Entrepreneurship

Sukses dari Sepatu Kulit

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 02 November 2009 16:12

Produknya telah menembus pasar Eropa. Armani pun memesan darinya. Inilah jatuh- bangun anak Tasik merenda bisnis.

Fokus. Itulah pilar kesuksesan Dede Chandra mengembangkan bisnis sepatu. Sejak mengibarkan CV Fortuna Shoes (FS) pada 1968, dia memang selalu fokus: menggarap sepatu kulit segmen premium. Dan dia sukses dengan cara itu. Memproduksi 40 ribu pasang setahun, sepatunya menembus negara maju seperti Belanda, Jerman, Prancis dan Italia.

Perjalanan bisnis ini tidak diperkirakan sebelumnya. “Saya masuk ke bisnis sepatu ini tidak sengaja,” ujar Dede, pria kelahiran Tasikmalaya 69 tahun lalu. Setelah ditinggal mangkat ayah dan ibunya, Dede kecil (12 tahun) hidup bersama pamannya di Bandung. Sang paman adalah pembuat sepatu perempuan dewasa dan menjualnya di toko miliknya, Rofina.

Hidup bersama paman yang pebisnis sepatu membuat Dede menggeluti urusan serupa. Dia membantu sang paman, dari pekerjaan ringan hingga mengurusi pemasaran. Merasa sudah mampu dan ingin mandiri, selepas SLTA, dia menggulirkan bisnisnya sendiri. Berdirilah FS di sebuah rumah kontrakan di Lengkong Kecil, Bandung, yang mempekerjakan tiga karyawan.

Seperti pamannya, Dede menggeluti sepatu kulit. Bedanya, dia fokus pada sepatu anak perempuan usia 5-12 tahun. Selain belum banyak pesaing, “Saya tak mau mengambil pasar Paman,” katanya.

Pilihan ini tak keliru. Tahun pertama berdiri, banyak toko sepatu tertarik menjual produknya karena bahan baku kulitnya lebih empuk dibandingkan sepatu anak yang ada. Dede mengenang, ketika menggulirkan usahanya, tiap Jumat sebelum adzan Subuh dia di Stasiun Kereta Bandung. Berangkat ke Jakarta, dia mendarat di Proyek Pasar Senen. Pukul 07.00, sebelum toko-toko di Proyek Senen dibuka, dia menyiapkan 25 pasang sepatu untuk ditawarkan.

Sambutan pedagang Senen sangat baik. Tak mengherankan, rutinitas seperti itu terus berlanjut sampai beberapa tahun. Jumlah produksi pun meningkat. Di tahun kedua, 50 pasang. Dan seiring dengan itu, Dede membuat sepatu anak lelaki usia 5-12 tahun.

Diakui Dede, pesatnya usaha FS turut dipengaruhi bersatunya dua kekuatan sepatu di Bandung. Pasalnya, pada 1970 dia menikahi putri pemilik toko sepatu ternama di Kota Kembang. Orang tua Faleria Wijaya, istri Dede, adalah pemilik toko sepatu Shensen yang terkenal sejak zaman Belanda. “Tahun itu dahsyat sekali karena kami bisa bekerja berdua," ucapnya bersemangat. Kapasitas pun meningkat sampai 250 pasang sepatu.

Namun, empat tahun kemudian malang tak bisa ditolak. Pasar Proyek Senen terlalap si jago merah, dan Dede terkena imbasnya. Banyak toko pelanggannya menunggak pembayaran. Akan tetapi, itu tak memukulnya terlalu lama. Terbakarnya pasar Proyek Senen membuatnya mengarahkan produknya ke Pasar Baru, Jakarta. Dan terbukti pilihannya tak keliru. Di sini dia justru makin moncer sehingga bisa melebarkan pasar ke wilayah lain di Jakarta seperti Pancoran dan Cipete.

Tahun 1975 Dede membeli mesin jahit sepatu paling mutakhir dari Jerman. Keberadaan mesin ini menandai era baru karena sebelumnya FS menggunakan mesin jahit konvensional dengan ayunan kaki. Di tahun itu pula Dede dilibatkan memasarkan sepatu produksi toko Shensen, merek Robin Hood (RH), yang persebarannya hingga Makassar. Toko Shensen sendiri sudah tenar dengan Goodyear Welted System (GYWS) yang menghasilkan sepatu yang nyaman, tahan banting dan awet.

Waktu terus berjalan. Tahun 1995 menjadi momen emas dunia sepatu Tanah Air, tak terkecuali FS. Memiliki 300 karyawan, Dede sudah mampu mengekspor beberapa jenis sepatu kulit, termasuk sepatu golf yang dipasarkan ke Jepang dengan merek Puccini. Sayang, badai krisis moneter datang memukul industri sepatu. Dede pun kena dampaknya. Padahal, dia baru memindahkan pusat produksi ke pabrik baru yang lebih luas, 4.000 m2, di Jl. Sriwijaya, Bandung. “Semuanya habis. Ekspor sempat berhenti,” ujarnya mengenang.

Tak mau limbung, Dede mencoba berpikir positif dan justru mengisi dua tahun krisis untuk belajar cara pembuatan sepatu berbasis GYWS. Namun, upaya memasarkan hasil teknologi ini tak mulus. Dia sempat mencoba ekspor ke Taiwan, tetapi hanya berlangsung dua kali. “Bahan baku lokal yang saya gunakan dianggap tak sesuai standar walau sebenarnya sama bagusnya.”

Tak patah arang, Dede mengimpor bahan baku kulit dan material lain dari Eropa. Dia juga menjadikan Eropa yang telah terbiasa dengan produk GYWS sebagai pasarnya. Dan nasib baik menemaninya. Pemesan berdatangan dari Belanda, Jerman dan Prancis. Yang menarik, dia kemudian diminta memproduksi sepatu dengan merek pesanan importir. Antara lain, Van Bommel, Prime Shoes, Oehler dan Bexley. “Tapi hampir semuanya dicap 'made in Indonesia',” katanya. Bahkan, pernah beberapa kali desainer terkemuka dunia, Giorgio Armani, mengorder sepatu ke FS. “Tapi tidak mau disebutkan made in Indonesia,” ujar Dede seraya tersenyum geli.

Ada pengalaman menarik lain. Seorang pejabat dari kabinet Indonesia Bersatu pernah tertarik membeli sepatu Prime Shoes di Jerman. Jika dikurs rupiah, harganya sekitar Rp 4 Juta. “Pejabat itu kaget sekali begitu membaca ada cap 'made in Indonesia' di bawah sepatu. Begitu sampai di Indonesia, dia menyempatkan berkunjung ke pabrik saya dan sampai sekarang menjadi pelanggan loyal,” papar Dede.

Dari sisi harga, produk FS memang cukup premium. Meski demikian, sebenarnya masih lebih murah dibanding produk selevel buatan Eropa. Sepatu dengan teknik yang sama di Eropa dibanderol Rp 4-5 juta. “Kalau beli di sini, hanya Rp 1,5 Juta,” katanya. Dia akui, bagi masyarakat Indonesia, produknya terbilang sangat mahal.

Yang jelas, sejak order ekspor dari Belanda datang, negara Eropa lain ikut memesan. Produksi sepatu Dede dengan pola GYWS yang dimulai pada 1997 itu pun terus meningkat kapasitasnya dari tahun ke tahun. Sejak 2004 pabrik Dede mampu berproduksi sampai 40 ribu pasang/tahun. “Sampai sekarang produksi masih berada di kisaran angka itu,” ujarnya. Dede menargetkan tahun depan bisa mencapai produksi lebih dari 40 ribu pasang.

Mengapa FS tidak memasarkan merek sendiri ke Eropa? “Kalau untuk ekspor sepatu dengan sistem GYWS, jika belum punya nama, kita tidak bisa jual mahal,” Dede memberi alasan. Namun, untuk Jepang, dia mengekspor dengan merek sendiri: Fortuna Shoes.

Kendati dalam negeri bukan pasar utama, banyak orang Indonesia mengenal dan mengapresiasi FS. Bahkan, tahun lalu FS memperoleh penghargaan bidang Rintisan Teknologi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dede benar-benar melejit di sepatu kulit.

Di dalam negeri, produk-produk FS antara lain dijual di galeri sepatu Eternity, Bandung. Astri Budiarti, karyawan Divisi Penjualan Eternity, menjelaskan bahwa penjualan produk FS di galerinya cukup bagus. “Dalam sebulan ini lebih dari 10 pasang terjual,” katanya. Ada empat merek sepatu FS yang dijual di Eternity: Red Rum, Van Bommel, Lederer dan Quarvif.

Dari perjalanannya menggeluti bisnis sepatu kulit ini, Dede menyimpulkan bahwa agar bisa bertahan, ada tiga hal terpenting yang mesti dilakukan. Pertama, mengamankan bahan baku. Mendapatkan kulit tak semudah karet PVC sepatu olah raga. Hanya ada tiga negara penghasil bahan baku. Komponen bahan baku sepatu FS kebanyakan diimpor. Ada yang solnya dari Italia, kulitnya dari Prancis dan material lain dari Belanda. Komponen impor yang tinggi ini memengaruhi harga jual.

Kedua, menguasai teknologi. FS memiliki 43 jenis mesin yang dibeli satu per satu dan merupakan satu-satunya pabrik sepatu di Indonesia yang memiliki mesin pemotong kulit terintegrasi dengan komputerisasi. Satu mesin pemotong kulit, misalnya, dibelinya dari Swiss seharga Rp 1 miliar.

Ketiga, harus berani nekat. Dia memberi contoh saat dirinya mendirikan pabrik di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung, seluas 6.000 m2. Contoh lain, dia pernah ikut berpameran di Tokyo yang hasilnya belum jelas dengan biaya Rp 270 juta. “Saya nekat saja, waktu pameran hanya ada order 25 pasang. Tapi saya percaya dampaknya. Dan memang betul, seminggu setelah ekspor pertama, datang pesanan bertubi-tubi hingga ratusan pasang,” paparnya.

Budi W. Soetjipto, pemerhati bisnis dan manajemen dari Universitas Indonesia, melihat apa yang dilakukan Dede sudah bagus. Hanya saja, untuk mengembangkan usahanya, dia menyarankan agar Dede terus membesarkan mereknya sendiri. Caranya: memasukkan mereknya ke gerai-gerai, di negara tujuan ekspor maupun di Indonesia. “Lebih bagus lagi jika membangun outlet miliknya sendiri. Langkah ini cukup penting supaya tidak melulu menjadi tukang jahit merek sepatu impor,” katanya.

Dengan cara itu, masyarakat Eropa akan tahu kualitas merek FS tak kalah dari merek premium yang sudah dikenal dunia. Budi melihat FS kini telah berada pada fase peralihan dari imitasi ke inovasi. “Yang penting, terus menguasai teknologinya dan membuat desain sendiri.”

Saran di atas jelas sangat masuk akal meski memiliki risiko tersendiri. Barangkali bukan Dede yang mewujudkannya, melainkan generasi berikutnya. Dede yang hingga kini masih datang ke kantor untuk memastikan manajemen berjalan sesuai dengan rencana memang telah menempatkan anak dan menantunya dalam operasional FS. ***

 

Sumber: www.swa.co.id

 

Bagaimana Memulai Berwiraswasta

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Jumat, 30 Oktober 2009 00:27

Kita tentu biasa melihat penjual pecel lele, soto, bakso atau oncom. Umumnya kita hanya akan mengangkat bahu, berjalan menjauh dan tidak tertarik mengetahui secara pasti sebetulnya berapa besar uang yang dapat mereka dapatkan dalam sebulan.

Bisnis berkesempatan melakukan survei kecil-kecilan di seputar lapak-lapak di wilayah Slipi Jaya. Boleh percaya atau tidak, ternyata pendapatan bersih seorang penjual gorengan dalam sebulannya mampu mencapai sekitar Rp1,5 juta hingga 2 juta.

Dengan jumlah pendapat itu dapat dibilang menyamai gaji seorang fresh graduate strata satu yang bekerja di bank.

Mereka-mereka lah yang oleh Pendiri PT Datascrip Penerbit, Joe Kamdani disebut enterpreneur street fighter sejati yang berdiri tanpa merengek-rengek fasilitas khusus dari pemerintah, bantuan kredit perbankan.

Bahkan ajaibnya, ketika enterpreneur besar yang bermain di ketiak pemerintah ambruk karena krisis, gerobak yang mereka “tarik” ternyata berjalan lancar-lancar saja jalannya.

Bahkan, tak sedikit dari mereka yang melesat. Jika merunut nama enterpreneur yang sebagian besar memulai bisnisnya dari daerah, kemudian baru merambah Jakarta.

Sehingga sebenarnya merekalah yang pantas dijuluki pengusaha sejati sebab mereka pandai memilih bidang bisnis masa depan. Jenis usahanya, mungkin, bukan sesuatu yang luar biasa.

Bukti dilapangan membuktikan ternyata barang/jasa yang dihasilkan diminati pasar dan benar-benar menjadi kebutuhan orang banyak.

Hal yang patut direnungkan, jumlah penguasaha yang patut diteladani seperti itu masih terlalu kecil jumlahnya, bila dibandingkan dengan populasi pengusaha di Indonesia.

Apalagi, kalau dibandingkan potensi bisnis luar biasa besar yang belum tergarap selama ini di Indonesia.

Menurut Presiden Direktur Bosowa Group, Aksa Mahmud meski entrepreneur atau pengusaha adalah jenis profesi yang banyak diidam-idamkan oleh banyak individu yang menginginkankan kebebasan dalam memperoleh penghasilan dan kebebasan dalam mengelola ide bisnis serta fleksibiltas dalam mengatur waktu.

“Hanya saja banyak diantara kita selain faktor budaya ternyata masih ingin menjadi pegawai dan cenderung untuk bermimpi tanpa bekerja keras,”ujarnya.

Menurut dia dalam diri enterpreneur sejati harus memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi a.l tidak cepat puas, terus berinovasi, dan mau bekerja keras

Dalam seminar bulanan Solusi Bussines yang mengambil tema “How To Be A Success Enterpreneur “ lalu yang juga dihadiri Abdulgani, orang dibalik kembali sehatnya PT Garuda Indonesia Airways. Mereka bertiga memberikan tips dan saran bagi orang yang ingin menjadi enterpreneu sejati.

Tunjukkan komitmen kewirausahaan Anda, perubahan pandangan atau pola berpikir karyawan atau profesional menjadi pola pikir wirausaha diperlukan revolusi yang sangat radikal dalam mental dan pikiran seseorang.

Banyak sekali ketakutan dan kekhawatiran dalam benak seseorang apabila ingin berubah status dari karyawan menjadi wiraswasta. Permasalahan yang banyak dihadapi adalah belum siapnya mental sesorang untuk mengurusi kebutuhan diri sendiri secara total serta komitmen wirausaha yang tinggi.
Tanpa adanya komitmen yang maksimal maka dikhawatirkan sesorang akan mengalami frustasi dan kegamangan dalam menjalani proses ‘banting tulangnya’ menjadi seorang pengusaha.

Adanya komitmen yang tinggi diperlukan untuk memberikan spirit dan ’semangat’ supaya seseorang mempunyai kemauan keras dan usaha yang pantang menyerah serta mampu menumbuhkan etos kerja keras yang maksimal.

Jadikan pengalaman kerja/ketrampilan atau hobi sebagai modal wirausaha, sebelum melakukan pilihan jenis wirausaha mana yang akan dijalani oleh seseorang maka alangkah bijaksananya untuk menginventarisasi kompetensi dan pengetahuan yang telah dimilikinya sebagai modal berwiraswasta.

Tujuannya supaya seseorang mampu memilih bidang usaha yang mempunyai fondasi cukup kuat dalam dirinya serta selalu senang dan bersemangat mengelola bisnisnya.

Banyak contoh pengusaha yang memulai bisnisnya dari hobi yang disukainya dan ternyata membawa kesuksesan yang luar biasa. Oleh karena itu jangan remehkan hobi yang Anda miliki sekarang seperti memotret, membuat masakan, merawat mobil, mendesain rumah, siapa tahu bisa menjadi peluang bisnis.

Berani tampil beda, untuk menjalankan bisnis kita supaya lebih sukses maka ada salah satu strategi yang bisa dilakukan yaitu membuat produk bisnis dan jenis usaha yang dikelola dengan ‘usaha tampil beda’ atau mampu melaksanakan differentiating strategy.

Dengan tampil beda berarti produk atau jasa tersebut mempunyai keunggulan atau kelebihan yang tidak ada pada produk atau jasa lain yang sejenis. Kunci ‘tampil beda’ dalam mengelola bisnis baru diharapkan mampu menjadi produk yang menguntungkan.

Terapkan strategi ‘tampil beda’ pada bidang usaha Anda, sehinggga bisnis Anda bisa mempunyai “niche market” di pasar konsumen yang semakin ketat persaingannya.

Gunakan modal seaman dan sehemat mungkin, untuk memulai usaha serta wiraswasta secara cerdas dan bijaksana maka gunakanlah modal secukupnya dan sehemat mungkin.

Evaluasi kebijakan modal investasi secara konservatif dan gunakan uang modal secara bijaksana. Dengan melakukan penghematan dan kontrol modal investasi diharapkan apabila Anda mengalami kegagalan awal dalam mengelola bisnis maka jumlah kerugian yang dialami tidak akan begitu besar yang akan membuat Anda jera memulai bisnis baru lainnya.

Teknik lainnya, yaitu gunakanlah uang secara aman dan mempunyai konsep yang penting lainnya yaitu pilihlah sumber uang yang tidak mempunyai beban atau kewajiban pembayaran suku bunga yang ketat.

Siapkan modal keuletan dan ketekunan, untuk menjadi sukses sebagai wiraswastawan dibutuhkan beberapa modal yang sangat penting yaitu antara lain modal pengetahuan (knowledge capital), modal investasi (investment capital) serta modal ketekunan atau keuletan.

Kalau Anda tahu Ray Kroc (pendiri McDonald’s Corporation), Bob Sadino (pengusaha agribisnis, pemilik Kem Chick), Sukiyatno Nugroho (Pemilik Es Teler 77), Ciputra (pengusaha properti), Purdi Chandra (pemilik Primagama) dan masih banyak lainnya.

Mereka merupakan contoh menarik dalam belajar kewirausahaan bagaimana mereka memulainya dari nol sampai menjadi usaha yang besar.

Mereka adalah jenis individu yang ulet dan tekun, dalam usia yang lanjut ia menunjukkan bahwa bisnis yang dikelolanya merupakan hasil keuletan dan ketekunan

Walaupun ada modal uang, kecerdasan dan pengetahuan yang luas tidak menjamin usaha bisnis tersebut selalu sukses tetapi bisa juga mengalami kegagalan apabaila sang pendiri atau pemilik usaha tersebut tidak mempunyai jiwa keuletan dan ketekunan.

Sampai kapan pun tanamkan jiwa ulet dan ketekunan pada diri Anda untuk mewujudkan mental wirausaha yang sukses.

Bertindak nyata, yang membedakan ciri orang pintar yang iri melihat kesuksesan orang lain dengan ciri orang biasa (tidak pintar sekali) yang sukses dalam mengelola bisnisnya.

Jawabannya adalah orang pintar hanya banyak bicara dan membuat konsep dan ide yang luar biasa bagus tetapi tanpa didukung adanya tindakan nyata atau aksi realistis dalam mewujudkan rencana atau cita-citanya.

Sementara orang biasa atau yang tidak pintar sekali, mereka mempunyai konsep dan ide biasa tetapi diwujudkan dan ditindak lanjuti sedikit demi sedikit sampai berkembang sangat pesat dan sukses. Kunci sukses wiraswasta adalah aksi terus menerus (sustainable action).

Tanamkan budaya kerja, Anda ingat sejarah banyak pengusaha sukses di Indonesia yang sekarang mempunyai grup usaha bernilai ratusan miliar bahkan triliunan rupiah, seperti Liem Sioe Liong, Eka Tjipta Widjaja, Putera Sampoerna dan lain-lainnya.

Pada awal mendirikan usahanya selain ketekunan adalah kerja keras yang luar biasa. Berpikir cerdas dan bekerja keras yang produktif akan membuat Anda mewujudkan mimpi-mimpi bisnis atau usaha yang akan Anda kembangkan bisa berkembang besar dan lebih sukses.

Perbanyak relasi dan analisa terus pemasaran, kunci sukses seorang dalam mengelola usahanya salah satunya yaitu dengan adanya dukungan jaringan pemasaran, distribusi serta promosi produk dan jasa yang dikelolanya.

Cara untuk dapat menambah relasi dan jaringan pemasaran yang luas yaitu dengan cara lebih proaktif serta lebih agresif untuk menambah jumlah calon konsumen yang dimilikinya.

Lakukanlah pemasaran yang proaktif dan agresif karena setiap produk mempunyai peluang pasar yang harus direbut secepatnya kalau tidak maka produk dan jasa orang lain yang akan merebut hati konsumen.

Jangan takut gagal, kegagalan apabila berani mencoba lagi adalah awal langkah menuju kesuksesan. Kata gagal merupakan momok bagi banyak orang untuk melakukan sesuatu usaha baru.

Apabila Anda membuat usaha bisnis atau wirausaha yang baru maka perasaan rasa ketakutan dan kegagalan selalu menghantui diri Anda. Di sinilah dimulai tantangan untuk untuk tidak takut gagal dalam memulai usaha baru.

Oleh karena itu bagi Anda yang ingin mencoba wirausaha, jangan sekali-kali takut pada kegagalan, karena kegagalan adalah bagian proses menuju kesuksesan bisnis Anda.

Belajar dari resep sukses para wiraswasta maka sudah banyak referensi dan rujukan yang lengkap yang bisa memandu anda menjadi wirasuaha yang berhasil. Tetapi semua resep dan kunci sukses adalah bernilai 1% sementara sisanya 99% adalah tindakan nyata dan hasil keuletan dan kerja keras.

 

 

Sumber: http://aergot.wordpress.com
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 6 dari 23

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image