Krisis peluang untuk Asuransi

Jumat, 30 Januari 2009 08:12

Krisis finansial global yang terjadi belakangan ini telah memukul mayoritas industri keuangan. Tapi bagi sebagian perusahaan, krisis itu justru peluang untuk menggarap pasar secara optimal. Salah satunya PT Great Eastern Life Indonesia yang cukup optimistis dalam pencapaian kinerjanya. Bisnis mewawancarai Presiden Direktur Great Eastern Tan Jiak Hiang yang memaparkan strategi manajerial perusahaannya untuk menciptakan peluang di tengah krisis yang terjadi. Berikut petikannya:

Bagaimana pertumbuhan kinerja perusahaan sampai saat ini? Perseroan telah berdiri selama 12 tahun, namun pada awalnya perusahaan tidak berkembang terlalu besar karena pada 1996 krisis finansial mulai dirasakan yang diikuti dengan krisis politik dan keamanan sehingga perusahaan sulit berkembang. Pada 2006 situasi ekonomi Indonesia kembali membaik dan perusahaan kembali beroperasi layaknya seperti perusahaan baru, pada 2008 ini kita telah berhasil membangun kekuatan di segala bidang dan menciptakan dasar untuk mengembangkan bisnis.

Apakah perkembangan perusahaan sesuai dengan yang diharapkan? Saat ini, perusahaan berhasil mengembangkan aset mencapai Rp490 miliar dan berhasil menumbuhkan premi sebesar 170%. Lalu kami juga telah memenuhi modal disetor Rp142 miliar melebihi ketentuan modal minimal sebesar Rp100 miliar, serta risk based capital (RBC) mencapai 394%.

Apakah krisis finansial global tahun ini berdampak terhadap kinerja perusahaan? Krisis ekonomi yang terjadi memang berdampak di seluruh dunia. Namun itu tidak berdampak negatif terhadap perusahaan karena kami tidak terlibat dalam pemberian pembiayaan di sektor properti. Tapi kami melihat di balik krisis itu sebenarnya merupakan peluang untuk meningkatkan kesadaran tentang asuransi terhadap masyarakat, bahwa asuransi itu bukan untuk investasi tapi untuk memproteksi finansial mereka. Sebenarnya di balik krisis itu selalu ada peluang yang bagus.

Bagaimana dengan portofolio investasi perusahaan? Portofolio investasi kami sebagian besar berada di obligasi pemerintah dan deposito berjangka. Jadi dilihat dari keseluruhan tidak ada dampak karena sekarang kita tidak memiliki saham.

Pengaruhnya terhadap tingkat kepercayaan pasar? Kami tidak melihat adanya peningkatan penjualan polis karena krisis. Kalaupun ada, itu lebih banyak pengajuan link produk. Tapi setelah dijelaskan bahwa kami berinvestasi pada produk yang aman, akhirnya mereka tidak jadi menjual, dan sampai sekarang tidak ada penjualan polis karena krisis ekonomi.

Bagaimana mendorong bisnis terus tumbuh? Sebagai perusahaan penyedia jasa keuangan, tentunya customer services adalah hal yang paling penting. Kami memiliki pelayanan khusus untuk customer services, dan pada Juli 2008 kami membuka call center sehingga pelanggan lebih mudah dan lebih dekat dengan perusahaan. Karena kami juga adalah anak usaha dari perusahaan yang besar The Great Eastern Life Assurance Co. Ltd, Singapore, untuk pelayanan pelanggan kami memiliki pedoman pelayanan sesuai standar induk usaha di Singapura sehingga memiliki standar yang sama.

Punya survei soal tingkat kepuasan konsumen? Kami memiliki jumlah pelanggan di Indonesia sebanyak 10.000 nasabah, dan secara keseluruhan di Great Eastern Holding Malaysia, Singapura, Vietnam dan wilayah lainnya sebanyak tiga juta nasabah. Saat ini, kami sudah melakukan survei informal di mana setiap pelanggan yang datang ke kantor itu akan diminta untuk mengisi formulir agar diketahui tingkat kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang diberikan perusahaan. Dalam waktu dekat kami akan melakukan survei itu lebih formal dengan cara memilih sejumlah nasabah secara acak. Upaya optimalisasi strategi corporate branding? Sejalan dengan 100 tahun Great Eastern Holding. Momen ini dimanfaatkan perusahaan untuk lebih memasyarakatkan nama perusahaan. Kami melihat brand perusahaan sudah cukup baik di Indonesia, kami menggunakan brand awareness itu untuk dua hal sekaligus, pertama untuk industri asuransi dan kedua untuk perusahaan sendiri. Kami juga melakukan program corporate social responsibility (CSR) bersama industri dengan berpartisipasi dalam sosialisasi tentang asuransi untuk membangun pengenalan asuransi di tingkat kampus agar kesadaran tentang asuransi menjadi lebih baik.

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image