Sabbatha fashion lokal untuk konsumsi international

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,43/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 06 Oktober 2009 17:51

sabbathaDengan modal nekat, Sabbatha mencoba membangun bisnis sendiri. Kini, produk-produk buatannya berhasil menembus pasar dunia. Selebritas kelas dunia pun menjadi konsumennya.

Usai menamatkan pendidikan di Universitas Sorbonne, Prancis, pria yang bernama lengkap Sabbatha Rahzuardi Maya Dwianto ini bekerja sebagai art director di sebuah perusahaan periklanan di Bali. Awalnya ia begitu menyukai pekerjaan tersebut, karena bisa menyalurkan jiwa seni yang memang sangat kental dalam dirinya.

Ternyata Sabbatha hanya bertahan selama empat tahun di perusahaan tersebut. Tahun 2004, ia memutuskan membangun usaha sendiri. Ia mulai membuat berbagai aksesori rumah seperti sarung bantal dengan mendesain sendiri. “Aku melihat ternyata aku bisa mendesain,” ujarnya.

Di tengah perjalanannya mengembangkan usaha itulah, ia justru melihat dunia aksesori fashion lebih semarak. Anak kedua dari tiga bersaudara ini pun memutuskan menjadi bag designer, profesi yang masih sangat langka di Indonesia. “Aku mencoba menempatkan diri aku sebagai seniman yang bisa mengombinasikan antara unsur seni dan kebutuhan life style,” katanya.

Ya, tas menjadi media Sabbatha untuk menyalurkan kreativitasnya. “Tas lebih simpel, ukurannya cuma satu, sedangkan baju atau sepatu ukurannya banyak,” demikian alasannya. Selain itu, menurutnya, tas dari segi struktur tidak terlalu rumit seperti baju. Dan yang terpenting, desainer busana sudah banyak di Indonesia.

Jika menengok ke belakang, sejatinya dunia desain bukanlah sesuatu yang baru bagi Sabbatha. Sejak kecil ia pandai menggambar. Bakat ini diturunkan ayahnya, Pramono S. Pramoedjo, seorang karikaturis senior Indonesia. Ketika kuliah di Universitas Sorbonne, selain belajar di jurusan ekonomi, Sabbatha juga mengambil kelas malam, mempelajari desain interior.

Ketika mulai mendesain dan membuat tas, tak disangka-sangka, seorang temannya menawarkan peluang untuk memasok produk bagi dua perusahaan garmen di Yunani. Pasalnya, perusahaan yang memproduksi busana tersebut tidak memiliki departemen yang membuat aksesori, sehingga perlu mencari desainer aksesori untuk melengkapi produknya. Pria kelahiran Jakarta, 28 Mei 1977, ini pun mempresentasikan karya-karyanya. “Ternyata cocok. Dari situ jumlah order yang aku dapat cukup banyak. Kemudian dari keuntungan yang aku dapatkan saat itu, akhirnya tiga tahun lalu aku mulai membuat brand-ku sendiri,” ujar Sabbatha seraya menjelaskan, saat itu satu perusahaan memesan sampai 5.000 unit per musim.

Dengan modal sekitar Rp 70 juta, ia mendirikan sebuah toko di daerah Seminyak, Bali. Kebetulan, ketika menyuplai untuk perusahaan di Yunani tersebut, ia juga membuat beberapa barang yang tidak jadi dikirimkan karena kualitasnya jauh lebih baik sehingga harganya menjadi lebih mahal, tidak sesuai dengan harga yang diinginkan kliennya. Barang-barang yang tadinya untuk sampel ke Yunani inilah yang akhirnya dipajang di butiknya pertama kali. Saat itu, ia mematok harga tasnya di kisaran Rp 2-6 juta. Bahan yang digunakan untuk tas masih sederhana, seperti ukiran kayu dan kaca.

“Aku ingin menunjukkan bahwa aku ini seniman yang bisa berekspresi dengan bahan apa saja,” ungkap Sabbatha. Karena itulah, lama-kelamaan ia mulai menggunakan berbagai bahan untuk tas buatannya. Ia pun menggunakan bahan-bahan yang berkualitas, sehingga harga pun mau tak mau tidak bisa murah.

Awalnya Sabbatha mencoba membuat tas berbahan kain, lama-lama ia memutuskan fokus memilih materi kulit – yang dianggap lebih awet -- sebagai badan tas. Kulit yang digunakan adalah kulit sapi, domba, kambing dan ular piton. Kulit tersebut dipadukan dengan berbagai materi seperti batu-batuan natural, ukiran tanduk rusa, ukiran tanduk kerbau dan ukiran perak. Ia belum menggunakan batu permata, masih batu semi-precious seperti kristal, amethyst, black onyx dan agate. Bahan-bahan tersebut ia beli di Bali dari penjual yang memang sering mencari bahan baku ke berbagai wilayah. Dengan karyanya, Sabbatha ingin menunjukkan kekayaan alam Indonesia.

Setiap bulan Sabbatha rata-rata mengeluarkan empat model tas, dan setiap model memiliki 2-3 warna. Setiap warna menggunakan aksesori yang berbeda. Karena bahan-bahan yang digunakan pun semakin advance, semakin unik dan berkualitas baik, harga pun semakin naik. Kini, sebuah tas Sabbatha harganya di kisaran Rp 12-25 juta.

Nama Sabbatha terus melambung. Tas-tas hasil rancangannya sangat diminati konsumen. Bahkan, mampu menarik perhatian sosialita dunia, seperti aktris Katie Holmes dan supermodel Elle Mc Pherson. Di dalam negeri, sejumlah pejabat dan sosialita juga menjadi penggemarnya. Ada Meutia Hatta, Mbak Tutut, Cornelia Agatha, Lulu Tobing, juga keluarga Bakrie. “Prosesnya sebenarnya normal saja, aku buka toko pertama kali pada 12 Juli 2006 dan November aku mulai masuk Jakarta dengan mempromosikan di Harper's Bazaar,” ujarnya.

Menrut Sabbatha, keberadaan butik yang berlokasi di Bali juga menjadi satu keuntungan baginya. Pasalnya, pengunjung Bali sangat bervariasi, bukan hanya orang lokal, tetapi juga orang asing. Selain itu, ia juga memasang iklan di media lokal di Bali. Untuk menyasar pasar premium di Jakarta, selain di Harper's Bazaar, Sabbatha juga mulai mempromosikan mereknya di sejumlah majalah gaya hidup seperti Elle dan Dewi. Karena belum punya butik di Jakarta, ia menitipkan barangnya di d'Designer Pasaraya dan Alun-Alun Indonesia. “Baru tahun ini aku buka butik di Grand Indonesia,” ujarnya.

Untuk mengenalkan setiap model terbarunya, awalnya ia membuat katalog. Namun karena jumlah barang yang diproduksi tidak banyak, ia menganggap katalog tidak cukup efektif. Sehingga, setiap produk baru ia pajang di website-nya, http://sabbathabali.com.

Menurut Aninditha A. Bakrie, tas produk Sabbatha sangat unik. “Sabbatha itu sebuah hasil seni yang kreatif,” katanya. Keunikan ini pula yang memikatnya sehingga menggunakan tas-tas Sabbatha sejak dua tahun lalu. Apalagi kini, merek Sabbatha terbukti bisa bersaing dengan merek-merek luar negeri yang sudah terkenal lebih dulu. “Desain dan kualitas Sabbatha sangat baik,” kata Aninditha lagi. Karena itu, ia mengaku tetap percaya diri menggunakan produk-produk Sabbatha di berbagai kesempatan.

Keunikan Sabbatha, di mata Aninditha, terletak pada ketepatan kombinasi bahan-bahan yang digunakan. Misalnya, kulit dan batu yang digunakan pada produk-produknya tetap terlihat indah karena kombinasinya yang pas. “Sabbatha juga tidak pernah menempelkan label besar-besar pada produknya karena memang sudah cantik dan bagus,” ujar Aninditha seraya memuji kreativitas seni Sabbatha.

Artis senior Cornelia Agatha sependapat dengan Aninditha. Ia mengaku sangat menyukai dan sudah menggunakan tas-tas Sabbatha sejak tiga tahun lalu. ”Awalnya saya lihat di majalah. Desainnya unik dan kreatif. Apalagi, ini buatan lokal yang sudah punya nama di tingkat internasional,” ujar Cornelia. Setelah itu, pemain teater yang biasa disapa Lia ini menyempatkan diri ke Bali untuk memiliki tas Sabbatha. ”Waktu itu, gerai Sabbatha baru ada di Bali.”

Menurut Cornelia, setidaknya ada dua hal yang bisa didapatkannya dengan menggunakan tas produk Sabbatha. Pertama, Sabbatha tetap prestisius dan sejajar dengan merek-merek terkenal lainnya meski buatan lokal. Soal harga, ia berpendapat, harga itu bisa menunjukkan eksklusivitas produk. ”Untuk sebuah karya seni yang unik dan indah, harga yang ditawarkan Sabbatha cukup pantas,” tambahnya. Selain itu, sebagai pengguna Sabbatha ia merasa spesial karena setiap tas Sabbatha diproduksi dalam jumlah terbatas. Karena itu, baginya, Sabbatha tetap prestisius.

Menurut pengamat mode Samuel Mulia, produk Sabbatha terlalu berat. “Saya enggak terlalu suka yang penuh dan berat, heavy thing, terlalu banyak pernik dan segala macam. Tapi tidak semua orang seperti saya,” ungkap Samuel yang lebih menyukai hal-hal yang minimalis atau tidak terlalu ramai. “Tapi kalau buat saya, Sabbatha bisa sejajarlah dengan brand-brand internasional. Secara tampilan dan sebagainya memang sebaiknya ada yang perlu diperbaiki,” lanjutnya.

Samuel yang lahir dan besar di Bali menilai produk Sabbatha dalam pilihan-pilihan aksesorinya sangat Balinese yang terpengaruh oleh spirit Eropa. “Brand ini menjadi sedikit berbeda ketika kita melihatnya di Jakarta, tetapi begitu saya melihat di website-nya, memang bagus. Itu harus saya akui, “ papar Samuel yang menilai Bali memang sangat terpengaruh oleh Eropa. Kendati tidak terlalu sesuai dengan selera pribadinya, ia mengakui, tas Sabbatha memang bagus.

Sabbatha tidak hanya menarik dari sisi produknya. Kepribadian pria berkepala plontos ini juga sangat menarik. Menurut karyawan Sabbatha, Siti Napisah (37 tahun), Sabbatha adalah orang yang sabar, kreatif, teliti dan sopan. “Orangnya sangat menghargai dan selalu mengambil sisi positifnya,” ujar perempuan yang sudah bekerja selama enam tahun untuk Sabbatha. Ia menyebutkan, jika ada masalah di antara karyawan, Sabbatha biasanya memanggil keduanya lalu ditengahi dan diminta agar jangan seperti itu lagi. “Dia tidak pernah marah,” kata Siti.

Ungkapan Siti dibenarkan Sapiran Ansori (43 tahun). Menurut supervisor produksi di bengkel kerja Sabbatha ini, jika terjadi kesalahan dalam proses mewujudkan desain ke bentuk jadinya, akan ditelusuri di mana letak salahnya tanpa mencari kambing hitam. “Selama saya bekerja di sini, hampir tidak pernah ada masalah,” ujarnya.

Sabbatha mengatakan, keberhasilannya hingga saat ini memang tak lepas dari peran seluruh karyawannya yang saat ini berjumlah 28 orang. Karena itu, ia berusaha memperlakukan seluruh karyawannya dengan baik layaknya sebuah keluarga. Menurutnya, ia tidak akan bisa bekerja seorang diri tanpa bantuan karyawannya. Apalagi, produk Sabbatha tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi juga ke banyak negara.

Untuk pasar mancanegara, Sabbatha sudah menjalin kerja sama dengan 9 agen (toko ternama) di sejumlah kota: Mumbai, Hawai, Roma, Amsterdam, Milan, Cannes, Florence, Sydney dan St. Tropez. “Sistemnya beli putus,” ungkapnya. Namun, untuk toko yang di Mumbai, sampai dengan kerangka untuk memajang barang pun dipasok olehnya. “Jadi, mereka mendisplai barang ini ya seperti apa adanya aku mendisplai di Grand Indonesia dan di Bali,” tutur Sabbatha seraya menjelaskan, para agen tersebut tidak dihubunginya, tetapi mereka datang sendiri karena telah mengetahui mereknya.

Sabbatha berencana membuka butik di Jepang (Tokyo) pada Agustus ini dan Rusia (Moskow) pada November, bekerja sama dengan orang yang bersedia mengembangkan nama Sabbatha di kedua negara itu. Konsep toko di dua negara itu pun sama dengan konsep toko yang di Bali dan di Jakarta. “Semua yang aku dapatkan ini adalah sebuah keberuntungan yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya,” tuturnya mensyukuri. Karena itu, ia berharap keberuntungan akan terus ada di tangannya dan merek Sabbatha dapat terus mendunia.


Reportase: Ahmad Yasir dan Wini Angraeni
Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Links

feed image