Banking

Rekening Menkeu di Bank Century sebanyak 17juta USD

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 21 Desember 2009 11:34
Departemen Keuangan mengklarifikasi keberadaan rekening Menteri Keuangan yang diduga sebesar 24 juta dollar AS di PT Bank Century Tbk (kini Bank Mutiara) pada periode 2002-2003.

Kepala Biro Humas Depkeu Harry Z Soeratin mengakui, memang ada escrow account (rekening tampungan sementara) dengan nomor 10220000320250 atas nama Menteri Keuangan pada Bank Century. Namun, dana tersebut hanya sebesar 17, 279 juta dollar AS. Rekening tersebut dibuka saat Menteri Keuangan dijabat oleh Jusuf Anwar dan diikat dengan surat perjanjian antara Departemen Keuangan RI dan PT Bank Century Tbk pada 1 November 2005.

"Escrow account atas nama Menteri Keuangan sebesar 17.279.976,20 dollar AS pada PT Bank Century Tbk dibuka pada saat Menteri Keuangan dijabat oleh Bapak Jusuf Anwar," ujar Harry melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (17/12/2009) malam.

Harry menambahkan, escrow account tersebut berfungsi sebagai jaminan (cash collateral) terkait permasalahan antara PT Bank Century Tbk dan debiturnya, yaitu Induk Koperasi Tempe Tahu Indonesia (INKOPTI), Induk Koperasi Kesejahteraan Umat (IKKU), dan Induk Koperasi Unit Desa (INKUD) yang telah wanprestasi sesuai putusan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap (intracht) dari Mahkamah Agung tahun 2004.

"Wanprestasi tersebut adalah gagal bayar kepada Bank Century Tbk (dulu Bank CIC) dari ketiga koperasi di atas terkait penjualan terigu dalam program hibah dari Pemerintah Amerika Serikat (USDA) sesuai PL-416 (b)," terangnya.

Ia menyebutkan, dana pada escrow account tersebut sampai saat ini masih tercatat sebagai rekening pemerintah dan dilaporkan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setiap tahunnya.

 

30 Bank Masuk Daftar Pengawasan

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 07 Desember 2009 11:30
Badan Stabilitas Keuangan yang dibentuk menteri-menteri keuangan dalam G-20 telah membuat daftar berisi 30 lembaga keuangan dan bank bertaraf internasional yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

Hal ini dilakukan untuk mencegah kegagalan keuangan global akibat kekacauan yang berpotensi dilakukan oleh bank dan lembaga keuangan itu. ”FSB (Financial Stability Board/Badan Stabilitas Keuangan) telah memasukkan 30 bank dan lembaga keuangan sebagai sumber krisis sistemik karena wilayah kerjanya yang mendunia sehingga tergolong dalam perusahaan yang too big too fail (terlalu besar untuk gagal). Perilaku pemegang saham dan kebijakan manajemennya masuk dalam pengawasan,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Rabu (2/12).

Pada laporan Financial Times ada 24 bank dan 6 lembaga asuransi multinasional yang masuk dalam daftar FSB. Mereka tersebar di Inggris, Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.

Ke-24 bank itu adalah Bank of America Merrill Lynch (BAC), Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, Royal Bank of Canada, Barclays, HSBC, Royal Bank of Scotland, Standard Chartered, Credit Suisse, dan UBS AG. Selain itu juga ada BNP Paribas, Société Générale (Perancis), BBVA (Spanyol), Santander (Spanyol), Mitsubishi UFJ, Mizuho, Nomura, dan Sumitomo Mitsui (Jepang).

Lalu ada Banca Intesa dan UniCredit (Italia), kemudian Deutsche Bank (Jerman), serta ING Group (Belanda). Adapun enam kelompok usaha asuransi adalah Aegon, Allianz, Aviva, Axa, Swiss Re, dan Zurich. ”Dalam pengawasan FSB, bank dan lembaga keuangan itu harus memiliki living will (keinginan untuk hidup). Sebab, kalau ada kesulitan, mereka harus menyelesaikan sendiri masalahnya sebelum meminta bantuan kepada pemerintah masing-masing,” ujar Sri Mulyani.

Secara terpisah, Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, stabilitas sistem keuangan domestik akan tetap terjaga.

Hal itu ditandai dengan rasio kecukupan modal yang rata-rata ada di level 17,7 persen dan kredit berkinerja rendah yang kurang dari 5 persen. BI juga memberlakukan Giro Wajib Minimum sekunder sebesar 2,5 persen sejak 24 Oktober 2009. (OIN)




Editor: Edj

Sumber : Kompas Cetak
 

VISA

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Minggu, 06 Desember 2009 09:43
visafifaMenyambut FIFA 2009 di Afrika Selatan, tampaknya Visa tidak mau ketinggalan, baru saja perusahaan financial ini mengadakan sebuah campaign bernama VISAFIFA, Cek kesini untuk tahu lebih lanjut: http://www.visa.co.id/fifapromotion        
 

Mau Kaya atau Sehat?

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Rabu, 04 November 2009 14:35

Kasus pertama, saya pernah berjumpa dengan seseorang yang relatif kaya. Dia tidak perlu mencari uang lagi. Rumahnya besar dan bagus namun dia selalu sakit-sakitan.

Uang yang dia terima banyak dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. Dia juga tak dapat banyak bergerak. Jumlah makanan yang dapat dimakan amat terbatas. Penglihatannya tidak begitu jelas lagi, pendengaran terganggu, dan pikirannya sudah tidak jelas lagi. Kasus kedua.Saya juga pernah berjumpa dengan seseorang yang amat sehat.Makannya sederhana. Karena selain tidak mempunyai banyak uang, dia memang hanya saya senang makan buah, sayur, tempe, tahu, dan biji-bijian yang harganya relatif murah.

Dia masih bisa bebas bergerak. Pikirannya masih jelas dan tajam. Dia jarang sakit.Kalau pun sakit,dia hanya ke tukang pijat, yang lebih murah daripada ke dokter dan mengonsumsi antibiotik. Penglihatan relatif masih bagus dan pendengarannya relatif baik. Dia tidak kaya tetapi dia sehat. Kasus ketiga. Sering pula saya berjumpa dengan teman-teman berusia 40-an dan 50-an, yang begitu aktif bekerja untuk penghasilan dan karier mereka.Tidak mengenal istirahat, makan tidak teratur, dan bahkan yang dimakan pun tidak sehat. Tidak sempat olahraga.

Tidak mengejutkan, mereka pun sering sakit-sakitan. Dari sisi produktivitas,sakit-sakitan di puncak karier sangat merugikan. Dalam istilah ekonomi, biaya alternatif (opportunity cost) sakit pada puncak karier sangat tinggi, yaitu berapa banyak yang tertunda dikerjakan (atau tak jadi dikerjakan) gara-gara sakit. Apa yang kita cari? Anda pilih yang mana? Yang kaya atau yang sehat? Mungkin Anda berkata, bahwa tentu saja Anda akan memilih sehat dan kaya.

Yang paling merana tentulah bila kita miskin dan sakit-sakitan.Transisi demografi kita memperlihatkan bahwa kita telah mampu hidup lebih lama, tetapi tidak menjamin adanya hidup lama yang sehat. Kita telah mampu menunda kematian, tetapi sudah berhasilkah kita meningkatkan status kesehatan kita? Mengapa saya mengajukan pertanyaan ini? Karena saya seorang ekonom. Ekonom selalu bertanya ini atau itu? Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Buat yang bukan ekonom,pertanyaan itu mungkin tampak sebagai pertanyaan yang amat bodoh.

Mungkin, banyak orang memilih sehat walau miskin, daripada kaya tetapi sakit-sakitan sehingga tak dapat menikmati kekayaannya. Namun, dalam benak pikiran para ekonom arus-utama (mainstream), sehat itu tidak sepenting kaya. Buat mereka, kesehatan itu hanya penting karena sehat pangkal kaya. Dengan kata lain, sehat sekadar salah satu input agar jadi kaya. Buat para ekonom ini, kaya lebih penting daripada sehat. Yang penting kayanya. Sehat hanyalah salah satu dari sekian banyak cara untuk menjadi kaya.

Kalau dapat menjadi kaya dengan cari lain, kesehatan menjadi tidak penting di mata para ekonom arus-utama.Untuk ekonom arus-utama, pertumbuhan ekonomi adalah ukuran utama keberhasilan pembangunan. Lihatlah semua laporan ekonomi, selalu bermula dengan laporan pertumbuhan ekonomi. Suatu contoh, para ekonom seperti ini akan melihat pentingnya industri rokok.

Industri rokok memberikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Mereka tidak mementingkan penyakit yang ditimbulkan oleh rokok. Toh, kalau orang sakit, orang itu membutuhkan obat. Nah, orang sakit (asal tidak meninggal) akan menimbulkan bisnis untuk pelayanan kesehatan dan industri obat. Jadi, ekonomi akan tumbuh lebih cepat lagi. Mungkin dapat dikatakan,para ekonom itu lebih suka kaya tapi sakit-sakitan, daripada sehat tetapi miskin? Tentu saja tidak. Untuk diri mereka, mereka mungkin memilih sehat walau miskin.

Tetapi, ketika bicara secara makro, mereka dapat berpikir lain.Yang mengecap pertumbuhan ekonomi dan yang menderita sakit adalah dua kelompok orang yang berbeda.Namun, untuk mereka sendiri secara pribadi,mungkin para ekonom itu juga lebih mementingkan ekonomi daripada kesehatan. (Seperti dalam kasus ketiga yang saya sebut sebelum ini). Ini masalah paradigma pembangunan. Selama orientasi kita masih pada pertumbuhan (growth) ekonomi,maka kesehatan masyarakat bukanlah hal yang penting. Industri rokok masih akan terus berjaya.

Selama kita masih memakai paradigma pertumbuhan ekonomi, orang yang sakit-sakitan akan terus dilihat sebagai sumber bisnis (khususnya bisnis untuk jasa kesehatan dan obatan obatan). Memang lucu, tetapi itulah yang terjadi. Arus-utama pemikiran ekonomi kita memang memilih kaya daripada sehat. Akibatnya, akan banyak orang yang kaya tapi sakit-sakitan. Lebih parah lagi,kita juga menjumpai orang miskin yang sakit-sakitan. Inikah yang kita cari? Sudah saatnya kita mengubah paradigma pembangunan kita. Jangan memusatkan pada pertumbuhan ekonomi.

Indonesia dapat menjadi pelopor mempunyai paradigma pembangunan yang tidak terpusat pada pertumbuhan ekonomi.Pertumbuhan ekonomi tetap penting dan kita perlukan tetapi pertumbuhan ekonomi sekadar salah satu alat penting untuk tujuan pembangunan, seperti peningkatan kesehatan dan penurunan angka kemiskinan. Jadikanlah kesehatan sebagai salah satu tujuan penting pembangunan ekonomi.

Janganlah kesehatan sekadar dijadikan bisnis yang mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sebagai bonus, kalau orang Indonesia menjadi sehat walafiat, mereka pun akan dapat bekerja dengan lebih produktif, dan perekonomian juga akan tumbuh dengan pesat. Kebijakan yang prokesehatan sejalan dengan kebijakan yang propoor. Orang miskin akan sangat diuntungkan dengan adanya kebijakan yang prokesehatan.

Untuk mengukur keberhasilan ekonomi, pemerintah perlu melihat kemajuan dalam bidang kesehatan. Pemerintah dapat mengeluarkan statistik status kesehatan setiap tiga bulan sekali. Badan Pusat Statistik dapat ditugasi untuk mengumpulkan data dan mengeluarkan statistik ini. (*)

Aris Ananta
Ekonom

Sumber: www.okezone.com

 

Bank Century (Now: Bank Mutiara) Bangkit lagi

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 03 November 2009 09:40

PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) yang semula bernama Bank Century, mencatatkan peningkatan laba bersih selama sembilan bulan pertama tahun 2009 mencapai 359,31 persen menjadi Rp237,31 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp51,666 miliar.

Peningkatan laba bersih perseroan, dipicu oleh pos keuntungan penjualan efek bersih perseroan selama sembilan bulan pertama tahun ini yang melonjak tajam hingga 4.793,6 persen menjadi Rp38,709 miliar, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp791,674 juta. Sedangkan pos jumlah pendapatan pos operasional lainnya juga naik 94,06 persen menjadi Rp60,935 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp31,399 miliar.

Hal tersebut disampaikan Dirut BCIC Maryono dalam laporan keuangan semebilan bulan pertama 2009 kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Selasa (3/11/2009).

Kendati demikian, pada pos jumlah pendapatan bunga perseroan terpangkas 56,46 persen menjadi Rp402,387 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp924,223 miliar. Pos pendapatan bunga bersih perseroan juga turun 86,42 persen menjadi Rp53,273 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp392,567 miliar.

Perseroan selama sembilan bulan pertama 2009 hanya mengeruk keuntungan transaksi valuta asing sebesar Rp128,559 juta, atau menurun 91,26 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,466 miliar. Beban operasi perseroan terpangkas menjadi minus Rp1,616 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp345,999 miliar

 

Sumber: www.okezone.com

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 5

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image