Mempelajari Bunga Bank (Interest Rate)

Selasa, 02 Juni 2009 19:26

Seorang peserta seminar bertanya, "Mana yang lebih menguntungkan, mengambil pinjaman dengan bunga tetap atau bunga mengambang?" Mendengar pertanyaan ini, saya pun balik bertanya, apakah dia memang mempunyai pilihan itu ketika mengajukan kredit ke bank.

Setahu saya, debitur sering kali tidak dalam posisi untuk dapat memilih bunga tetap atau bunga mengambang. Banklah yang akan sepenuhnya memutuskan soal ini, dan bank umumnya lebih menyukai bunga mengambang daripada bunga tetap.

Inilah salah satu contoh hubungan yang asimetris antara bank dan nasabahnya. Mau contoh lain lagi? Secara periodik, bank akan menghitung bunga yang akan dibayarkan untuk para penabung dan deposannya serta bunga yang akan ditagihkan kepada para debiturnya.

Apakah para penabung dan peminjam diajak berdiskusi mengenai metode perhitungan bunganya? Tentu saja tidak. Apakah bank menggunakan metode yang sama untuk biaya bunga dan pendapatan bunganya ini? Belum tentu. Lebih banyak bank yang menggunakan metode perhitungan yang berbeda untuk dua produknya ini.

Untuk menghitung biaya bunganya atau pembayaran bunga untuk para deposannya, dia menggunakan metode bunga tepat yaitu asumsi 1 tahun adalah 365 hari. Persamaannya adalah jumlah hari/365 x suku bunga x saldo rata-rata simpanan.

Sementara itu, untuk pendapatan bunganya atau tagihan bunga kepada para debiturnya, bank akan menggunakan metode bunga biasa atau asumsi 1 tahun 360 hari dengan persamaan jumlah hari/360 x suku bunga x saldo rata-rata pinjaman. Kedua metode perhitungan bunga ini sejatinya sah-sah saja dalam matematika keuangan.

Jika saldo rata-rata tabungan adalah Rp2 juta, satu bulan terdiri atas 30 hari, dan suku bunga 6% per tahun, biaya bunga yang harus dibayarkan sebuah bank dengan 5 juta deposannya adalah Rp49,315 miliar berdasarkan metode bunga tepat dan Rp50 miliar berdasarkan metode bunga biasa.

Ada selisih sebesar Rp685 juta per bulan untuk keuntungan bank yang tidak pernah disadari para nasabahnya karena bank yang berkuasa dalam menentukan metode dan perhitungan bunganya.

Namun, untuk perhitungan bunga pinjaman, dengan bunga kredit 14%, jumlah debitur 100.000 orang dengan saldo rata-rata pinjaman Rp100 juta, metode bunga tepat memberikan hasil Rp115,068 miliar dan metode bunga biasa Rp116,666 miliar.

Ada perbedaan sebesar Rp1,598 miliar antara dua metode ini yang kembali dinikmati bank. Ditotal, hanya dari penggunaan metode perhitungan bunga yang berbeda yaitu metode bunga tepat untuk simpanan dan metode bunga biasa untuk pinjaman, dan dengan asumsi-asumsi di atas, bank dapat meraup tambahan keuntungan hingga Rp2,283 miliar per bulan atau Rp27,43 miliar setahun.

Belum lagi jika pada praktiknya banyak bank mengumumkan tidak akan membayar bunga untuk tabungan di bawah Rp1 juta, sementara bunga pinjaman dihitung mulai dari rupiah pertama.

Jika begini, biaya bunga simpanan hasil hitungan di atas menjadi tinggal separuhnya yang menjadi kewajiban bank. Lengkaplah sudah pengorbanan nasabah yang hanya bisa mengumpat, "Keuntunganmu adalah penderitaanku."

Yang lebih parah adalah jika bank menggunakan saldo terendah dalam 1 bulan untuk menghitung bunga simpanan dan saldo tertinggi pinjaman untuk menghitung pendapatan bunganya. Praktik seperti ini sangat tidak fair dan untungnya hampir tidak ada lagi bank yang menerapkannya.

Dalam semua kasus di atas, apakah Anda sebagai nasabah akan diminta pendapatnya? Hampir pasti tidak sehingga amannya adalah Anda menutup rekening Anda jika bank mengakali Anda dengan metode perhitungan bunga yang tidak fair seperti kasus terakhir.

Pilih bunga tetap

Kembali ke pertanyaan awal, manakah yang sebaiknya dipilih jika saja ada bank yang cukup demokratis dan peduli terhadap nasabahnya menawarkan Anda pilihan bunga tetap dan bunga mengambang?

Jika Anda memahami dan setuju dengan penjelasan saya di atas, Anda mestinya sudah dapat menjawab sendiri bahwa untuk meniadakan ketidakpastian, pilihlah pinjaman dengan bunga tetap. Akan sangat tepat jika pinjaman ini Anda peroleh saat tingkat inflasi sedang rendah-rendahnya dan bunga SBI juga menyentuh batas dasarnya seperti saat ini.

Memilih bunga mengambang menimbulkan ketidakpastian bunga dan angsuran yang Anda harus bayar setahun kemudian atau saat suku bunga dievaluasi secara periodik oleh bank.

Jika inflasi dan bunga bebas risiko (SBI) naik, hampir pasti bank akan menaikkan bunga pinjaman Anda sehingga angsuran pun meningkat.

Sebaliknya, saat inflasi rendah dan bunga pasar turun, bank akan segan dan sedapat mungkin menunda penurunan bunga pinjaman Anda, seperti yang dialami banyak debitur saat ini.

Ada saja alasan yang digunakan bank dalam kondisi ini seperti belum ada instruksi dari pusat, belum diputuskan direksi, biaya dana bank kami masih tinggi, dan lainnya.

ratePadahal, Anda memperhatikan kalau bunga tabungan dan deposito di bank itu pada saat yang sama sudah diturunkan. Kesimpulannya, dengan bunga mengambang, bunga pinjaman dan angsuran Anda akan lebih mudah naik daripada turun.

Fenomena penyesuaian cenderung ke satu arah seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada suku bunga. Harga juga sama, dan disebut ratchet effect. Kita alami bersama kalau harga angkutan dan barang-barang kebutuhan hidup dinaikkan pengusaha dan pedagangnya ketika harga BBM naik tahun lalu.

Namun, ketika pemerintah menurunkan BBM tiga kali berturut-turut hingga kembali ke harga semula, ongkos bis dan taksi serta harga-harga barang dan jasa umumnya tidak ikut turun.

Karena faktor inflasi, gaji, dan upah juga memang tidak pernah turun. Tidak ada orang yang mau kesejahteraannya turun. Pengusaha, perusahaan, dan bank pun menginginkan laba usahanya naik. Akibatnya, suku bunga kredit bank pun sulit turun. Apa mau dikata?

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image