|
Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Rabu, 04 November 2009 14:35 |
|
Kasus pertama, saya pernah berjumpa dengan seseorang yang relatif kaya. Dia tidak perlu mencari uang lagi. Rumahnya besar dan bagus namun dia selalu sakit-sakitan.
Uang yang dia terima banyak dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. Dia juga tak dapat banyak bergerak. Jumlah makanan yang dapat dimakan amat terbatas. Penglihatannya tidak begitu jelas lagi, pendengaran terganggu, dan pikirannya sudah tidak jelas lagi. Kasus kedua.Saya juga pernah berjumpa dengan seseorang yang amat sehat.Makannya sederhana. Karena selain tidak mempunyai banyak uang, dia memang hanya saya senang makan buah, sayur, tempe, tahu, dan biji-bijian yang harganya relatif murah.
Dia masih bisa bebas bergerak. Pikirannya masih jelas dan tajam. Dia jarang sakit.Kalau pun sakit,dia hanya ke tukang pijat, yang lebih murah daripada ke dokter dan mengonsumsi antibiotik. Penglihatan relatif masih bagus dan pendengarannya relatif baik. Dia tidak kaya tetapi dia sehat. Kasus ketiga. Sering pula saya berjumpa dengan teman-teman berusia 40-an dan 50-an, yang begitu aktif bekerja untuk penghasilan dan karier mereka.Tidak mengenal istirahat, makan tidak teratur, dan bahkan yang dimakan pun tidak sehat. Tidak sempat olahraga.
Tidak mengejutkan, mereka pun sering sakit-sakitan. Dari sisi produktivitas,sakit-sakitan di puncak karier sangat merugikan. Dalam istilah ekonomi, biaya alternatif (opportunity cost) sakit pada puncak karier sangat tinggi, yaitu berapa banyak yang tertunda dikerjakan (atau tak jadi dikerjakan) gara-gara sakit. Apa yang kita cari? Anda pilih yang mana? Yang kaya atau yang sehat? Mungkin Anda berkata, bahwa tentu saja Anda akan memilih sehat dan kaya.
Yang paling merana tentulah bila kita miskin dan sakit-sakitan.Transisi demografi kita memperlihatkan bahwa kita telah mampu hidup lebih lama, tetapi tidak menjamin adanya hidup lama yang sehat. Kita telah mampu menunda kematian, tetapi sudah berhasilkah kita meningkatkan status kesehatan kita? Mengapa saya mengajukan pertanyaan ini? Karena saya seorang ekonom. Ekonom selalu bertanya ini atau itu? Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Buat yang bukan ekonom,pertanyaan itu mungkin tampak sebagai pertanyaan yang amat bodoh.
Mungkin, banyak orang memilih sehat walau miskin, daripada kaya tetapi sakit-sakitan sehingga tak dapat menikmati kekayaannya. Namun, dalam benak pikiran para ekonom arus-utama (mainstream), sehat itu tidak sepenting kaya. Buat mereka, kesehatan itu hanya penting karena sehat pangkal kaya. Dengan kata lain, sehat sekadar salah satu input agar jadi kaya. Buat para ekonom ini, kaya lebih penting daripada sehat. Yang penting kayanya. Sehat hanyalah salah satu dari sekian banyak cara untuk menjadi kaya.
Kalau dapat menjadi kaya dengan cari lain, kesehatan menjadi tidak penting di mata para ekonom arus-utama.Untuk ekonom arus-utama, pertumbuhan ekonomi adalah ukuran utama keberhasilan pembangunan. Lihatlah semua laporan ekonomi, selalu bermula dengan laporan pertumbuhan ekonomi. Suatu contoh, para ekonom seperti ini akan melihat pentingnya industri rokok.
Industri rokok memberikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Mereka tidak mementingkan penyakit yang ditimbulkan oleh rokok. Toh, kalau orang sakit, orang itu membutuhkan obat. Nah, orang sakit (asal tidak meninggal) akan menimbulkan bisnis untuk pelayanan kesehatan dan industri obat. Jadi, ekonomi akan tumbuh lebih cepat lagi. Mungkin dapat dikatakan,para ekonom itu lebih suka kaya tapi sakit-sakitan, daripada sehat tetapi miskin? Tentu saja tidak. Untuk diri mereka, mereka mungkin memilih sehat walau miskin.
Tetapi, ketika bicara secara makro, mereka dapat berpikir lain.Yang mengecap pertumbuhan ekonomi dan yang menderita sakit adalah dua kelompok orang yang berbeda.Namun, untuk mereka sendiri secara pribadi,mungkin para ekonom itu juga lebih mementingkan ekonomi daripada kesehatan. (Seperti dalam kasus ketiga yang saya sebut sebelum ini). Ini masalah paradigma pembangunan. Selama orientasi kita masih pada pertumbuhan (growth) ekonomi,maka kesehatan masyarakat bukanlah hal yang penting. Industri rokok masih akan terus berjaya.
Selama kita masih memakai paradigma pertumbuhan ekonomi, orang yang sakit-sakitan akan terus dilihat sebagai sumber bisnis (khususnya bisnis untuk jasa kesehatan dan obatan obatan). Memang lucu, tetapi itulah yang terjadi. Arus-utama pemikiran ekonomi kita memang memilih kaya daripada sehat. Akibatnya, akan banyak orang yang kaya tapi sakit-sakitan. Lebih parah lagi,kita juga menjumpai orang miskin yang sakit-sakitan. Inikah yang kita cari? Sudah saatnya kita mengubah paradigma pembangunan kita. Jangan memusatkan pada pertumbuhan ekonomi.
Indonesia dapat menjadi pelopor mempunyai paradigma pembangunan yang tidak terpusat pada pertumbuhan ekonomi.Pertumbuhan ekonomi tetap penting dan kita perlukan tetapi pertumbuhan ekonomi sekadar salah satu alat penting untuk tujuan pembangunan, seperti peningkatan kesehatan dan penurunan angka kemiskinan. Jadikanlah kesehatan sebagai salah satu tujuan penting pembangunan ekonomi.
Janganlah kesehatan sekadar dijadikan bisnis yang mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sebagai bonus, kalau orang Indonesia menjadi sehat walafiat, mereka pun akan dapat bekerja dengan lebih produktif, dan perekonomian juga akan tumbuh dengan pesat. Kebijakan yang prokesehatan sejalan dengan kebijakan yang propoor. Orang miskin akan sangat diuntungkan dengan adanya kebijakan yang prokesehatan.
Untuk mengukur keberhasilan ekonomi, pemerintah perlu melihat kemajuan dalam bidang kesehatan. Pemerintah dapat mengeluarkan statistik status kesehatan setiap tiga bulan sekali. Badan Pusat Statistik dapat ditugasi untuk mengumpulkan data dan mengeluarkan statistik ini. (*)
Aris Ananta Ekonom
Sumber: www.okezone.com
|
|
Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Selasa, 03 November 2009 09:40 |
|
PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) yang semula bernama Bank Century, mencatatkan peningkatan laba bersih selama sembilan bulan pertama tahun 2009 mencapai 359,31 persen menjadi Rp237,31 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp51,666 miliar.
Peningkatan laba bersih perseroan, dipicu oleh pos keuntungan penjualan efek bersih perseroan selama sembilan bulan pertama tahun ini yang melonjak tajam hingga 4.793,6 persen menjadi Rp38,709 miliar, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp791,674 juta. Sedangkan pos jumlah pendapatan pos operasional lainnya juga naik 94,06 persen menjadi Rp60,935 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp31,399 miliar.
Hal tersebut disampaikan Dirut BCIC Maryono dalam laporan keuangan semebilan bulan pertama 2009 kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Selasa (3/11/2009).
Kendati demikian, pada pos jumlah pendapatan bunga perseroan terpangkas 56,46 persen menjadi Rp402,387 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp924,223 miliar. Pos pendapatan bunga bersih perseroan juga turun 86,42 persen menjadi Rp53,273 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp392,567 miliar.
Perseroan selama sembilan bulan pertama 2009 hanya mengeruk keuntungan transaksi valuta asing sebesar Rp128,559 juta, atau menurun 91,26 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,466 miliar. Beban operasi perseroan terpangkas menjadi minus Rp1,616 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp345,999 miliar
Sumber: www.okezone.com
|
|
Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Jumat, 30 Oktober 2009 12:59 |
Berlawanan dengan konsumsi semen domestik yang menurun tahun ini, jutru saham tiga emiten semen mengalami peningkatan signifikan. Ada apa dan bagaimana prospek saham semen ini?
Memang, kalau dibanding periode yang sama di tahun lalu, konsumsi semen domestik pada semester I/2009 mengalami penurunan hingga 7%. Lalu, dari Januari hingga September 2009 konsumsi semen domestik, seperti yang diungkap Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia Urip Timuryono, menurun hingga 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 28,5 juta ton. Kendati menurun 4%, pencapaian tersebut jauh lebih baik dibanding akhir semester I/2009 yang turun 7%.
Namun, kalau dilihat per bulan sejak Juli 2009, konsumsi semen domestik cukup menggembirakan. Seperti pada Juli dan Agustus 2009, masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 2,8% dan 7,5% dibanding periode yang sama di tahun lalu.
Pertumbuhan semen domestik di Juli dan Agustus 2009 itu lebih banyak disumbang oleh pertumbuhan permintaan semen di luar Pulau Jawa. Seperti di Agustus 2009, permintaan semen domestik yang sebesar 7,5% merupakan kontribusi pertumbuhan sebesar 22,3% berasal dari luar Jawa. Sementara, Jawa sendiri yang mengonsumsi sekitar 55% dari total konsumsi nasional masih mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1,9%.
Penurunan tersebut tak lepas dari kondisi makro perekonomian yang belum pulih total. Khusus pada September lalu, ada libur Lebaran hingga 10 hari sehingga membuat proses distribusi berkurang. Hasilnya, sepanjang September penjualan semen hanya 2,5 juta ton. Sementara, dari Januari hingga September 2009, penjualan produk ini mencapai 27,2 juta ton.
Namun, harapan akan membaiknya industri semen tetap ada. Dan, tanda-tanda itu sudah terlihat memasuki semester II tahun ini, kendati konsumsi semen tahun ini diprediksi akan lebih rendah dibanding pencapaian tahun 2008. Konsumsi semen dalam negeri pada tahun lalu mencapai 38,08 juta ton, sedangkan pada tahun 2007 hanya 34,17 juta ton. Secara total penjualan semen untuk domestik dan ekspor pada 2008 menembus 43,02 juta ton, atau naik dari tahun 2007 yang mencapai 41,95 juta ton.
Nah, tahun ini Asosiasi memperkirakan konsumsi domestik sekitar 36 juta ton, dan tahun depan diprediksi akan lebih besar lagi, yaitu 38-39 juta ton. Inilah yang membuat ekpektasi terhadap saham semen meningkat sejalan dengan mulai menggeliatnya proyek pembangunan properti dan infrastruktur yang sempat tertunda akibat krisis. Belum lagi pembangunan sarana dan prasarana dalam rangka pemulihan akibat bencana gempa seperti di Sumatera dan Jawa Barat.
Tengok saja, harga saham tiga perusahaan semen yang sudah listing di bursa. Saham PT Semen Gresik Tbk. (berkode SMGR) per 31 Januari hingga per 15 September 2009 naik 88,5% dari Rp 3.475 menjadi Rp 6.550. Lalu, saham PT Holcim Indonesia Tbk. (SMCB) naik 124% dari Rp 580 menjadi Rp 1.300. Dan, yang paling tinggi kenaikannya, yakni 122,22%, adalah saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) dari Rp 4.500 menjadi Rp 10 ribu.
Agung Wiharto, Manajer Hubungan Investor Semen Gresik (SG), mengungkapkan, upaya perusahaannya meningkatkan kinerja sahamnya adalah dengan dua cara, yaitu fokus pada sinergi grup dan melakukan efisiensi. Seperti kita ketahui, SG memiliki dua anak perusahaan: PT Semen Padang di Sumatera Barat dan PT Semen Tonasa di Sulawesi Selatan. Salah satu upaya melakukan efisiensi adalah dengan efisiensi energi penunjang produksi semen dan transportasi.
“Untuk pabrik semen, energi batu bara mencapai 24%, listrik 16% dan transportasi 14%,” katanya sambil menambahkan, selain menggunakan batu bara rendah kalori yang lebih murah, perusahaan ini juga mengembangkan energi alternatif dari komoditas pertanian. Hal lainnya yang dilakukan adalah berupaya menerapkan Good Corporate Governance (GCG) dengan baik. “Ini upaya kami sebagai perusahaan publik untuk melakukan transparansi,” ia mengungkapkan.
Hingga saat ini, menurut Agung, SG merupakan pemimpin pasar di industrinya dengan penguasaan pasar 45%. Dalam setahun, SG mampu memproduksi 18 juta ton semen: dari Semen Gresik 8,6 juta ton, Semen Padang 5,9 juta ton dan Semen Tonasa 3,5 juta ton.
Untuk meningkatkan kapasitas produknya, SG sedang membuat pabrik baru, yaitu pabrik Tuban IV yang telah dicanangkan oleh Menneg BUMN pada 20 Agustus 2009. Pabrik tersebut berkapasitas 2,5 juta ton/tahun yang dibangun dengan biaya Rp 3,5 triliun, menggunakan teknologi terkini yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Lokasi pabrik baru yang berada di antara pabrik milik SG ini direncanakan dapat beroperasi penuh pada awal 2012. Kehadiran pabrik baru ini memberikan harapan kepada investor di pasar modal bahwa saham perusahaan yang berkode SMGR ini akan lebih prospektif.
Apalagi, kalau menengok kinerjanya yang tambah kinclong. Lihat saja, hingga semester I/2009, di tengah permintaan semen yang mengalami penurunan hingga 8,4%, perusahaan ini hanya mengalami penurunan 5,7%, bahkan mencatat kenaikan laba bersih yang cukup signifikan: 33,2%. Kenaikan tersebut diperoleh karena keberhasilan menekan biaya produksi dan efisiensi segala lini, di antaranya melalui sinergi antar-anak perusahan.
Pada semester I /2009 itu, pendapatan (revenue) SG mencapai Rp 6,77 triliun, atau meningkat 18,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2008 sebesar Rp 5,7 triliun. Selama 6 bulan pertama 2009, perusahaan ini mampu menjual semen sebesar 19,49 juta ton untuk konsumsi pasar domestik dan ekspor. Sementara, laba usahanya mencapai Rp 1,91 triliun, naik 25,5% dibandingkan tahun 2008 sebesar Rp 1,52 triliun. Laba bersih SG dalam semester I/2009 tercatat Rp 1,51 triliun, naik 33,2 % dibandingkan periode yang sama pada 2008 sebesar Rp 1,14 triliun, dan EBITDA mencapai Rp 2,13 triliun (naik 19,4%).
Aksi korporasi yang baru saja dilakukan emiten ini, yaitu penjualan 68,03 juta saham, memberikan keuntungan Rp 215,99 miliar. Saham-saham tersebut merupakan hasil buy back SG sejak tahun lalu. Hasil penjualan saham ini memang tidak masuk ke laba-rugi, tetapi tetap akan menambah kas perseroan. Ditambah menguatnya rupiah terhadap dolar AS yang mencapai 10%, kemampuan SG membiayai pabrik menjadi semakin kuat. SG tahun ini memang banyak membutuhkan dana terutama untuk ekspansi. Selain itu, gempa Padang beberapa waktu lalu juga membuat SG harus mengeluarkan dana Rp 9,3 miliar untuk perbaikan. “Buy back kami pada tahun lalu seharga Rp 2.900 per saham dan pada awal Oktober ini dijual pada harga Rp 6.100,” ujar Agung.
Beralih ke Indocement, pada semester I/2009 perusahaan ini juga membukukan kinerja positif. Laba bersih perseroan melejit 52,84% yaitu menjadi Rp 1,18 triliun dibanding semester I/2008 Rp 772 miliar. Pada semester I/2009, Indocement membukukan penjualan sebesar Rp 4,8 triliun, naik 6,67% dibanding semester I/2008 sebesar Rp 4,5 triliun. Biaya produksi menurun 3,41% menjadi Rp 2,55 triliun dari sebelumnya Rp 2,64 triliun.
Beban bunga juga mengalami penurunan signifikan sebesar 60,06% menjadi Rp 30,45 miliar dari sebelumnya Rp 76,24 miliar. Beban bersih pun menurun signifikan sebesar 65,81% menjadi Rp 9,28 miliar dari sebelumnya, Rp 27,16 miliar. Dengan berbagai penurunan pada pos beban tersebut, Indocement berhasil membukukan laba bersih yang melonjak 52,84%. Laba per saham pun otomatis ikut naik sebesar 51,81% menjadi Rp 318,5 per saham (dari sebelumnya Rp 209,8 per saham).
Sementara itu kinerja Holcim -- berkode SMCB -- pada semester I/2009 tidak terlalu menggembirakan. Pada periode tersebut laba bersih Holcim mencapai Rp 280 miliar atau turun 21,78% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp 341 miliar. Penurunan ini didorong oleh tingginya beban bunga pinjaman hingga US$ 195 juta. Rusli Setiawan, Direktur Relationship Management Holcim, mengatakan, dampak tingginya suku bunga pinjaman dalam negeri dan pelemahan nulai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal 2009 juga turut berkontribusi terhadap melorotnya kinerja laba bersih itu. Meski demikian, Holcim membukukan peningkatan penjualan sebesar 15% menjadi Rp 2,35 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Aksi korporasi yang segera dilakukan Holcim, kabarnya, adalah merealisasi pinjaman senilai US$ 40 juta paling lambat Oktober tahun ini. Dana hasil pinjaman tersebut rencananya akan digunakan untuk membiayai akuisisi 100% saham Holcim Sdn. Bhd. (Malaysia). Nilai akuisisi Holcim Malaysia kabarnya mencapai US$ 50 juta, di mana Holcim akan menggunakan sekitar US$ 40 juta dari pinjaman domestik, sedangkan sisanya yang US$ 10 juta berasal dari kas internal. Selain dari pinjaman bank, Holcim juga tidak menutup kemungkinan emisi obligasi untuk memenuhi target pinjaman.
Holcim Malaysia sendiri memiliki kapasitas penggilingan sebanyak 1,2 juta ton semen/tahun dan pabrik pencampuran sebanyak 65 ton per jam. Menyangkut kinerja keuangan semester II, Rusli memperkirakan pendapatan Holcim bisa meningkat sekitar 20% seiring dengan membaiknya konsumsi semen. Dengan rencana akuisisi ini, diperkirakan kinerja Holcim bisa semakin baik, terutama untuk memenuhi kemungkinan lonjakan permintaan atas semen yang sempat surut. Holcim juga berencana membangun pabrik baru di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas 2 juta ton semen untuk memenuhi kebutuhan konsumsi semen Ja-Tim yang mencapai 4-5 juta ton/tahun.
Prospek emiten semen sendiri diperkirakan semakin cerah, terkait masih banyak tersisanya anggaran stimulus infrastruktur yang bernilai total Rp 11,549 triliun. Maxi Leisyaputra, analis dari BNI Securities, menganalisis, saham-saham ketiga emiten semen itu sangat menarik. Pasalnya, semua harga sahamnya meningkat, padahal dari awal tahun penjualan semen domestik menurun. Dalam catatan Maxi, dari awal tahun hingga 7 Oktober 2009, saham Indocement naik 154% dari Rp 5.050 menjadi Rp 11.700, saham SG naik 58% dari Rp 4.200 menjadi Rp 6.600, saham Holcim naik 148% dari Rp 660 menjadi Rp 1.560.
Meningkatnya kinerja emiten semen itu lebih didorong oleh internal perusahaan seperti pengendalian biaya produksi, sehingga prospek sahamnya membaik, plus ekspektasi permintaan semen ke depan akan meningkat. Hanya saja, Maxi menggarisbawahi bahwa kenaikan saham ketiga emiten itu sudah terlalu tinggi. “Dengan demikian, saham-saham semen ini jadi kurang menarik, kecuali SG yang belum menyentuh harga tertingginya,” katanya menegaskan. Namun, saham emiten ini akan menarik kembali kalau ada aksi korporasi yang berpengaruh secara siginifikan.
Sejalan dengan Maxi, seorang investor, sebut saja Andi, melihat bahwa saham SG masih menarik untuk dikoleksi. Alasannya, kinerja perusahaan tersebut cukup bagus dan ke depan pun akan tetap tumbuh. Memang, kenaikan saham perusahaan ini selama 2009 cenderung sudah terlalu tajam, tetapi pada 2010-11 diperkirakan SG bisa tampil lebih baik mengingat banyaknya belanja infrastruktur pemerintah dan properti yang akan banyak mengonsumsi semen. “Prospek inilah yang jadi pertimbangan sehingga saya masih memegang saham SG,” ujarnya tanpa mau merinci lebih jauh. Dengan alasan Andi itu pulalah, saham Indocement dan Holcim masih layak dicermati untuk investasi jangka panjang.
Riset: Sarah Ratna Herni
Sumber: Swa.co.id
|
|
Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Jumat, 30 Oktober 2009 10:02 |
Citibank pada 28 Oktober lalu memperoleh penghargaan “Most Innovative Bank in Climate Change” dari The Banker Magazine, sebuah majalah internasional di bidang perbankan dan keuangan. Penghargaan ini berfokus dalam hal inovasi – seputar produk, struktur, dan penyampaian produk tersebut.
Faktor-faktor yang melatarbelakangi terpilihnya Citi untuk menerima penghargaan ini, antara lain, komitmen berkelanjutan Citi melalui program-program seputar permasalahan perubahan iklim dengan total alokasi dana senilai US milyar. Lalu proyek Noble Environmental Power selama 15 tahun dalam bentuk konstruksi dan pinjaman senilai US1 juta yang dikenal sebagai wind financing terbesar sampai saat ini. Selanjutnya Enviromental Products trading team dalam mengembangkan struktur transaksi baru sehingga dapat memberikan marjin yang sesuai untuk pembeli dan penjual dalam lingkungan dengan keragaman harga.
“Kami bangga dan gembira memenangkan penghargaan ini. Kami terus berkomitmen mendukung penghematan energi melalui program-program “hijau” dalam kegiatan eksternal maupun operasional kami,” ungkap Sandip Sen, Alternative Energy Group Head Citibank.
Dalam tahun ketujuhnya, Investment Banking Awards melihat dampak inovasi terhadap perkembangan perbankan dalam memenuhi tuntutan industri. Pemenang dipilih oleh panel yang terdiri dari juri-juri independen dari komunitas bisnis dan keuangan global.
(swa)
|
|
Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Rabu, 28 Oktober 2009 23:57 |
|
text TEXT SIZE : Foto: Koran SI.
Apa itu short selling, yang sempat membuat pasar heboh ketika harga saham turun drastis pada penghujung 2008 lalu? Untuk pelaku pasar saham, istilah itu sudah tidak asing lagi.
Tapi bagi para investor baru, ada baiknya untuk mengetahui apa sih short selling itu? Pada dasarnya transaksi short sell merupakan transaksi yang cukup unik. Disebut unik karena transaksi ini memiliki karakter khusus yakni pelaku short sell menjual saham dulu baru kemudian membeli, pelaku short sell menjual saham yang bukan miliknya, dan pelaku short sell akan meraih untung justru apabila harga saham turun.
Ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) belum menyalakan lampu hijau untuk transaksi short sell, transaksi ini sebenarnya sudah banyak dilakukan pelaku pasar secara diam-diam. Dengan menerapkan sistem netting, investor memang sangat dimungkinkan untuk melakukan short sell. Hanya saja ruang geraknya sangat terbatas. Short seller -pelaku short sell- harus melakukan buy back hari itu juga untuk saham yang sama dengan volume yang sama. Praktis, jika saham yang dijual harganya naik berarti short seller akan menderita rugi.
Ilustrasinya begini: Jika investor X melakukan transaksi short sell dengan menjual saham XYZ pada harga Rp6.600 sebanyak 20 lot, maka dengan pola penyelesaian secara nettingi, ia harus membeli lagi saham XYZ sebanyak 20 lot sehingga tidak ada selisih antara volume jual dengan volume beli. Jika harga XYZ turun dan X bisa membeli di bawah harga Rp6.600 maka ia akan mendapatkan untung. Sebaliknya jika XYZ naik dan X terpaksa harus membeli hari itu juga pada harga di atas Rp6.600, maka X akan menderita kerugian.
Inilah bahaya transaksi short. Jika pelaku short salah memprediksi arah pasar maka hampir pasti ia akan menderita kerugian. Karena itu, seorang short seller dituntut memiliki kemampuan yang tinggi dalam membaca arah pasar. Dengan memperhatikan informasi yang berkembang - baik indikator ekonomi makro maupun fundamental perusahaan seta sentimen pasar yang terbentuk - seorang short seller akan memutuskan apakah ia akan melakukan transaksi short atau tidak. Keputusan jual dan belipun harus dilakukan secara cepat. Transaksi ini termasuk jenis transaksi berisiko sehingga tidak sembarang investor mampu dan berani melakukannya.
Transaksi short sell sempat dilarang ketika pasar sedang mendapat tekanan berat akibat krisis keuangan global pada Oktober hingga Desember 2008. Kini transaksi short sell telah diperbolehkan kembali pada saham-saham tertentu yang sudah ditetapkan oleh otoritas. Dengan dinyalakannya lampu hijau untuk transaksi short sell, kalangan short seller tidak perlu buru-buru harus buy back saham hari itu juga. Sebab, ada mekanisme pinjam meminjam saham (lending end borrowing) yang akan dimainkan oleh PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (APEI).
Dengan pola ini investor bisa lebih leluasa melakukan transaksi short sell. Jika investor tidak bisa melakukan buy back pada hari yang sama, maka ia bisa menunggu hari berikutnya. Hanya saja, selama saham belum dibeli si investor akan dikenai kewajiban semacam bunga pinjaman. Nilainya bervariasi antara perusahaan broker yang satu dengan lainnya. Kisarannya antara 15 persen hingga 18 persen setahun.
Untuk bisa memenangkan transaksi short dibutuhkan kemampuan khusus. Transaksi short selling tidak bisa hanya dilakukan dengan mengandalkan felling semata. Alat bantu yang lebih banyak digunakan adalah teknikal analisis. Saham yang dibolehkan ditransaksikan secara short adalah saham-saham favorit dan likuid. (Tim BEI)(//rhs)
Sumber: www.okezone.com
|
|
|