|
Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Sabtu, 10 Oktober 2009 06:36 |
Seorang pembaca bertanya, apa perbedaan matematika keuangan dan manajemen keuangan. Lulusan keuangan belum tentu dapat menjawab pertanyaan di atas dengan memuaskan. Untuk itu, tidak ada salahnya saya mengupas isu sederhana ini. Saya akan mulai dari manajemen keuangan.
Inilah ilmu yang wajib dipelajari mahasiswa di fakultas ekonomi. Di sekolah bisnis atau jurusan manajemen, manajemen keuangan hampir pasti adalah konsentrasi atau kekhususan favorit para mahasiswa karena menjanjikan lapangan pekerjaan yang luas dan beragam.
Sarjana keuangan dapat dengan mudah mengisi posisi finansial di seluruh kantor pemerintah, swasta, multinasional, dan organisasi nirlaba mulai dari dunia perbankan dan pembiayaan lainnya hingga profesi di pasar modal. Sejatinya, para sarjana keuangan ini lebih disiapkan untuk bekerja di perusahaan multinasional dan perusahaan swasta besar (korporasi). Ini dikarenakan buku teks yang digunakan adalah corporate finance yang umumnya berasal dari Amerika.
Buku ini mengajarkan bagaimana mengelola keuangan sebuah korporasi yang punya akses ke pasar modal. Tidak ada yang aneh jika alternatif pendanaan yang dibahas adalah saham dan obligasi. Masalahnya, di Indonesia jumlah perusahaan yang punya akses terhadap dua instrumen keuangan itu masih kurang dari 500 buah.
Sangat disayangkan jika mahasiswa kita tidak memahami kondisi aktual sebagian besar perusahaan di Indonesia yang hanya mempunyai pilihan meminjam dari bank atau setoran modal/pinjaman dari pemilik. Sedihnya lagi, buku-buku manajemen keuangan yang ditulis pakar kita juga gagal mengingatkan kenyataan ini, karena hanya mengacu kepada buku-buku referensi luar negeri dan bukan keadaan riil di Indonesia.
Berbeda dengan manajemen keuangan, matematika keuangan belum menjadi pelajaran wajib di semua sekolah bisnis dan akuntansi. Matematika keuangan hanya diwajibkan untuk program D3 keuangan dan akuntansi sementara mahasiswa S1 bisnis dan akuntansi diajarkan matematika ekonomi. Alasannya, karena awalnya lulusan program diploma diharapkan menjadi teknisi dan profesional keuangan sementara para sarjana akan menjadi pemikir, peneliti, dan akademisi.
Pandangan ini tentunya tidak berlaku lagi saat ini karena lulusan program magister pun sebagian besar tidak mampu menjadi periset dan konseptor seperti dua tiga dekade lalu. Jika belasan tahun lalu yang punya gelar magister adalah para manajer dan pejabat di kota-kota besar, kini hampir semua pejabat daerah tingkat 1 dan 2 pun bergelar MM.
Sebuah PTN di Kalimantan bahkan dengan bangganya mengatakan kalau program MM-nya kini sudah merambah masuk ke tingkat kecamatan setelah 'sukses' di kantor propinsi dan kantor-kantor kabupaten. Gelar MM kok mau dibawa masuk desa?
Lebih relevan
Kembali ke mahasiswa bisnis dan akuntansi, matematika keuangan sebenarnya lebih relevan untuk membantu mereka dalam menilai semua produk keuangan dan tawaran investasi hingga melakukan perencanaan keuangan sendiri. Matematika ekonomi tentunya juga diperlukan untuk mempelajari ilmu ekonomi dan ekonometri.
Sebagai pengajar dan penulis buku matematika keuangan dan matematika ekonomi, saya lebih suka mengatakan kalau matematika keuangan itu necessary to know untuk mahasiswa bisnis dan akuntansi, sementara matematika ekonomi good to know. Anda paham kan bedanya perlu dan baik?
Kembali ke perbedaan matematika keuangan dan manajemen keuangan. Pertama, seperti matematika ekonomi untuk ilmu ekonomi, matematika keuangan juga adalah bahasa atau alat bantu untuk memahami ilmu keuangan termasuk manajemen keuangan.
Kedua, persamaan yang digunakan dalam manajemen keuangan sebagian besar berasal dari matematika keuangan. Meskipun demikian, tidak semua persamaan matematika keuangan ditujukan untuk manajemen keuangan. Sebagian lagi berguna untuk manajemen investasi dan akuntansi keuangan. Contohnya, dari 15 persamaan yang ada untuk nilai sekarang, hanya tiga empat persamaan yang kerap dipakai dalam manajemen keuangan.
Ketiga, jika manajemen keuangan bermanfaat untuk mereka yang akan berprofesi di bidang keuangan, matematika keuangan berguna untuk siapa saja yang berkepentingan dengan pengelolaan uang pribadi atau keluarganya.
Dasar logika keuangan
Terakhir, matematika keuanganlah dan bukan manajemen keuangan yang sarat dengan logika keuangan. Dengan bekal kemampuan ini, Anda akan menyadari bahwa bunga kredit 0% itu hanya mitos, bahwa bank/lembaga keuangan tidak bohong, tetapi banyak akal dalam mengemas produknya. Produk bank itu tidak semuanya madu tetapi ada juga yang racun (kurang bermanfaat), mengangsur itu tidak jarang sangat memberatkan, serta hubungan bank dan nasabahnya itu asimetris.
Inilah beberapa soal matematika keuangan dalam buku-buku saya. Mana yang lebih menarik, menerima uang pensiun Rp200 juta sekali saja atau Rp1,5 juta setiap bulan seumur hidup?
Soal lain adalah seorang manajer berniat membeli rumah dengan KPR. Jika harga rumah Rp500 juta dan bunga KPR 15% p.a., berapa besar uang muka yang harus disiapkan jika dia ingin angsuran bulanan tepat Rp6 juta selama 120 bulan? Setelah membayar 24 angsuran bulanan, ternyata bank menaikkan suku bunganya menjadi 18% p.a. Berapa besar angsuran baru?
Contoh lain, sebagai orang terkaya dunia, Bill Gates diberitakan mempunyai kekayaan US$50 miliar pada awal 2006. Jika kekayaannya bertumbuh secara kontinu 16% p.a., berapa tambahan kekayaannya per detik? Sebuah apartemen ditawarkan pada harga Rp600 juta yang dapat diangsur selama 48 bulan tanpa bunga. Namun, jika dibeli dengan kas keras, Anda akan memperoleh diskon 30%. Masih menarikkah tawaran bunga kredit 0% di atas?
Penulis: Budi Frensidy Staf pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan Sumber: bisnis.com
|
|
|
Kamis, 17 September 2009 22:22 |
 Mulai bulan September ini Bank Mandiri siap melayani pengiriman uang dari Malaysia, khususnya membidik pasar Tenaga Kerja Indonesia. “ Pada 3 September 2009 kemarin Bank Negara Malaysia telah menyetujui Bank Mandiri untuk membuka layanan remittance di Malaysia,” ujar Thomas Arifin, Direktur Treasury…
|
|
Kamis, 04 Juni 2009 08:44 |
 Istilah leasing tentu sudah tak asing lagi di telinga pebisnis. Lembaga keuangan yang satu ini biasanya dijadikan sumber pembiayaan untuk pengadaan aset atau barang modal dalam menjalankan bisnis. Secara umum nasabah perusahaan leasing tidak dapat memiliki barang (asset) yang sebelumnya disewa. Bias…
|
|
|
Selasa, 02 Juni 2009 19:26 |
 Seorang peserta seminar bertanya, "Mana yang lebih menguntungkan, mengambil pinjaman dengan bunga tetap atau bunga mengambang?" Mendengar pertanyaan ini, saya pun balik bertanya, apakah dia memang mempunyai pilihan itu ketika mengajukan kredit ke bank.
Setahu saya, debitur sering kali tidak dalam p…
|
|
Jumat, 20 Maret 2009 16:12 |
 Pertumbuhan dana secara agregat menurun sesuai dengan pola musiman awal tahun. Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Januari 2009 menurun Rp7,7 triliun menjadi Rp1.746 triliun dari Rp1.753,3 triliun per Desember 2008. Penurunan DPK tersebut khususnya terjadi di giro dan tabungan rupiah sebagai cerminan men…
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 3 dari 5 |