam, lebih efisien,” kata Ginley yang pernah ditugaskan di Holcim Selandia Baru, Cina dan Australia. Bahkan, ketika akan mengisi jabatan posisi mid-level career pun, Holcim lebih suka mencari dari dalam dulu. Tak mengherankan, di office board sering terdapat pengumuman lowongan kerja untuk internal.

Penyiapan winning organization juga dilakukan dengan mengirimkan sejumlah karyawan ke negara-negara di mana ada bisnis Holcim. Ada program penugasan internasional. Karyawan Holcim di Indonesia dimungkinkan bekerja di negara lain seperti Meksiko, Filipina dan Malaysia. Karyawan juga dikirim ke pertemuan inovasi. Tahun 2008, misalnya, ada Asian Marketing Board yang dihadiri lebih dari 100 peserta dari 12 negara Asia. “Ini ajang untuk pertukaran ide dan inovasi di antara para awak marketing yang sangat berguna,” kata Ginley seraya menjelaskan, perusahaannya berubah nama dari PT Semen Cibinong menjadi PT Holcim Indonesia Tbk. pada 2006.

Tak hanya itu, organisasi yang inovatif juga dirancang melalui berbagai program resmi. Contohnya, Holcim rutin mengadakan CEO Award yang dengan itu masing-masing unit bisnis bisa saling melihat dan berkompetisi mana saja yang memiliki ide inovatif. “Program yang menarik, karena membuat lebih banyak ide bagi perusahaan,” ungkap Ginley. Bahkan saking seriusnya, sejak 2004 Holcim pun merestrukturisasi susunan dewan direksi dengan membentuk Direktorat Pemasaran & Inovasi. Jadi, ada direktur tersendiri yang membawahkan bidang pemasaran dan inovasi. Tim ini tidak hanya fokus pada pemasaran dan penjualan, tetapi juga inovasi. Tujuannya, agar lebih inovatif dalam memberi solusi kepada pelanggan dan dalam menciptakan saluran pemasaran.

Ya, program-program inovasi memang menjadi prioritas manajemen Holcim agar perusahaan jadi winning company. “Kelebihan Holcim Indonesia dibanding perusahaan semen lainnya adalah inovasi,” kata Ginley mengklaim. Inovasi dinilai sangat penting karena Holcim tidak cukup besar untuk berani berkompetisi dengan menawarkan harga yang terendah di pasar.

Yang jelas, pelbagai upaya itu tampaknya tak sia-sia, terutama bila melihat efektivitas program yang dilakukan dalam dua tahun belakangan dan juga kinerjanya. Hal itu tampak dari program-programnya yang inovatif seperti membangun positioning perusahaan, melakukan product branding, dan membangun saluran-saluran baru pemasaran. Salah satu inovasinya, Solusi Rumah, suatu produk yang menawarkan bantuan membangun rumah dan memberikan akses finansial bagi konsumen untuk mendapatkan rumah impian. Hal ini belum dilakukan pemain semen lain.

Lalu, Holcim juga membuat sarana pengangkut semen dalam ukuran lebih kecil dari truk semen pada umumnya, dinamakan Minimix. Terbukti Minimix sangat berguna untuk memasuki jalan-jalan kecil di Jakarta yang merupakan kota dengan tingkat kemacetan tinggi.

Holcim pun sukses melakukan co-branding dengan beberapa pebisnis di daerah, dan menawarkan kesempatan franchise untuk Solusi Rumah dan Holcim Beton. Untuk Solusi Rumah, Holcim menawarkan waralabanya sejak 2008, sedangkan Holcim Beton baru mulai Juni 2009. Melalui PT Holcim Beton, grup ini ingin membuat terobosan dalam perluasan pasar dengan melibatkan masyarakat, dengan konsep waralaba. Cara ini pertama kali ada di Indonesia.

Konsep itu sudah diterapkan Holcim di Thailand dan sukses. Di Thailand, dari 77 batching plant Holcim, sekitar 22 dikelola mitra investor. Konsep ini akan menguntungkan Holcim yang sekarang memiliki dua manufacturing plant (Narogong-Bekasi dan Cilacap-Jawa Tengah). Para investor dapat menyediakan beton jadi kepada pelanggan di daerah masing-masing dengan dukungan tenaga ahli dari Holcim Beton, termasuk pengiriman yang terkomputerisasi dan kendali mutu berstandarkan ISO 9001. Beton jadi yang dihasilkan para mitra itu akan memiliki kualitas sama dengan produksi Holcim Beton.

Berbagai upaya perbaikan organisasi yang dilakukan sejak 2002 itu membawa hasil memuaskan. Holcim sukses membenahi berbagai aspek, seperti SDM, produksi, distribusi produk dan strategi pemasaran. Kini Holcim telah menjadi perusahaan solusi bangunan, bukan semata-mata berjualan semen.

Dari sisi keuangan, prestasi itu juga tampak. Akhir 2008, laba bersih yang dikantongi mencapai Rp 282,2 miliar, meningkat 66,59% dibanding tahun 2007 yang hanya Rp 169,4 miliar. Per kuartal III/2009 penjualan naik 8,3% menjadi Rp 4,1 triliun, dari Rp 3,8 triliun pada periode yang sama tahun 2008. Di seluruh Indonesia, Holcim menguasai 14% pangsa pasar semen. “Tiga tahun terakhir ini kami tumbuh cukup tinggi di Jawa, Sumatera dan Bali yang menjadi fokus kami,” tutur Ginley.

Ginley mengaku cukup sulit mengukur berapa besar dampak perubahan manajemen terhadap bisnis perusahaan. Ini memberikan gambaran bahwa banyak penghematan capital expenditure investasi yang dapat diperoleh dengan adanya berbagai program peningkatan mutu SDM dan manajemen tersebut, persentasenya mencapai 50%. “Karena dari total investasi perusahaan, 50% adalah kontribusi dari inovasi para pekerja, dan sisanya barulah hal-hal lain seperti teknologi dan peralatan,” ujarnya. Dia juga meriset, selama ini semua hasil inovasi bukan berasal dari teknologi. “Itu inovasi murni dari SDM.”

Yang jelas, apa pun yang dihadapi, manajemen Holcim berusaha selalu membangun komunikasi dengan karyawan. Jangan heran, dalam setahun setidaknya dilakukan tiga kali business briefing yang diikuti karyawan. Pada kesempatan itu biasanya direksi mengomunikasikan kondisi bisnis perusahaan.

Untuk rencana jangka panjang, Holcim akan terus berekspansi, seperti di Jawa Barat dan Jawa Timur. Holcim memang masih akan berkonsentrasi di Jawa sebagai pasar yang terus berkembang. Menurut Ginley, pihaknya juga akan terus memperkuat ekuitas merek karena peluncuran merek Holcim Indonesia baru dilakukan tiga tahun lalu.

Steve Sudjatmiko, pemerhati bidang manajemen, melihat hal yang luar biasa dari Holcim Indonesia adalah keberadaan Holcim Academy serta pengiriman karyawan ke negara lain atau penugasan internasional karena hal itu meningkatkan kapabilitas orang. “Sharing ilmu antarnegara akan meningkatkan kemampuan para karyawan,” katanya. Perusahaan Jepang biasanya juga mau menularkan ilmu kepada anak-anak perusahaan atau bahkan ke agen-agen mereka seperti Toyota dan Honda.

Holcim juga dinilai Steve mampu melakukan inovasi yang belum banyak dilakukan kompetitornya. Mulai dari Solusi Rumah dan Holcim Beton yang diwaralabakan hingga Minimix yang memang tepat untuk jalanan yang tidak cukup lebar dan kuat seperti di Indonesia. “Apalagi, pola franchise tepat untuk meningkatkan sales, memperkuat market share, dan sekaligus menurunkan biaya operasional. Franchise memangkas biaya karyawan dan manajemen di daerah yang sulit dikontrol,” katanya.

Sisi lain yang dilihat Steve, manajemen puncaknya solid, terbuka dan sangat aktif berubah terutama bila perubahan itu untuk memenuhi tuntutan konsumen. “Holcim berusaha membuat seluruh organisasi terus berubah,” ujarnya. Saran Steve adalah Holcim memiliki “self-running system” agar karyawannya siap berubah tanpa dorongan dari atas.

Ginley sendiri tak menampik pihaknya telah mengeluarkan cukup banyak uang demi program restrukturisasi. Termasuk untuk biaya konsultan berskala internasional yang berbasis di Indonesia yang digunakannya. Namun, menurutnya, kesuksesan bukan soal uang, melainkan soal sikap para direksi dan jajaran manajer. Di lain sisi, Ginley pun merasakan, dalam memperbaiki tidak bisa simsalabim 1-2 minggu selesai. “Kami butuh 7 tahun untuk menerapkan konsep ini. Kami serius menginvestasikan waktu kami untuk menjalankan program ini,” tuturnya. Ya, memang butuh kesabaran untuk mencapai sebuah tujuan besar, persis seperti diutarakan Chuck Tanner, si bintang bisbol Amerika di atas. Bagaimana perusahaan Anda?

Reportase: Kristiana Annisa

Sumber: www.swa.co.id

 

The Product and The Brand

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,19/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 07 Desember 2009 10:18


“Awalnya, merek (brand) digunakan untuk membedakan sebuah produk di antara produk lain yang sejenis. Dengan menggunakan merek, sebuah produk akan keluar dari kategori produk komoditas, yang harganya ditentukan oleh hukum pasar. Oleh karena itu, produk bermerek berkesempatan memasang harga di atas rata-rata harga pasar.

Tahun 1955 di Harvard Business Review, tayang sebuah artikel bertajuk “The Product and The Brand” tulisan Burleigh Garder dan Sidney Levy, yang semakin memperjelas perbedaan antara merek dan produk. Konsep merek mulai dirumuskan pada tahun 1980-an, termasuk bagaimana mengukur nilai sebuah merek (brand equity). Kemudian, istilah merek pun semakin populer pada tahun 1990-an, dan menjadi bahasan utama dalam bidang pemasaran.

Dulu, sebuah merek cukup dengan nama yang unik, slogan nan indah, desain logo cantik atau jingle iklan populer. Manajemen merek pun ditujukan untuk meningkatkan nilai merek, dengan program pemasaran terpadu, promo, iklan ataupun program kehumasan. Saat itu, semua merek bekerja keras untuk meraih brand value, brand strength, top of mind, brand awareness, dan brand loyalty, yang ujung-ujungnya akan melipatgandakan brand equity masing-masing.

Kini, Anda sebagai pemilik merek sepertinya harus mengubah paradigma tentang merek. Mungkin benar, di era New Wave sekarang ini, “Merek adalah Karakter”. Ya, tidak cukup hanya membangun merek, tetapi juga harus membangun karakter. Merek hanyalah selubung yang membungkus karakter sesungguhnya dari produk atau bisnis Anda. Karakter berkaitan dengan siapa Anda yang sebenarnya, dan bagaimana masyarakat melihat Anda apa adanya. Oleh karena itu, proses membangun karakter ini harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan yang universal, seperti kejujuran, saling menghormati, tanggung jawab, prinsip keadilan, peduli satu sama lain, dan rasa kemanusiaan.

Satu hal lagi, bukan perusahaan raksasa saja yang harus membenahi karakter mereknya. Setiap pemilik merek semestinya melakukan hal yang sama, bahkan untuk level usaha kecil menengah (UKM). Seperti yang saat ini saya lakukan untuk BaksoGranatz, sebuah merek gerai bakso di daerah Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah. Hal itu diawali dengan menciptakan nama yang unik, kemudian desain logo yang sesuai, termasuk dengan menjaring komunitas melalui situs jejaring sosial Facebook. Karena target market BaksoGranatz lebih ke konsumen usia muda, karakter BaksoGranatz dirancang seperti anak muda zaman sekarang, yang kreatif, open mind, segar, dan selalu semangat. Itu tentu saja tanpa melupakan nilai kejujuran dan kebaikan universal lainnya.”

Nah, bagaimana dengan Anda?

Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

Editor: Edj
 

Airasia HSBC Credit Card Best Co-Branding Product

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,19/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 27 Oktober 2009 23:18

AirAsia HSBC Card meraih penghargaan sebagai “Indonesia Best Co-Brand Product” dalam ajang Lafferty Cards Asia 2009 yang diselenggarakan Lafferty Group, sebuah perusahaan layanan riset dan jasa konsultasi perbankan internasional. Penghargaan ini diberikan berdasarkan survei yang dilakukan terhadap lebih dari 5.000 responden yang terdiri dari para pemengang kartu pembayaran yang tersebar di lima kawasan, melalui metode on-line research. Survei ini dilakukan pada periode August hingga September 2009.

"AirAsia HSBC Card telah hadir sejak akhir 2008 sebagai bentuk kerjasama co-brand antara perbankan dengan penerbangan regional pertama di Indonesia. Sejak itu, kami berkomitmen untuk terus memberikan inovasi layanan yang terbaik guna menjawab kebutuhan nasabah akan fasilitas pembayaran penerbangan yang mudah dan menguntungkan.,”. ujar Wawan Salum, Head of Marketing HSBC Indonesia .

Widijastoro Nugroho, Marketing & Distribution Director PT. Indonesia AirAsia menambahkan, AirAsia HSBC Card memiliki keunikan tersendiri dimana kartu kredit ini merupakan kombinasi antara kartu kredit dan loyalty card.

Maskapai lain pada umumnya mempunyai milages program yang terpisah dari kartu kreditnya, sedangkan dengan AirAsia HSBC Card konsumen hanya perlu memiliki satu kartu yang bisa berlaku sebagai milage loyalty program. Dengan bergabungnya AirAsia selaku pemimpin maskapai penerbangan berbiaya hemat di Asia dan di dukung oleh konektifitas AirAsia dan AirAsia X bekerjasama dengan HSBC yang memiliki pengalaman dalam bidang credit card, menghasilkan suatu co brand produk yang sangat kreatif dan menarik. AirAsia berkomitmen untuk membesarkan dan terus berinovasi melalui kartu kredit AirAsia HSBC untuk meningkatkan layanan dan loyalty program kepadapelanggannya. &nb sp;

AirAsia HSBC Card menawarkan 3 keuntungan istimewa yang berupa exclusive fare yaitu: harga extra spesial untuk pemegang kartu AirAsia HSBC, priority booking yaitu prioritas pemesanan tiket 1 hari terlebih dahulu dari umum sehingga tidak perlu berebut serta EGV yaitu rewards points yang dikonversikan menjadi electronic gift voucher yang dengan fleksibel dapat digunakan untuk setiap transaksi dengan AirAsia. Pemegang kartu dapat mulai mencairkan Rp. 50.000 AirAsia voucher untuk 8.000 AirAsia poin saja, sehingga dapat memberikan kesempatan bagi mereka untuk menikmati penerbangan dengan AirAsia lebih banyak.

Berbeda dengan program loyalty lainnya, rewards points ini tidak hanya dikumpulkan saat membeli tiket AirAsia tetapi juga ketika nasabah berbelanja sehari – hari, di manapun dan kapanpun mereka berbelanja. Di atas semua keistimewaan yang dapat dinikmati di Indonesia, melalui jaringan global HSBC dan AirAsia, nasabah juga dapat menikmati akses kepada 29 juta merchant/mitra usaha dan di lebih dari 1 juta jaringan ATM yang tersebar di lebih dari 170 negara.
 

Revitalisasi Gudang Garam dan Surya Slim

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,19/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 26 Oktober 2009 10:57

Ribuan muda-mudi tampak menyemut di area Pantai Karnaval Ancol, Jakarta. Menjelang senja, mereka sudah siap-siap memasuki area perhelatan musik rock internasional yang digelar selama tiga hari berturut-turut, 7-9 Agustus lalu. Padahal, Mr. Big—band rock legendaris itu—baru akan unjuk kebolehan pada penghujung malam. Persisnya, pukul setengah dua belas malam.

Konser musik rock tadi boleh dibilang festival musik rock internasional terakbar di Asia Tenggara. Ya, di konser milik Gudang Garam International (GGI) itu, sejumlah band internasional ternama di hadirkan. Sebutlah Mr. Big, Vertical Horizon, Mew, Third Eye Blind, Melee, Serenade, Joujouka, Motherjane, dan Bagga Bownz. Itu belum termasuk band rock lokal macam Gigi, Rif, Slank, dan lainnya. Tidak mudah tentunya, meyakinkan mereka untuk tampil di Tanah Air, pasca ledakan bom bunuh diri di Hotel JW Mariot dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu.

Menarik dicermati dari event bertajuk “Gudang Garam Inter Music Java Rockin'Land” itu adalah penampilan para penonton yang menyambangi konser. Jauh dari bayangan, hampir sebagian besar muda-mudi yang hadir berkonstum modis dengan model fashion kekinian. Yang perempuan bisa berpakaian sexy dengan hot pants yang dipadu tank top. Sementara sang pria, jarang sekali ditemukan tubuh bertindik aksesoris anting-anting, apalagi berambut gondrong. Bahkan dari sisi usia, sedikit sekali audience yang sudah berumur, alias tua.

Tentu saja fakta itu sesuai harapan. Sebagai merek yang tengah direvitalisasi atau diremajakan, GGI memang tengah meminang pasar baru, pasar dewasa muda. Setelah upaya revitalisasi lewat TVC-nya yang tayang pada Mei lalu, diakui Head of Promotion PT Gudang Garam Tbk. Hokiono, konser musik rock tersebut merupakan upaya lanjutan dari revitalisasi. “Obyektifnya, GGI bisa menjadi brand yang muda dan dinamis,” katanya.

Dengan harga tiket Rp 200 ribu per tiketnya, event tersebut sanggup menyedot animo massa yang jumlahnya melebihi ekspektasi. Hari pertama mencapai 20 ribu pengunjung, hari kedua yang menghadirkan Mr. Big mencapai 70 ribu pengunjung, dan hari ketiga angka perngunjung menembus 40 ribu. Bukan tidak mungkin event Gudang Garam InterMusic Java Rockin'Land bakal menjadi anchor event bagi GGI yang siap digelar tiap tahunnya.

Jatuhnya pilihan pada event musik, menurut Deputy Director PT Gudang Garam Tbk. Istata Siddharta, “Karena, musik adalah bahasa universal. Dan mengapa musik rock, lantaran GGI telah lama identik dengan musik keras.” Selain itu, diangkatnya genre rock dalam rangka revitalisasi ini demi menguatkan positioning GGI sebagai rokoknya para pria.

Sebelumnya, GGI menggelar “Road to Gudang Garam InterMusic Java Rockin'Land” di empat kota, yakni Semarang, Surabaya, Jogja, dan Bandung. “Beberapa band yang tampil di Ancol, tampil juga di empat kota tersebut. Untuk event musik gratis ini, animo pengunjung di daerah luar biasa hingga bisa mencapai 10 ribuan,” timpal Chandra Gunawan, Brand Manager PT Gudang Garam Tbk.

Upaya revitalisasi tidak cuma berlaku pada GGI. Merek Gudang Garam lainnya, seperti Gudang Garam Merah (GGM) turut dibenahi. Sebagai brand yang jauh lebih tua dari GGI, diterangkan Istata, GGM juga harus mengikuti perkembangan pasar. “Setiap produk memang ada naik-turunnya. Dulu, GGM memang big player dan cukup lama mengalami penurunan,” akunya.

Untuk itu, Gudang Garam memilih jalur revitalisasi merek. Salah satunya, dengan melakukan improvement dari sisi marketing. “Selain makin menguatkan kualitas produk dengan harga yang terjangkau atau good value, dari sisi marketing GGM juga di-improve,” ungkap Istata.

Langkah pertama, meriset ulang apakah tagline GGM yang lama, Buktikan Merahmu, masih cukup kuat. “Akhirnya, diputuskan melempar tagline baru, tanpa meninggalkan yang lama, yakni Nyalakan Merahmu,” urai Chandra.

Selanjutnya, sepanjang Agustus 2009 (2-17 Agustus), aktivitas merek GGM bertajuk “Pentas Gudang Garam Merah Spekta-fest” digelar secara bergilir di tujuh kota. Kali ini, selaras dengan target marketnya yang memang kelas menengah bawah, maka aktivitas GGM yang dibungkus bak pesta rakyat yang meriah dan bergengsi serta jauh dari kesan kampungan, digelar di tingkat kabupaten di wilayah Tasik, Tegal, Cirebon, Lampung, Semarang, Palembang, dan Bogor.

Inti acaranya adalah kompetisi kegiatan yang biasa dilangsungkan di daerah, seperti lomba panjat pinang antardesa, lomba futsal, lomba bakiak, dan sebagainya. Tentu saja, aneka perlombaan itu diselingi dengan hiburan utama musik pop dari band-band yang sudah terkenal seperti Five Minutes dan The Titans yang dikombinasikan dengan dangdut. “Dari empat kabupaten, setiap event Spekta-Fest selalu dipadati 20 ribuan pengunjung,” Chandra menerangkan.

Harapannya, melalui rentetan aktivitas itu, GGM bisa semakin dekat dengan konsumen. “Agar tidak ada lagi hambatan emosional untuk mengkonsumsi GGM,” tambah Chandra. Jamak saja, sebagai merek yang telah berumur puluhan tahun, anak muda yang ingin mengkonsumsi GGM memang mengalami hambatan emosional, berupa gengsi contohnya.

Sampai Agustus ini, Gudang Garam memang tengah fokus membenahi sejumlah mereknya. Selain GGI dan GGM, Gudang Garam pun mulai serius menggarap pasar mild. Awal Juli lalu misalnya, Gudang Garam melempar varian anyar Surya Slims, yaitu Surya Slims Premium dalam kemasan berwarna putih yang tampak sophisticated.

“Kami bandrol harganya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Surya Slim regulernya,” tuturnya. Hanya saja, hingga saat ini Gudang Garam masih menimbang waktu yang tepat untuk menggencarkan kegiatan merek Surya Slims Premium, si Putih yang Menawan—yang menyasar pasar kelas A dan B yang ber-life style. “Iklan TV-nya sudah ada. Tapi, memang belum begitu gencar,” akunya.


Pasar Rokok Melesu

Merujuk data Nielsen periode Januari-Mei 2009, pasar rokok sejatinya tengah melesu—tak heran para pemain di industri ini melakukan berbagai marketing action untuk menyiasati market yang sedang bearish, market size-nya melorot 3,5%. Namun, kemerosotan tadi tak menular pada GGI. Diakui Istata, sampai saat ini GGI masih menjadi salah satu market leader di pasar Sigaret Kretek Mesin Full Flavour.

Kinerja GGM jauh lebih fantastis. Berdasarkan sumber MIX, di tengah melesunya pasar rokok, GGM menjadi merek yang sanggup mencetak kenaikan penjualan tertinggi. “GGM memang tetap merupakan salah satu key player di pasar Sigaret Kretek Tangan,” tegas Istata, yang enggan menyebut nilai penjualan dari GGM.

Ke depan Gudang Garam bakal secara bertahap membenahi merek-mereknya yang lain. Sayangnya, Istata menolak menceritakan brand-brand mana saja—setelah GGI, GGM, dan Surya Slims—yang akan segera direvitalisasi. “Saya masih belum bisa cerita,” pungkas Istata.

 

 

Sumber: http://mix.co.id

 

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 3

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image