Entrepreneurship

Bandung Pisan Euy....

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 21 Desember 2009 11:39
Bandung pisan! (banget). Demikian tagline besar yang dibawa di dalam desain-desain kaus rancangan Ben Wirawan Sumardji (33) dan Hanafi Salman (33). Mereka menjadikan oblong sebagai sebuah media kampanye sosial dan budaya kota. Kaus bukan hanya sebagai alat fashion, melainkan juga ensiklopedia sejarah, landmark, aksen, wisata, dan berbagai seluk-beluk tentang Kota Bandung dan warganya.

Sejak berdiri akhir 2004, Mahanagari menghasilkan setidaknya 60 desain kaus unik, menggelitik, dan kadang disertai kritik sosial.

Kaus dengan tulisan: "F=V=P" adalah salah satu yang sangat digemari dan banyak dicari pembeli. Teks ini akan mengingatkan kita pada karakteristik urang Bandung dan umumnya Sunda asli yang sering kali kesulitan melafalkan konsonan F, V, dan P saat bertutur kata.

"Bandung itu berbeda dengan kota besar lainnya macam Yogyakarta dan Bali. Kota ini mengalami percampuran budaya demikian besar. Jika tidak mulai diperkenalkan, budaya lama akan hilang, tersubstitusi kultur-kultur baru yang muncul," ujar Ben, Direktur CV Mahanagari Nusantara, perusahaan pemilik merek Mahanagari yang melahirkan oblong-oblong rasa Bandung pisan itu.

Ia percaya, kaus bisa menjadi media berkampanye sosial dan budaya. Kuncinya pada keunggulan desain. Berbeda dengan merek lain yang sekadar menjual nama Bandung ataupun ikon kasatmata, Mahanagari senantiasa menyisipkan pesan di setiap desain kaus buatannya.

Salah satunya, desain Menara Eiffel terbalik. Bandung yang dulu katanya indah, dijuluki Parijs van Java, sekarang ini kan sudah berubah. Kota ini punya banyak persoalan baru, tutur alumnus Desain Produk Institut Teknologi Bandung yang akrab disapa Benben ini. Dia membalikkan ibu jarinya dari atas ke bawah, menjelaskan makna Menara Eiffel terbalik di kaus itu.

Brand Mahanagari ini diciptakan kala krisis moneter melanda Tanah Air pada pengujung tahun 1998. Berbeda dengan anak muda kreatif lainnya yang ketika itu ramai mendirikan industri clothing di distro, Ben justru melawan arus dengan memproduksi kaus berdesain Bandung dan kekhasannya.

"Ketika tahun 1998 ikut pertukaran pelajar ke National University of Singapore (NUS), saya bingung harus memberi suvenir khas apa dari Bandung, selain makanan pada saat hari tukar kado. Kaus yang menampilkan kekhasan kota hanya ada di Bali dan Yogya," kenang Benben.

Menggandeng rekannya, Hanafi, yang jago mendesain kaus, Benben memilih meninggalkan pekerjaan desainer di sebuah perusahaan perlengkapan alam bebas. Dia merintis usaha sendiri dengan modal awal dari pinjaman senilai Rp 5 juta. Ketika itu baru lima desain sederhana yang diciptakan. Jualan dilakukan dengan sistem titip di toko-toko di kawasan Jalan Braga dan Setiabudhi.

Pasar utamanya saat itu adalah para turis asing dan ekspatriat. Pada awalnya Ben dan Hanafi pun rela berjualan langsung di kereta api eksekutif Bandung-Jakarta. Pascaperistiwa Bom Bali I, Oktober 2002, usaha mereka sempat merugi. Itu karena Bandung sepi turis asing.

Tur wisata budaya

Sempat berhenti berproduksi dua setengah tahun, dengan suntikan modal mertuanya, Ben menghidupkan kembali Mahanagari. Terobosan baru dalam dunia clothing pun dimunculkan.

Mahanagari, menurut Hanafi, membeli desain-desain dari pihak luar, kebanyakan mahasiswa Seni Rupa dan Desain Produk ITB. Desain itu dihargai senilai Rp 200.000 dan royalti yang bisa mencapai Rp 2 juta. Konsep ini adalah sebuah bentuk keuntungan simbiosis dalam upaya ikut membesarkan almamater mereka.

Dalam perkembangannya, bidang-bidang usaha Mahanagari pun kemudian diperluas, yaitu juga mencakup kegiatan tur wisata budaya, ekologi, dan sejarah macam Lavatourm, yaitu tur menyusuri jejak geologi kawasan Bandung Purba serta tur melihat bangunan bersejarah di Bandung. "Ini merupakan bagian dari upaya kampanye seutuhnya tentang budaya dan segala potensi Bandung," ujar Benben.

Mahanagari ingin tidak dikenal sebatas penjual kaus, tetapi sebagai perusahaan peduli pada lingkungan dan sosial Kota Bandung. "Belakangan saya baru tahu hal itu kini disebut social entrepreneur," kata penerima penghargaan Gubernur Jawa Barat untuk Perusahaan Kreatif Prospektif tahun 2007 dan 2008 ini.

Kampanye itu antara lain perjalanan ke Pasir Pawon, tempat ditemukannya manusia purba di kawasan Karst Padalarang. Selain itu, perjalanan ke sumber air Bandung Selatan dan wisata sejarah Pangalengan. Pesertanya masyarakat umum yang berminat terhadap sejarah dan peduli terhadap berbagai hal aktual tentang Bandung.

Ramah lingkungan

Tidak hanya kaus oblong, Mahanagari kemudian menciptakan desain unik, yaitu paper folder (tempat menyimpan kertas) pengganti plastik keresek. Kemasan produk ini menjadi simpul jaringan kampanye antara Mahanagari dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Inovasi pun dilakukan dengan komponen utama dari kardus. Kardus dipilih karena praktis, murah, dapat digunakan lagi, dan bisa didaur ulang. Atas desain kemasan yang bernuansa ramah lingkungan ini, Mahanagari mendapatkan penghargaan Gold Award Desain Terbaik Indonesia tahun 2008 kategori T-Shirt Packaging Indonesia Good Design Selection yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Juri menilai gambar dan desain bukan sekadar alat pemanis jualan, melainkan bisa dipakai untuk kepentingan dan kepedulian sosial," katanya.

Strategi ini ternyata diterima masyarakat Bandung. Beragam desain laku dijual di pasaran. Hal itu dipengaruhi juga oleh besarnya minat masyarakat ikut dalam kampanye Mahanagari ke berbagai daerah bersejarah dan khas Kota Bandung.

Untuk tahun 2010, Ben berencana membawa Mahanagari terbang lebih tinggi. Ia menyebut rencana itu dengan istilah menjual otak. Menurut Ben, menjual otak diartikan dengan lebih banyak berkreasi dan berinovasi lewat karya dengan harapan bisa dilirik para pemegang modal, seperti perusahaan swasta.

"Apabila sinergis dengan pemegang modal bisa tercapai, diharapkan bisa dapat modal lebih besar guna mengembangkan Mahanagari sebagai perusahaan kampanye sejarah dan pendidikan yang lebih besar," ujar Ben.


Editor: Edj
 

Gagal Jadi Cleaning Service Jadi Juragan Tomat

Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 21 Desember 2009 07:02
Seorang pemuda tamatan SMA melamar pekerjaan menjadi cleaning cervices di perusahaan paling kesohor di negaranya. Setelah tes dan wawancara, sang pemuda tadi diberi tahu oleh manager SDM perusahaan tersebut bahwa ia dinyatakan lulus. Manager SDM berkata kepadanya : Terkait dengan kapan Anda mulai bekerja dan apa saja yang akan menjadi kewajiban Anda, nanti akan diinformasikan langsung via email.

Mendengar kata “email” itu, sang pemuda tadi berkata dengan santai : Saya gak punya komputer dan gak punya email pak… Lalu, sang manager SDM kaget sambil berkata : Hari gini Anda gak punya email? Yang gak punya email berarti ia mati dan orang mati tidak berhak bekerja. Kalau begitu, Anda dinyatakan gagal. Mendengar ucapan tersebut pemuda yang tadinya terlihat gesit dan semangat itu, tiba-tiba lemas dan terlihat amat kesal bercampur kecewa. Mukanya jadi lesu dan pandangannya jadi ngambang.

Tak lama kemudian, ia pulang sambil menelan kepedihan dalam hati yang tak terhingga. Pupus sudah impian dan cita-citanya untuk bekerja di perusahaan besar itu, hanya gara-gara tidak memiliki saluran komunikasi maya yang bernama “email”.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah, sang pemuda itu berfikir dan merenung dalam-dalam apa kira-kira pekerjaan yang mungkin lagi ia lamar. Bekal hidup semakin hari semakin menipis dan bahkan uang yang dimilikinya tak lebih dari 100 ribu rupiah. Ia mulai menimbang dan berkalkulasi. Dalam hatinya berkata : Kalau uang tersebut dijadikan biaya transportasi melamar pekerjaan dan untuk keperluan makanan, paling hanya cukup untuk tiga hari. Tiga hari itu tentulah tidak cukup waktu untuk melamar dan menunggu hasil tesnya. Itupun kalau lulus. Kalau tidak? Yang terjadi adalah, bekal habis, pekerjaanpun tidak dapat.

Setelah berfikir panjang dan merenung dalam-dalam, terbetik dalam hati kecil sang pemuda itu untuk merubah haluan pikirannya, yakni dari mencari kerja menjadi pedagang. Trauma ditolak menjadi kariawan hanya gara-gara tidak punya email, membuat pemuda tersebut semakin kuat dorongannya untuk mencoba berdagang. Bukan hanya banting ster pemikiran, arah jalanpun ia putar dari menuju rumah menjadi menuju pasar.

Setelah keputusan itu diambilnya dengan mantap, ia turun dari kendraan umum yang mengarah ke tempat tinggalnya dan naik kendraan umum lain yang menuju pasar sayur-sayuran dan buah-buahan. Sesampaianya di pasar yang tergolong paling crowded dan becek itu, ia berfikir lagi apa gerangan yang paling pas ia dagangkan dengan modal 75 ribu rupiah sehingga sisanya yang 25 ribu rupiah lagi bisa ia pakai dan manfaatkan untuk transportasi dan biaya makan paling tidak untuk satu hari.

Sebelum memutuskan membeli barang dagangannya, ia berkeliling ke semua pojok dan kios perdagan buah-buahan dan sayur-sayuran yang ada di pasar itu. Tak kurang dua jam lamanya ia berkeliling ke sana dan kemari. Dalam hatinya timbul pertanyaan: pasar sebesar ini, masak brang-barangnya tidak terlalu banyak sehingga sulit melakukan pilihan. Apalagi sayur-sayuran yang ada terlihat tidak terlalu segar.

Melihat kondisi seperti itu ia memberanikan diri bertanya pada seorang pedagang yang sedang duduk-duduk sambil menikmati secangkir kopi di kiosnya : Pak? Mau tanya, ucap anak muda itu. Kalau mau cari buah-buahan atau sayur-sayuran yang segar di sebelah mana ya? Bapak berumur setengah baya itu dengan gembira menjawabnya : Begini dek.. sekarangkan sudah sore.

Buah-buahan dan sayur-sayuran yang segar sudah habis sejak tadi siang. Kalau adik mau yang segar dan baru, nanti malam sekitar jam 23.00 datang lagi. Para pedgang besar dan supplier biasanya datang membawa barang dagangannya ke sini jam segitu. Nanti kamu bisa pilih sepuasnya…

Mendengar keterangan si bapak pemilik kios itu, anak muda itu menghadapi masalah pelik baru, yakni antara menunggu atau pulang dulu ke rumah, nanti jam 23.00 malam baru datang lagi. Menunggu bukanlah pekerjaan yang mudah. Pulang juga bukan pilihan yang baik, karena akan memakan ongkos yang cukup lumayan dan sudah pasti mengurangi modal yang ada. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk menunggu sampai jam 23.00 di mana suasana pasar akan berubah 180 derajat dari suasana yang dilihatnya saat itu.

Sambil menunggu waktu perdagangan malam tiba, ia menemukan ide yang cukup bagus, yakni diskusi dengan si bapak pemilik kios tadi seputar hal ihwal perdagangan sayur dan buah-buahan. Tujuannya tak lain, kursus kilat berdagang sayur-sayuran atau buah-buahan. Pemilik kios tersebut dengan ramah dan senang hati menerima tawaran anak muda itu.

Diskusipun berjalan serius dan terkadang seram, khususnya saat bapak itu bercerita kondisi sulit waktu menghadapi beberapa kali usahanya bangkrut sehinga ia dan keluarganya jatuh miskin. Namun, kata bapak itu, adik jangan takut karena bersama kesulitan, pasti ada kemudahan. Itu janji Allah, kata bapak tadi, dan bapak merasakannya berkali-kali dalam kehidupan ini. Kesulitan artinya mengundang kemudahan, lanjut bapak tadi. Diskusipun terjadi selama sekitar enam jam, hanya disela shalat magrib dan isya.

Sekarang jarum jam telah menunjukkan angka 23.00. Para pedagang besar muali berdatangan dengan truk-truk yang penuh sesak buah-buahan dan sayur sayuran. Para kuli bongkarpun dengan cekatan dan penuh semangat mengeluarkan barang-barang dari dalam truk-truk besar itu.Tidak sampai dua jam, pasar yang tadinya kosong menjadi tumpukan buah-buahan dan sayur-sayuran segar. Mendadak saja pasar menjadi sangat ramai oleh kehadiran para pedagang yang datang dari berbagai penjuru kota untuk membeli keperluan dagangan mereka dan dijual kembali esok harinya di warung mereka atau disuplai ke pelanggan-pelanggan mereka.

Tak dirasa anak muda itupun larut dengan suasa yang sangat hidup itu. Rasa capek dan ngantukpun hilang. Ia mulai melihat ke sana ke mari sambil memutuskan jenis barang dagangan apa yang akan ia beli. Tiba-tiba matanya tertuju kepada tumpukan tomat segar dan matang, bening dan berwarna kemerah-merahan yang menumpuk di dalam satu kios yang terletak di blok yang berbeda dengan kios seorang bapak yang menjadi trainer dan teman diskusinya saat menungu waktu perdagangan tiba. Akhirnya anak muda itu memutuskan membeli satu boks tomat matang dan segar itu. Ajaibnya, setelah ia tanya kepada sipedagang, harganya pas sejumlah uang yang telah disiapkannya, yakni 75 ribu rupiah. Satu boks itu berisi 25 kg tomat segar dan berkualitas baik.

Akhirnya anak muda itu membeli satu boks tomat matang segar seharga 75 ribu rupiah. Iap segera pulang sambil mencari omprengan menuju rumahnya. Ia sampai ke rumah pas waktu azan subuh berkumandang. Rasa ngantuk ia lawan sekuat tenaganya. Setelah mandi dan berwudhuk, ia putuskan untk tidak meninggalkan kebiasaannya shalat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya, kendati belum tidur sama sekali. Setelah shalat jamaah selesai, seperti biasa, ia membaca dzikir yang disunnahkan Rasul Saw. Setelah itu ia larut dalam doa’. Di antaranya :

Yaa Allah! Engkau Maha Tahu dan hamba tidak tahu sama sekali mana yang lebih baik buat dunia hamba, agama dan akhirat hamba. Jika berdagang ini lebih baik bagi hamba, agama dan akhirat hamba, maka mudahkanlah dan mohon diberkahi, yaa Arhamarrahimiin…

Saat pulang dari masjid menuju rumah, kalkulasi dan feeling bisnisnya mulai tumbuh. Dalam hatinya berkata : 75 ribu rupiah, dibagi 25 kg sama dengan 3 ribu rupaih perkilogramnya. Agar aku tahu harganya di tingkat eceran, aku harus mengecek berapa harga tomat di warung dekat rumahku. Setelah ditanya, pemilik warung itu menjelaskan harganya 6 ribu rupiah perkilogramnya. Mendengar jawaban si pemilik warung itu, ia berkata dalam hatinya : Kalau satu boks tomat yang aku beli tadi malam habis terjual semuanya hari ini, wah… aku bisa dapat keuntungan 100 % dong? Dibeli 3 ribu rupiah dan dijual 6 ribu rupiah perkilonya. Kalau saja aku berjualan 6 hari sepekan berarti sebulan 24 hari. Kalau sehari aku dapat keuntungan 75 ribu rupiah, berarti dalam sebulan aku bisa dapat keuntungan satu juta delapan ratus ribu rupiah. Artinya, dalam sebulan aku mendapat keuntungan 2.400 %. Subhanallah…

Begitulah hitung-hitungan bisnis mulai tumbuh dan berkembang dalam benak anak muda itu. Agar tidak buang-buang waktu, ia segera mengambil sepeda bututnya untuk dijadikan kendraan kelilingnya di daerah tempat tinggalnya sambil membawa satu boks tomat segar dagangannya.

Dengan mengucap basmalah dan penuh tawakkal pada Allah, ia mendayungkan sepedanya sambil berteriak : Tomat segaaarr… ibu-ibu tak perlu jauh-jauh ke warung membelinya… kualitas barangnya terjamin…. Harganya bersaing…. Hampir setiap ibu-ibu mendengar suara aneh itu membuka pintunya dan membeli tomatnya, ada yang seperempat kilo, ada yang setengah kilo dan bahkan ada yang dua kilo.

Di antara para pembeli tomatnya ada seorang ibu yang kaget terheran-heran sambil berkata : Eh? Kamukan anak si Fulan? Bukannya kamu lulus menjadi kariawan perusahaan ternama itu? Kok sekarang malah menjadi pedagang tomat asongan? Kasiaan deh kamu? Anak muda itu tak menjawab pertanyaan ibu itu. Ia hanya tersenyum saja. Dalam hatinya berkata, yang penting aku dapat uang, dari kerja kek, dari dagang keliling kek, yang penting halal dan cukup buat kebutuhan hidupku dan orang tuaku..

Tak terasa anak muda itu berhasil menjual semua barang dagangannya hanya dalam tempo tiga jam saja. Hatinya gembira tak terkira. Artinya, sekitar jam 09.00 pagi dagangannya sudah habis terjual dan ia mendapat keuntungan 75 ribu rupiah, artinya untungnya seratus persen. Semangat bisnisnya semakin meningkat. Tawakkalnya pada Allah semakin besar.

Begitulah kegiatan anak muda itu setiap hari, setiap pekan dan setiap bulan. Uangnya tak terasa semakin banyak. Bahkan usahanya sudah merambah ke berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Hanya dalam tiga tahun, ia sudah bisa membeli tiga mobil niaga yang digunakan mengirim dagangannya ke berbagai warung dan super market karena ia sudah menjadi supplier handal.

Sekarang, omset bisnisku sehari hampir 10 kali lipat gajiku sebulan… Yaa Alla…Ini adalah cobaan terbesar dalam hidupku apakah aku jadi hamba-Mu yang bersyukur atau kufur. Karena itu, jadikanlah aku hamba-Mu yang bersyukur dan masukkanlah aku ke dalam hamba-hamba-Mu yang saleh.. Aamiiina yaa Robbal ‘alamin…
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 3 dari 23

Login

CB Login

 
Baner

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

Links

feed image