Dibalik Campaign JK-Win

Senin, 22 Juni 2009 12:05
jk-win-raja1Pesta Pemilihan Presiden (Pilpres) adalah adalah perang citra. Setiap tim kampanye berlomba memoles citra sang kandidat agar publik terpikat dan memilih mereka saat hari H pada saat hari pemungutan suara.

Irfan Asy’ari Sudirman mungkin tidak terlalu familiar dikalangan komunitas politik, walaupun berasal dari keluarga politikus. Sebab memang ia bukanlah politikus, namun perannya sebagai konsultan politik pasangan Jusuf Kalla – Wiranto cukup dominan. Dialah yang memoles pasangan JK-Win ini sedekimian rupa sehingga masyarakat mulai melirik dan tertarik pada pencitraan pasangan capres 2009 ini.

Seseorang yang lebih populer dipanggil Ipang,  yang  memiliki nama belakang Wahid karena dia memang cucu KH Wahid Hasyim, tokoh besar NU. Dia adalah putra KH Salahudin Wahid atau yang populer disebut Gus Sholah. Jadi, dia termasuk keponakan Gus Dur, mantan presiden.

Kendati keluarganya komunitas politikus terpandang, Ipang tidak  terjun dalam dunia politik praktis. Dia malah menceburkan diri ke dunia profesional yang berhubungan dengan komunikasi dan pencitraan. Kini dia mendapat tugas berat untuk mendongkrak citra pasangan capres JK- Wiranto.

Melalui Fastcomm, perusahaan yang bergerak di bidang jasa komunikasi media, Irfan mengatur strategi komunikasi JK. Dia juga menangani sejumlah iklan untuk memperkenalkan lebih detail tentang sosok JK. Melalui iklan yang menonjolkan perannya di pemerintahan, pelan-pelan popularitas JK mulai naik.

Pria yang kini berusia 40 tahun itu mengakui, awalnya tidak mudah mendongkrak popularitas JK. Sebagai Wapres, JK selalu berada di bawah bayang-bayang SBY. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, banyak peran JK yang signifikan. “Memang ada yang mencibir, ngapain bantu JK yang elektabilitasnya cuma 3 persen,” ujarnya mengomentari pesimisme sejumlah kalangan ketika awal dirinya menerima job itu.

Bagi saya, elektabilitas awal itu tidak penting. Tapi, ada idealisme bahwa orang ini harus saya bantu. JK konsepnya bagus, sosoknya sendiri bagus. Kekurangannya cuma popularitas. Dia tidak sepopuler SBY. Itu saja,” ujarnya.

Apa strategi untuk mendongkrak suara JK-Wiranto? Irfan menyebut ada tiga fase yang dia rancang untuk memoles citra JK.

Fase pertama adalah introduction dengan menampilkan pernyataan sejumlah tokoh tentang sosok, kredibilitas dan kinerja JK. Mantan Menko Ekuin Kwik Kian Gie, Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi, dan mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, menyampaikan statemen tentang pribadi dan padangan hidup JK.

Fase kedua dan saat ini berjalan, adalah menampilkan iklan-iklan versi kemandirian. Sejumlah episode iklan tentang kemandirian, seperti pertemuan JK dengan Wapres Amerika Serikat Joy Biden, pembangunan bandara, dan kritik JK terhadap Departemen Pertanian, muncul terus di berbagai media televisi.

Pada fase kedua ini masyarakat mulai lebih tahu siapa itu JK, terutama pemilih rasional. Dan Anda lihat, popularitas JK mulai naik di perkotaan dan masyarakat terdidik yang cenderung rasional,” terang Irfan.

Namun, merangkul pemilih rasional tidak cukup bagi JK untuk melampaui popularitas SBY. Sebab, sebagian besar masyarakat masih memilih berdasarkan pertimbangan emosional. Segmen inilah yang hendak digarap Ipang pada fase ketiga. “Kami sadari itu. Mayoritas pemilih SBY itu emosional. Kami sudah menyiapkan materi-materi khusus untuk masuk ke segmen pemilih dengan karakter seperti itu,” katanya.

Ada sekitar lima versi iklan yang siap digeber Ipang pada fase ketiga. Namun, dia enggan membocorkan materi iklan yang akan dipublikasikannya. “Rahasia dong. Tapi, saya jamin akan menyentuh sisi emosional masyarakat,” tegas mantan konsultan Ahmad Heryawan yang sukses memenangi pemilihan gubernur Jabar itu.

Selain menggarap iklan, Ipang membantu mengatur pola komunikasi JK. Ada banyak hal unik yang dia temukan pada sosok saudagar Bugis itu. Dia mengakui tidak mudah mengubah sikap JK yang ceplas-ceplos, tak mau terikat birokrasi, serta selalu bertindak dan berpikir cepat. Sebab, gaya seperti itu adalah bawaan lahir.

Pak JK sudah terbiasa bertindak cepat. Dalam mengambil keputusan dia kadang tidak peduli orang mau appriciate atau tidak. Ini tidak penting bagi dia. Yang penting pekerjaan beres. Tetapi, di Pilpres, kita meminta beliau mengatur ritme. Sebab banyak orang yang memantau dan menilai”. Ungkap Ipang.

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image