Advertising

Terry Savage : Iklan Hebat Tidak Bisa Dibuat Hanya dari Belakang Meja !

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,18/task,userProfile/user,62/">Eddy Dwinanto Iskandar</a>   
Selasa, 27 Januari 2009 23:34

Bagi Anda yang menggeluti dunia pariwara, pasti tidak asing dengan Cannes Lions Advertising Festival. Sampai kini, Cannes Lions bisa dibilang sebagai perhelatan terakbar di dunia bagi para profesional di industri periklanan. Pada penyelenggarannya yang ke 56 tahun pada Juni 2009 besok, diperkirakan akan hadir 10.000 delegasi dari 80 negara dan 12.000 pengunjung dari industri periklanan dan industri terkait. Lebih dari 28.000 hasil karya insan periklanan akan ditampilkan dan dinilai oleh para juri ahli dari berbagai bidang, sinema, televisi, marketing, hingga outdoor advertising.

Bersama representasi resmi mereka di Indonesia (Femina Group), Terry Savage (50 tahun), Chairman Cannes Lions, menyambangi Indonesia. Tujuannya, mengajak para pelaku industri periklanan di Tanah Air aktif mengirimkan karya-karya kreatif terbaik mereka ke Cannes Lions. Berikut petikan wawancara SWA dengan pria berkebangsaan Australia yang sudah aktif di Cannes Lions selama lebih dari 20 tahun itu:

Apa manfaat Cannes Lions Advertising Festival bagi dunia periklanan Indonesia?

Cannes Lions sangat bermanfaat untuk diikuti karena memiliki dua point penting. Pertama ,sebagai sarana belajar karena Anda bisa mem-benchmark karya-karya terbaik periklanan dunia di sana. Tahun lalu, saja 28 ribu lebih karya periklanan dunia masuk dalam penilaian. Jadi benar-benar sarana yang baik untuk belajar. Selain itu, selama festival akan diselenggarakan 52 seminar dan 25 workshop.

Manfaat kedua sebagai sarana networking untuk menjalin kerjasama global di bidang periklanan. Karena ada sekitar 10 ribu orang periklanan yang akan hadir dari Italia, Amerika Serikat, Jepang, Australia dan sebagainya..

Bagaimana kinerja karya periklanan Asia di festival tersebut?

Asia sendiri telah menjadi pusat kreativitas yang terus bertumbuh. Dari tahap learning kini Asia telah menjadi center of excellence di dunia advertising. Dalam catatan kami, di tahun 2004 ada 2.646 entires dari Asia. Jumlah itu nyaris berlipat dua di tahun 2008 menjadi 4571 entries.

Yang juga penting adalah keberhasilan Asia. Di tahun 2002, Asia memenangkan 26 penghargaan di tahun 2008 mereka berhasil mendapatkan 97 penghargaan. Jelas Asia telah menjadi wilayah yang excellence dalam kancah periklanan. Kalau di rata-rata totalnya sekitar 20% penghargaan berhasil di gondol Asia. Jadi terlihat jelas orang Asia sangat berminat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Tahun 2007 Indonesia mengirim 35 entries dan di tahun 2008 mengirim 56 entries. Bandingkan dengan Thailand yang ditahun 2008 mengirim 500 entries dan Malaysia mengirim 300 entries.

Malaysia spending iklannya US$ 1,3 miliar, Thailand US$ 1,7 miliar. Sementara spending iklan Indonesia mencapai US$ 5,5 miliar. Indonesia itu pasar yang besar.

Kualitas seperti apa yang dicari para juri Cannes Lions?

Tidak ada jawaban tunggal mengenai karya yang hebat itu seperti apa. Yang kami cari adalah karya-karya yang luar biasa. Dan, itu tidak tergantung tempat dilahirkannya karya itu. Karya hebat adalah karya hebat, tidak perduli di mana dilahirkannya. Sifatnya lintas batas. Dan Anda tahu yang membuat sebuah karya semakin bersinar, kemampuan menangkap kultur lokal di dalamnya. Jadi begitu melihatnya Anda akan tahu itu iklan dari negara mana. Kita menggunakan budaya lokal itu untuk berbicara kepada khalayak sasaran kita.


Bagaimana caranya membuat iklan yang potensial menang di Cannes Lions ?

Tidak ada formula khusus untuk membuat iklan yang bagus. Tapi, yang pasti, Anda tidak bisa membuat iklan hebat kalau merumuskan konsepnya hanya dengan duduk di belakang meja. Kemarin ada iklan yang bagus dari India, dan salah seorang juri yang kebetulan mengenal pembuatnya mengatakan iklan itu dibuat dengan riset selama 6 bulan. Jadi Anda harus kerja keras untuk membuat iklan yang bagus dan kalau Anda percaya bisa membuat iklan yang bagus Anda pasti bisa.

Apa kritik Anda terhadap iklan-iklan Indonesia ?

Saya belum sempat memerhatikan iklan-iklan Indonesia, jadi saya tidak bisa memberi kritik.

Bagaimana perkembangan periklanan internet?

Memang untuk sekarang periklanan di internet belum berkembang. Tapi perkembangannya sungguh siginifikan semisal di tahun 2005 di Cannes Lions terdapat 561 entries di kategori cyber advertising, dan di tahun 2008 menjadi 2557 entries. Perkembangan internet advertising memang bersifat evolusioner karena bagaimana pun sifat produsen adalah risk averse, mereka harus hati-hati membelanjakan uangnya. Tapi itu hanya masalah waktu saja sampai akhirnya kuenya membesar begitu rupa.

Dan ingat dunia tidak bergerak dalam kecepatan yang sama. Kemajuan yang dicapai di belahan dunia lain tidak sama dengan yang dialami di tempat lain.

.links { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; color: #B50000; text-decoration: none; } .links:hover { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; color: #B50000; text-decoration: underline; } .normal { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 8pt; color: #000000 }
URL : http://swa.co.id/primer/pemasaran/advertising/details.php?cid=1&id=7952

 

Bagaimana Media Agensi Memperoleh Uang ?

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,18/task,userProfile/user,62/">Administrator</a>   
Kamis, 22 Januari 2009 18:08
Teman baikku pernah sekali berkata: jika kamu memberi akuntan RM100 untuk menjalankan bisnis, dia akan menghabiskan RM80, meninggalkanmu RM20 dan mengembalikannya sebagai keuntungan. Tetapi jika anda memberi orang marketing RM100, dia akan minta RM100 lagi, dan mengembalikan mu keuntungan sebesar RM300.

Jumlah kegentingan mentalitas telah meresap dalam ke industri periklanan tahun belakangan ini. Dari menjadi katalisator alami untuk bisnis dan pertumbuhan, kita telah menghentikan bisnis kita menjadi tambahan negatif yang berasal keadaan sifat dimana yang termurah akan selamat. Semangat yang menggembirakan dari perusahaan sekarang mengikuti.

Karena itu saya diberitahu awal tahun ini saat telekomunikasi utama Malaysia memproklamirkannya mengelola pasar saham tanpa menaikkan dana iklannya. Pujian bagi klien untuk memangkas biaya keperluan pertumbuhan pada pengeluaran perikanan. Tetapi ketika agensi koresponden juga memproklamirkan langkah ini dengan bangga, memunculkan sebuah pertanyaan dimana bisnis kita sebenarnya menghadap. Apakah seharusnya kita menjadi agen pertumbuhan? Ketika semua harga-harga dunia dimana-mana mulai naik, biaya periklanan mulai menurun! Dan kita dengan senang hati memutari semua ini.

Menembak kaki sendiri adalah satu hal, tetapi satu hari dunia kita akan berakhir jika kita meneruskan cara ini (hey, selalu ada kaki yang lain).

Jadi dimana uangnya? Mari renungkan sebentar, masuk ke dalam akun bagaimana uang periklanan dihabiskan. Bagian terbesar dari dana iklan pindah ke tempat media, harga dari penempatan periklanan di koran, di papan iklan, dll. Latihan komplex ini dipengaruhi oleh yang disebut spesialis media yang menjamur di industri Malaysia. Tetapi cerita ini berakhir dengan kisah sedih..

Anda lihat, rate penempatan iklan dan yang dibayar klien adalah cerita dongeng. Di suatu tempat di pertengahan dimana pertempuran dimainkan. Dipersenjati dengan ‘alat yang sesuai’ dan ‘pengertian strategi’ spesialis media yang mengelilingi klien untuk menghabiskan dana melalui mereka. Sebaliknya, mereka menghabiskan komisi media (15% biasanya untuk rate standart, tidak saya tidak bercanda).

Masalahnya adalah komisi media menjadi tebakan setiap orang, seperti tawar-menawar yang rumit (baca negosiasi) sistem yang berbau diskon, potongan harga, keramahan dan borongan telah menjadi pengetahuan terpisah.

Seperti kebanyakan kasus, klien mencari yang termurah (hadapi fakta). Ada perumpamaan saat klien mengumumkan singkat daftar agensi media dan berkata kepada mereka bahwa 12% pemotongan dikembalikan kepada mereka adalah keharusan!

Tragedi itu adalah saya percaya sedikitnya 30% dari media yang dihabiskan di negara tidak menjadi bagian dari agensi sedikitpun dari komisi. Lalu bagaimana mereka mendapat pemasukan? Datangnya dalam bentuk potongan dari pemilik media.

Lalu di atas komisi pemilik media biasa 15% diyakini digunakan untuk membayar agensi media (yang dengan gembira dikembalikan ke klien), mereka membagi jumlah yang lain di dalam bentuk potongan.

Dan jika anda mengikuti logika (kelihatannya berputar), dalam sedikit kasus, pemilik media menyangga agensi media dengan cara ini. Sedih kelihatannya, tetapi kisah ini semakin buruk saat anda belajar bagaimana frustasinya ini yang didapat untuk pemilik media yang biaya nya terus membengkak dari tahun ke tahun.

Dan bagaimana jika pemilik media, yang telah menghabiskan jutaan pada infrastruktur, satu hari berkata, “Saya tidak lagi bermain ini. Saya akan memberikan 15% komisi media dan itu berhenti disana.”

Seseorang harus membayar untuk sistem terus berlanjut. Dan jika pengiklan tidak membayar (dia terlalu sibuk tertawa sepanjang jalan ke bank!), lalu rantai makanan akan terputus.

Lalu dimana ini berakhir? Saya pikir jawabannya menjadi nyata bagimu, para pembaca.

Jaman pemilik media berada di sini!
 
Sumber : Adoimagazine
 

Djarum Menolak Biaya Pitching di Indonesia

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,18/task,userProfile/user,62/">Administrator</a>   
Kamis, 22 Januari 2009 18:05

Djarum Indonesia, produsen rokok ke-tiga terbesar, menjadi pihak pengiklan pertama yang menolak membayar biaya pitching kepada agensi-agensi yang ikut serta sejak Persatuan Periklanan Indonesia (PPPI) tahun lalu memperkenalkan protokol pitching.

Djarum, yang sebelumnya telah mengundang beberapa agensi untuk mengikuti pitching atas merek dagang LA Lights milik mereka, saat ini mengambil sikap diam perihal isu seputar biaya pitching tersebut, sehingga menyebabkan 3 agensi terpaksa mengundurkan diri, yaitu: Ogilvy & Mather, Publicis dan Hakuhodo.

Sebanyak 40 agensi local dan multinasional, yang kesemuanya adalah anggota PPPI, telah menandatangani protokol pitching yang mengharuskan pemberian biaya pitching. Kelompok tersebut dikenal sebagai Kaukus.

Draft FCB, satu-satunya agensi multinasional yang belum tergabung di dalam Kaukus tersebut, bersama beberapa agensi kecil lain masih menangani Djarum

Irfan Ramli, Sekretaris Jenderal PPPI menyatakan: “Kami tidak dapat memaksa pihak pengiklan untuk membayar biaya pitching. Kaukus akan mengadakan rapat di awal bulan September dan di sana kami akan membahas serta mengambil sikap terhadap masalah seperti ini.”

Ramli menekankan bahwa sejauh ini Kaukus cukup sukses, dan telah berhasil meyakinkan sejumlah besar pengiklan kelas kakap untuk membayar biaya pitching.

Partai politik Golkar, Indosat, Pertamina, Sampoerna, Gudang Garam dan Permata Bank adalah perusahaan besar yang harus membayar biaya pitch baru-baru ini. Dalam kasus Partai Golkar, yang melibatkan 23 agensi, biaya pitch dibayarkan hanya kepada agensi anggota Kaukus.

Djarum sebelumnya ditangani oleh Dentsu Indonesia, yang melepaskan akun tersebut awal tahun ini.

 

Sumber: Adoimagazine

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 4 dari 4

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image