Stock Market

Apa itu Dividen?

Senin, 02 Maret 2009 02:48
saham_copyDividen merupakan sebagian keuntungan perusahaan yang diberikan kepada para pemegang saham setiap tahun. Dengan begitu, investor akan memperoleh dividen jika perusahaan berhasil membukukan laba. Sebaliknya jika perusahaan tidak mendapatkan keuntungan di tahun sebelumnya maka investor tidak akan memp…
 

Citigroup Membuat Khawatir Sektor Perbankan

Sabtu, 28 Februari 2009 08:43
Seakan kembali menghadapi bulan tanpa pengampunan, nilai saham di bursa Wall Street, New York, merosot tajam dalam penutupan transaksi akhir bulan ini. Langkah Citigroup Inc. untuk menyerahkan sejumlah besar sahamnya ke pemerintah AS kembali mengipas bara kekhwatiran pasar terhadap kemungkinan berta…
 

3 simple question about Reksadana

Kamis, 29 Januari 2009 10:32
plugins/content/imagesresizecache/add4606a0d2cdbb7b9e4723e5f774a6e.jpegGw baru dapet pertanyaan dari salah satu temen gw, pertanyaannya gini :1.Napa reksadana bisa naik ketika deposito turun.2.Berdasar apa nentuin prosentase masuk reksa fixed income : reksa saham spt 50:50 ato 30:703.Gimana taunya kapan bagus untuk masuk ke reksa. Ok gw jawab yah,1. Kenapa reksadana bi…
 

Dicari investor yang siap menyesal

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,10/task,userProfile/user,62/">Budi Frensidy</a>   
Selasa, 27 Januari 2009 23:08

Mengikuti pasar saham terus- menerus akan membuat Anda bertransaksi lebih sering yang berakibat tingginya biaya transaksi dan juga banyaknya penyesalan.

Jika portofolio Anda sepanjang tahun lalu sebagian besar masih dalam saham atau reksa dana saham, siapa pun Anda dan sudah berapa banyak pun jam terbang Anda sebagai investor saham, saya dapat pastikan ada rasa penyesalan pada diri Anda.

Mereka yang baru mulai berinvestasi saham setahun terakhir akan merasakan penyesalan yang paling besar, karena belum pernah merasakan keuntungan. Yang sudah menjadi investor saham sejak 2007 juga menyesal cukup dalam. Mereka telah mengalami gurihnya capital gain sepanjang 2007, tetapi karena optimisme diri dan sentimen positif yang melanda pasar, mereka tidak mengurangi portofolio sahamnya tetapi mungkin justru menambahnya.

Penyesalan yang sama juga dialami para investor yang sudah ada di pasar saham sejak 2006 atau sebelumnya dengan kadar yang lebih ringan dan berbeda-beda. Mereka yang sempat mengurangi portofolionya pada 2007 atau semester pertama 2008 lalu mungkin masih bisa sedikit tersenyum.

Sementara itu, yang sama sekali belum sempat profit taking dalam 2 tahun terakhir hanya dapat geleng-geleng kepala melihat terus merosotnya indeks. Terakhir, para investor yang sudah berkiprah tahunan di bursa tetapi dalam setahun atau 2 tahun terakhir malah menyetor dana tambahan untuk meningkatkan portofolio sahamnya akan sangat bersedih dan hanya mampu menunduk lesu.

Harus siap menyesal

Sehubungan dengan penyesalan dalam berinvestasi saham sesungguhnya tidak terjadi hanya pada periode bearish seperti saat ini. Dalam keadaan pasar sedang bullish pun, fenomena ini kerap terjadi seperti pengakuan seorang kawan dekat saya, seorang pengajar di fakultas lain di UI. Masuk ke pasar saham pada saat yang tepat yaitu pada awal 2003 ketika IHSG masih tidak jauh dari angka 400, sekitar belasan bulan kemudian portofolio sahamnya melonjak 100%.

Mendengar pencapaian return yang luar biasa ini, kawan-kawannya banyak yang tergiur untuk mengikuti jejaknya. "Hampir setiap hari ada saja rekan pengajar yang datang atau menelpon saya meminta tip dan nasihat praktis untuk sukses berinvestasi saham," tuturnya.

Daripada melayani mereka satu per satu, dikumpulkanlah teman-temannya ini pada suatu hari. Seperti sudah diduga, salah satu pertanyaan utama dalam pertemuan itu adalah, "Apa kesan dan pesan Bapak sebagai investor saham untuk kami yang tertarik dan baru akan memulai?" Kawan dekat saya itu pun bercerita panjang lebar dan menjawab pertanyaan itu dengan jujur berdasarkan pengalaman pribadinya. Jawabannya kurang lebih sebagai berikut.

"Bermain saham itu penuh penyesalan. Menjual saham yang sudah untung yang kita miliki, kita menyesal karena harganya terus naik sesudah kita menjualnya. Tidak menjualnya juga kadang menimbulkan penyesalan jika kemudian ternyata harga saham itu merosot. Itu baru soal keputusan jual. Keputusan beli pun sama dan ini sangat sering saya alami."

Beberapa kali saya sudah berencana untuk membeli saham tertentu pada pagi hari tetapi karena pagi itu saya harus mengajar atau menguji, saya menjadi tidak sempat melakukannya. Ketika sudah sempat yaitu saat makan siang, saya hanya bisa gigit jari mengetahui harga saham yang saya incar itu sudah naik 20% hanya dalam beberapa jam. Saya tidak jadi membelinya dan hanya bisa sedih meratapi nasib yang kurang beruntung.

Untuk itu, hanya ada satu pesan saya kepada Bapak/Ibu yang sedang mempertimbangkan menjadi investor saham. Mereka yang tidak bersedia atau tidak siap mengalami banyak penyesalan kurang cocok menjadi investor saham. Silakan persiapkan diri Bapak/Ibu jika dapat hidup berdampingan dengannya," ceritanya.

Dua macam

Sejatinya, tidak ada yang aneh atau baru dalam kisah nyata di atas karena literatur behavioral finance (BF) sudah menuliskan fenomena ini sejak dulu. BF menyebutnya sebagai bias penyesalan (regret bias), salah satu dari sekian banyak bias yang sudah diidentifikasi BF.

Ada dua macam penyesalan yang biasa dialami investor saham. Yang pertama disebut error of commission atau penyesalan yang timbul akibat investor mengambil aksi tertentu (action) yang ternyata salah. Adapun, yang kedua adalah error of omission yaitu penyesalan karena investor tidak mengambil aksi tersebut (inaction).

Contohnya adalah seorang investor ditawari pemesanan saham sebuah perusahaan saat initial public offering (IPO). Dalam kondisi ini, dia mempunyai dua pilihan yaitu ikut memesan saham atau tidak ikut. Kemungkinan yang akan terjadi juga ada dua yaitu IPO sukses dan harga saham melejit atau IPO gagal dan harga saham merosot.

Tidak akan ada penyesalan investor jika dia jadi memesan saham dan IPO sukses atau dia tidak jadi memesan dan IPO gagal. Penyesalan baru akan timbul dalam kasus investor tadi jadi memesan saham tetapi IPO gagal (harga jatuh). Dalam kondisi seperti ini, semua investor dalam hatinya pasti akan berkata, "Mestinya saya tidak ikut memesan saham itu." Inilah yang disebut error of commission yaitu penyesalan sudah bertransaksi atau membeli tetapi ternyata keputusan ini salah.

Rasa menyesal juga akan muncul jika investor tidak jadi memesan saham tetapi IPO sukses (harga melonjak). Investor tersebut tentu sangat menyesali tindakan bodohnya melewatkan kesempatan emas ini. BF menyebutkan penyesalan yang bersumber dari tidak jadi bertransaksi ini sebagai error of omission.

Lebih lanjut, BF menjelaskan kalau kadar penyesalan dalam error of commission lebih kuat daripada dalam error of omission. Error of commission itu lebih terasa karena ada transaksi. Tip dari saya, jangan terlalu sering memelototi pergerakan harga saham, cukup beberapa kali dalam sebulan. Mengikuti pasar saham terus- menerus akan membuat Anda bertransaksi lebih sering yang berakibat tingginya biaya transaksi dan juga banyaknya penyesalan.

 

Sumber : bisnis.com

 

Jurnalindo Luncurkan Indeks Bisnis-27

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,10/task,userProfile/user,62/">Arif Gunawan S</a>   
Selasa, 27 Januari 2009 23:05

JAKARTA (Bisnis.com): PT Jurnalindo Aksara Grafika (JAG), penerbit Harian Bisnis Indonesia, meluncurkan Indeks Perdagangan 27 saham unggulan dengan nama Indeks Bisnis-27.

Indeks Bisnis-27 ini disusun berdasarkan kriteria fundamental dan faktor teknikal atau likuiditas transaksi ke-27 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Pemimpin Umum Bisnis Indonesia yang juga Presiden Komisaris JAG Sukamdani S. Gitosardjono mengatakan Indeks Bisnis-27 ini merupakan penyempurnaan indikator saham serupa yang diterbitkan sebelumnya yakni BI-40. "Sekarang kami melihat dinamika pasar modal dan melakukan penyempurnaan indikator saham baru yakni Bisnis-27," kata Sukamdani dalam sambutannya pada Peluncuran Indeks Bisnis-27 di gedung Bursa Efek Indonesia pagi ini.

Dia berharap indeks Bisnis-27 dapat menjadi alternatif indikator pergerakan saham di luar otoritas bursa. Sukamdani menambahkan BEI dan Harian Bisnis Indonesia secara rutin akan memantau komponen saham yang masuk dalam perhitungan indeks.

Acara peluncuran Indeks Bisnis-27 ini dilanjutkan dengan seminar 'Capital Market Outlook Q1-2009'. Acara dihadiri oleh Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad A. Rahmany, Dirut BEI Erry Firmansyah, Direktur Pemeriksaan BEI Justitia Tripurwasani dan Sihol Siagian.

Dari Bisnis Indonesia tampak Pemimpin Redaksi Ahmad Djauhar, Presiden Direktur JAG Lulu Terianto dan Direktur Pemasaran Endy Subiantoro.

Direktur BEI Sihol Siagian mengatakan Indeks Bisnis-27 ini sesuai dengan permintaan banyak investor. "Selama ini, indeks LQ-45 jumlah emitennya terlalu banyak, investor banyak yang mencari indeks dengan jumlah saham terpilih yang lebih sedikit," kata Sihol.

Pagi ini Indeks Bisnis-27 naik menjadi 121,129 dari 120,821.(bes/yn)

Sumber : bisnis.com

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 5 dari 6

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image