SubDebt guna menaikan Capital Edequacy Ratio Perbankan

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,22/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 27 Oktober 2009 23:33
Perbankan nasional sedang marak menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) mulai akhir tahun ini hingga tahun depan. Rata-rata perbankan nasional akan mengalokasikan subdebt tersebut untuk menjaga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di atas delapan persen.

"Kami sedang menjajaki penerbitan obligasi subordinasi senilai USD150 juta di awal 2010. Saat ini rencana tersebut sedang diajukan ke Bank Indonesia untuk mendapatkan persetujuan," ungkap Presiden Direktur BII Ridha Wirakusumah di Jakarta (22/10).

Dia menjelaskan pada 28 April tahun depan, BII akan membayar call option obligasi subordinasi yang jatuh tempo senilai USD150 juta. Sebenarnya dana untuk membayar call option obligasi tersebut sudah disiapkan melalui kas internal dan pinjaman. Namun Ridha mengaku jika menggunakan kas internal, rasio kecukupan modal BII bisa turun menjadi sekira 15 persen.

Perseroan bisa saja memutuskan tidak mengeksekusi call option obligasi yang jatuh tempo. Namun, call option obligasi subordinasi BII kalau tidak dieksekusi akan menyebabkan perseroan menanggung kenaikan beban bunga.

"Kupon obligasi BII sebelum jatuh tempo call option adalah sebesar 7,75 persen. Tetapi kalau tidak dieksekusi kupon obligasi tersebut bakal naik hingga lebih dari 10 persen. Jadi, BII merasa rugi kalau tidak mengambil opsi tersebut. Sementara kinerja BII hingga September 2009 ini sudah membaik dari awal tahun lalu," ungkapnya.

Obligasi subordinasi menjadi alternatif di kalangan bank untuk menggenjot rasio kecukupan modal. Separuh dari hasil penerbitan obligasi, dapat digunakan untuk masuk ke modal lapis kedua bank (tier dua) sehingga rasio kecukupan modal suatu bank meningkat.

"Saat ini posisi CAR BII hingga September 2009 sebesar 19,42 persen, sangat jauh dari ketentuan BII yang cuma delapan persen," tambahnya.

Sementara Bank Mandiri memastikan akan menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) berdenominasi rupiah senilai Rp3 triliun-Rp5 triliun pada akhir November 2009 ini. Sayang, kepastian jumlah dan besar suku bunga surat utang itu belum ditentukan. "Jumlahnya belum final namun berkisar antara Rp3 triliun-Rp5 triliun," ungkap Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo.

Agus mengaku, bunga subdebt masih di atas bunga deposito yaitu di kisaran 6-8 persen. Sehingga, potensi diserap pasar akan cukup besar. Hal itu akan merangsang minat masyarakat untuk mencari alternatif investasi yang aman dalam bentuk subdebt selain deposito.

Dengan penerbitan subdebt tersebut maka CAR Bank Mandiri diharapkan bisa meningkat sedikitnya 1,5-2 persen. Per Juni 2009, CAR Bank Mandiri ini berada di kisaran 14,1 persen. Pada awal tahun nanti diharapkan bisa tembus mencapai 16 persen.

Sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga akan menerbitkan obligasi subordinasi sekira Rp2 triliun tahun depan. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk menaikkan CAR perseroan.

"Kami akan menerbitkan obligasi subordinasi sekira Rp2 triliun. Namun jika kondisi bagus kami akan menaikkannya menjadi Rp3 triliun," ungkap Direktur Utama BRI Sofyan Baasir.

BRI lebih memundurkan penerbitan subdebt tersebut di tahun depan karena diperkirakan tingkat suku bunga deposito dan suku bunga acuan Bank Indonesia akan turun.

Sofyan mengaku tingkat penurunan suku bunga pinjaman dan BI rate belum turun secara maksimal. Sehingga BRI optimis suku bunga tersebut akan turun tahun depan. Sementara posisi CAR BRI per Juni 2009 sebesar 14,7 persen dan akan ditingkatkan pula menjadi 16 persen.

"Diperkirakan tahun depan suku bunga pinjaman akan turun maksimal sehingga penerbitan subdebt akan lebih bagus sekitar bulan Maret hingga Juni atau sekitar kuartal II/2010," lanjut Sofyan.  (Didik Purwanto/Koran SI/ade)
Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image