|
Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Jumat, 05 Februari 2010 17:44 |
Berangkat dari nol, mantan karyawan ini sekarang memiliki tiga kapal tanker, dua kapal sewa dan satu floating storage dengan omset Rp 140 miliar per tahun. Bagaimana bisa?
Tahun 1997, Arif Budi Setiawan hanyalah karyawan PT Berlian Laju Tanker Tbk. (BLT). Kini, siapa sangka, perusahaan yang didirikannya, PT Milta Lintas Samudera (MLS), tidak hanya lalu-lalang di perairan Indonesia, tetapi sudah berlayar ke Singapura, Malaysia dan Timor Leste.
Arif memang lompat kuadran pada 2004. Mengundurkan diri dari BLT, dia mendirikan MLS. Dia berangkat dari titik nol, hanya mengandalkan basis kepercayaan pelanggan atau relasinya saat bekerja di BLT. Kala itu belum ada aset kapal ataupun floating storage. Karyawan pun belum ada. Namun, dia nekat dengan menjadi makelar yang menghubungkan antara pelanggan yang ingin mengirimkan barang muatan cair (seperti minyak sawit mentah [CPO], turunan CPO, plus tetes tebu) dan pemilik kapal tanker yang siap mengangkut barang logistik. Alhasil, sebagai broker yang dia dapat waktu itu cuma komisi.
Tidak puas hanya menerima komisi belaka di tahun pertama beroperasinya MLS, tahun kedua Arif berinisiatif lain: mencarter kapal. Pertimbangannya, jika mampu menyewa kapal sendiri, tentu akan mendapat bagian keuntungan lebih banyak dibandingkan sekadar komisi. Benar saja prediksinya. Seiring dengan berjalannya waktu, pendapatan yang diterimanya terus meningkat.
Akhirnya pada tahun ketiga, MLS sudah mampu membeli kapal sendiri seharga Rp 14,8 miliar. Duitnya berasal dari tabungan pribadi Arif, akumulasi laba perusahaan selama dua tahun dan kredit bank. Dengan memiliki kapal sendiri, bisnis pun melaju kencang, secepat laju kapal berlayar.
Tahun ketiga beroperasi adalah momen bersejarah bagi MLS. Sebab pada masa itu, MLS tidak cuma mampu membeli kapal sendiri untuk pengangkutan muatan cair, tetapi lini bisnisnya juga bertambah. Yaitu, merambah bisnis minyak, tepatnya pengiriman solar (HSD D2) ke wilayah Indonesia bagian timur dan mancanegara. Berbekal kemajuan di tahun ini, tahun berikutnya Arif menambah armada lagi dengan kapal seharga Rp 18 miliar.
Bagi Arif, sektor bisnis yang digeluti tidak asal sergap. “Pertimbangan saya masuk ke perdagangan solar adalah segmen pasarnya pasti selama industri bergerak. Karena, tidak ada industri yang tidak membutuhkan solar,” ucap Presiden Direktur MLS ini. Sementara itu, alasannya masuk ke distribusi minyak lantaran sudah memiliki floating storage di Kuantan Port, Malaysia. Jadi, secara infrastruktur MLS telah mempunyai kekuatan sehingga bisnisnya lebih kompetitif dibandingkan pesaing yang belum memiliki fasilitas serupa.
Mengapa MLS bisa menembus pasar luar negeri? Tentu tidak gampang berbisnis di negara lain. Akan tetapi, dengan pengalaman kuliah di Filipina dan hubungan yang baik dengan kawan dan relasi, Arif mampu menaklukkan pasar asing. Bahkan, mampu menggaet mitra dari Malaysia untuk memperkuat bisnisnya. “Saya bermitra dengan mantan orang Petronas mendirikan anak perusahaan MLS bernama Petrozoil Malaysia, Pte. Ltd.,” kata sarjana manajemen dari Philippine Christian University, Manila ini. Tidak tanggung-tanggung, di Malaysia, MLS memiliki dua kantor regional, tepatnya di Kuala Lumpur dan Pahang.
Pria kelahiran Jakarta, 26 Januari 1973, ini mengungkapkan, dengan bendera Petrozoil Malaysia, MLS menjadi mudah bergerak dalam upaya memenetrasi pasar luar negeri. Buktinya, setelah berhasil masuk Malaysia, berikutnya menyasar Singapura dan Timor Leste.
Meski Timor Leste dulu adalah bagian wilayah RI, untuk masuk ke sana pun tak semudah membalikkan telapak tangan. “Kami harus ikut tender dan unggul dalam tiga hal, yaitu kontinuitas produk, distribusi dan kuat permodalan,” ungkap anak bontot dari tiga bersaudara ini tentang kelebihan MLS.
Dari ketiga negara asing yang menjadi tujuan bisnis MLS, diakui Arif, pasar Timor Leste memberi kontribusi margin terbesar. Rincian margin bisnis solarnya: Timor Leste 30%, Malaysia 18% dan Singapura 18%. “Margin dagang solar ke Timor Leste lebih banyak karena harga minyak di sana diapresiasi dengan baik dan negara itu tergantung pada kita. Sebab jika mereka mengambil dari Australia atau Singapura, harga solarnya malah jatuhnya lebih mahal,” imbuh ayah seorang putri ini.
Pasar yang melebar sudah pasti menggelembungkan omset. Arif mengklaim, yang menjadi tulang punggung MLS adalah perdagangan solar dengan omset Rp 100 miliar per tahun atau sekitar 70% kontribusinya. Sementara pemasukan 30% lagi dari bisnis perdagangan kapal untuk muatan cair dengan omset Rp 40 miliar per tahun.
Peningkatan omset berjalan paralel dengan pertumbuhan aset perusahaan. Lihat saja, dulu cuma memiliki dua kapal tanker dan satu floating storage, kini MLS mempunyai tiga kapal tanker, dua kapal carter dan satu floating storage. Selain itu, juga memiliki sarana dan prasarana dermaga dengan fasilitas tiga tanki besar untuk penyimpanan minyak mentah dengan kapasitas penuh 10.500 metrik ton atau masing-masing tanki kapasitasnya 3.500 metrik ton di Kuantan Port.
Dalam perkembangannya, sungguh disayangkan, perjalanan bisnis Arif tak mulus. Ibarat roda terus berputar, haluan roda MLS rupanya tak lama bertahan di atas. “Bisnis saya sempat jatuh karena saya sok menjadi malaikat,” ungkap pehobi membaca dan bekerja ini dengan nada lirih. Ketika itu, saat berjaya, dia lupa diri untuk selalu waspada. “Saya selalu berusaha memenuhi permintaan teman yang meminjam duit, tetapi ternyata tidak dikembalikan,” paparnya. Ujung-ujungnya, duit perusahaan yang dipinjamkan ke teman itu mengganggu cash flow perusahaan. Bisa ditebak, akhirnya MLS pun pucat akibat lesu darah. Ironisnya lagi, sebagian teman yang meminjam uang itu adalah orang-orang kepercayaannya yang notabene menjadi direksi MLS.
“Saya ditinggalkan direksi dengan setumpuk utang. Kejadian buruk itu menimpa dua tahun lalu,” ujar Arif. Anak pengusaha pemasok kebutuhan rumah sakit ini mengatakan, belakangan pihaknya berusaha bangkit dan menata diri. Ketika jajaran direksi lama sudah hengkang, kini manajemen diciutkan. Hanya ada dua anggota di dewan direksi: Sukoco sebagai direktur keuangan dan Arif sendiri sebagai dirut. “Pak Sukoco saya ajak gabung. Beliau sebelumnya adalah eksekutif di Grup Humpuss,” tambah eksekutif yang berkantor di Graha Niaga Lt.2, Jl. Sudirman, Jakarta Selatan, ini.
Tidak hanya jajaran manajemen yang dibenahi, karyawan pun ditertibkan. Menurut Arif, meski dirinya tidak melakukan PHK saat perusahaan bermasalah, banyak karyawan yang mengundurkan diri. Namun, dia mengaku tetap memberi pesangon. Sekarang, jumlah karyawan tetapnya ada 200-an orang. Selain itu, kini dirinya tidak one man show lagi, yang ditunjukkan dengan pendelegasian tugas-tugasnya ke para profesional. Dan kepada karyawan yang berprestasi, dia tidak segan-segan memberi bonus dan gaji yang bagus. Sebaliknya, pegawai yang kurang perform tidak diberi reward. “Saya ingin meniru perusahaan tempat saya bekerja dulu. Kasih sayang terhadap karyawan itu terukur sesuai reward dan punishment sehingga perusahaan bekerja lebih profesional,” kata pemilik tubuh berpostur sedang dan berkulit cerah ini.
Pembenahan perusahaan yang dilakukan, perlahan tetapi pasti, sudah menunjukkan perbaikan. Indikasinya, kas perusahaan mulai membaik sebagaimana diklaim Arif rata-rata omsetnya Rp 140 miliar per tahun. Malah, tahun depan, MLS siap-siap berekspansi membesarkan skala perusahaan.
Ada dua agenda bisnis MLS ke depan. Pertama, meningkatkan volume perdagangan. Kedua, melakukan penetrasi ke Fiji, Pasifik Selatan, karena harga minyak di sana diapresiasi sangat bagus. Nah, untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan dana segar. “Karena keterbatasan modal, rencananya kami akan mengadakan fund rising senilai Rp 400 miliar untuk pembiayaan ekspansi,” ujar pengusaha yang berprinsip: pelanggan, karyawan dan kreditor perlu memiliki kedekatan emosional, meski tetap dalam batas-batas profesionalisme.
Untuk permodalan, Andre Vincet Wenas, pengamat kewirausahaan dari IPMI Business Scoool, mengusulkan beberapa strategi untuk MLS. Antara lain, mengundang bank atau menarik investor dengan cara private placement atau go public. “Meski ekspansi, jangan lupa waspada terhadap risiko bisnis. Untuk itu, aset-aset perusahaan juga harus diasuransikan,” papar Andre mewanti-wanti.
Soal risiko, tampaknya Arif juga mesti menyimak saran Budi Permana. Praktisi keuangan yang enggan disebutkan institusinya ini mengingatkan, saat krisis finansial global, sektor perkapalan banyak kena imbasnya. “Sekarang banyak perusahaan kapal yang rugi karena ekspor-impor terganggu, sehingga transportasi shipping menurun,” kata Budi. Apalagi, menurut Budi, walaupun di satu sisi Arif adalah sosok pengusaha yang friendly sehingga jaringan luas, masih ada saja kabar berita negatif MLS di kancah bisnis perkapalan yang harus segera diluruskan manajemen.
Terlepas dari pasang-surutya MLS, keberanian Arif pindah kuadran dari pegawai menjadi entrepreneur diacungi jempol oleh Andre. Dia berpendapat, negara kita butuh banyak orang seperti Arif. Yaitu, pengusaha-pengusaha muda yang jeli membidik peluang bisnis. Dengan modal basis pelanggan yang kuat dan informasi dunia shipping, Arif mampu menjadikan hal itu sebagai peluang bisnis.
Ya, kalau Arif tak hengkang, mungkin dia masih di tempat yang sama, tak menjelajah dengan bendera miliknya sendiri. ***
sumber: swa.co.id
|
|
|
Ditulis oleh <a href="http://detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Kamis, 04 Februari 2010 21:08 |
Samuel Santoso tampak begitu sibuk. Setiap hari, sejak jarum jam menunjukkan pukul 04.00 sampai pukul 22.30 waktu Indonesia tengah, ia terus bekerja di tempat kerjanya di Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur. Daerah ini harus diangkat melalui kerja keras untuk mendayagunakan potensi sumber daya lokal yang ada.
Santoso menyadari, tidak mudah memulai usaha di NTT. Banyak soal harus dihadapi, mulai dari sumber daya manusia, modal, pemasaran, sampai transportasi.
"Tahun 2004 saya tiba di Kupang. Saya mempelajari sejumlah peluang usaha di sejumlah kabupaten. Lalu, saya putuskan menekuni usaha emping jagung. Seluruh daerah di NTT menanam jagung dan jagung menjadi makanan pokok masyarakat," kata Santoso di Kupang, Sabtu (16/1/2010).
Namun, pengolahan jagung di kalangan masyarakat masih sederhana. Biji jagung digoreng dan dimakan begitu saja atau ditumbuk menjadi emping seadanya. Ada pula biji jagung digiling, lalu dimasak sebagai pengganti beras. Kebiasaan ini berlangsung ratusan tahun.
Berbekal pengetahuan tentang emping jagung yang dipelajari di Yogyakarta, Santoso memberikan inspirasi baru tentang emping jagung yang gurih, higienis, berkualitas, dan mampu bersaing di pasaran.
Provinsi Gorontalo mengakui keunggulan kualitas emping jagung Santoso. Mereka minta Santoso membantu melatih petani setempat dan mengadakan mesin pemroses emping berkualitas hasil rakitan Santoso.
Setiap hari, 100 sampai 200 kilogram (kg) biji jagung bulat diproses menjadi emping. Ia menghasilkan 80 kg-180 kg emping, susut 20 persen karena kulit dan mata biji jagung dibuang.
Bahan baku jagung dibeli dari petani dengan harga Rp 2.000- Rp 3.000 per kg. Semua jenis jagung di NTT dapat dijadikan emping dengan ukuran pengembangan 2-3,5 cm setelah ditumbuk dengan mesin.
"Jagung NTT jauh lebih berkualitas dibandingkan daerah lain. Saat diolah biji jagung tidak hancur, bahkan mengembang semakin lebar meski ditumbuk dengan kekuatan 8-10 kg berat. Tetapi, jagung dari luar selalu hancur," katanya.
Lagi pula, emping jagung ini lebih gurih dari daerah lain. Padahal, Santoso hanya menggoreng dengan bawang putih tanpa bahan pengawet.
Produk emping jagung milik Santoso kini bisa ditemui di swalayan, toko, kios, dan warung makan. Emping ini tersebar di 21 kabupaten/kota se-NTT.
Padahal, Santoso hanya mendistribusikan emping itu ke Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Sikka. Semuanya semata karena keterbatasan sumber daya manusia dan modal. Kebanyakan pengusaha dari kabupaten lain membeli emping di Kupang untuk dijual di kabupaten bersangkutan.
"Tanpa promosi saja saya kewalahan layani permintaan. Tetapi, saya bekerja sesuai tenaga, modal, bahan baku, dan sumber daya manusia yang ada," katanya.
Permintaan di Kota/Kabupaten Kupang 500-1.000 kg emping jagung per hari, Timor Tengah Selatan 200 kg per hari, dan Sikka 500 kg per hari. Pengiriman emping ke tempat-tempat ini pun sesuai dengan transportasi ke daerah itu.
Emping yang didistribusikan ke setiap swalayan dan toko di empat kabupaten/kota itu dalam 1-3 hari habis diserbu konsumen. Biasanya emping itu untuk sarapan pagi, juga untuk bekal perjalanan dan oleh-oleh khas NTT. "Permintaan dari kabupaten lain di NTT sampai 2.000 kg, tapi saya tak bisa layani. Saya biarkan usaha ini berjalan secara alamiah," ujarnya.
Kemasan
Emping dikemas dalam plastik dan dapat dibawa ke mana saja. Emping buatan Santoso ini bisa bertahan sampai 5 bulan.
Ukuran 450 gram dijual Rp 8.000-Rp 8.500 per kantong, sementara ukuran 250 gram dijual Rp 5.000 per kantong. Namun, di swalayan atau toko, emping dijual Rp 10.000-Rp 15.000 per kantong. Ukuran 250 gram dijual Rp 8.000 per kg.
Santoso menawarkan emping jagung dengan rasa gurih (renyah), manis madu, dan pedas manis. Semua rasa ini yang paling disukai konsumen.
Usaha emping jagung ini kini dikelola CV El Shahadai, di mana Santoso menjadi direkturnya. Ke depan, Santoso optimistis usahanya bakal sukses karena kini warga negara Timor Leste dan Australia pun mulai tertarik. Hanya keterbatasan modal dan tenaga membuat permintaan ini belum terlayani.
Santoso mempekerjakan 10 tenaga kerja lokal dengan gaji Rp 650.000-Rp 1,5 juta per bulan. Akan tetapi, mereka sangat sulit beradaptasi. Meski sudah kerja 1-3 tahun bekerja, mereka harus terus dituntun.
Hampir setiap pekan ia diminta para pimpinan satuan kerja perangkat daerah setempat memberikan pemahaman mengenai wirausaha kepada lulusan sarjana di NTT. Santoso selalu menekankan kekayaan sumber daya alam di NTT dan bagaimana mengolahnya.
Ada sejumlah sumber daya alam NTT yang terbuang, seperti ijuk dari enau, buah lontar, asam Jawa, rebung bambu, pohon bambu, kayu putih, dan jerami. Padahal, semua ini bisa dikelola untuk menghasilkan uang yang sangat memadai.
Ia memberikan contoh orang-orang sukses berwiraswasta seperti bisnis makanan ringan, kerajinan industri rumah tangga, dan mebel. Keuntungan di bidang ini lebih menjanjikan daripada menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Menjadi PNS juga harus bertarung dengan ribuan lulusan sarjana dan sekolah menengah.
"Saya ingin bangun sikap optimisme masyarakat bahwa di NTT banyak peluang usaha. Saya justru bicara terus terang mengenai keuntungan yang saya dapatkan dari usaha emping jagung ini guna membangun naluri bisnis mereka," katanya.
Masyarakat NTT juga bisa berwiraswasta, hanya mereka butuh pendampingan dan modal usaha. Pemerintah tak hanya bicara, tetapi juga beri modal dan bimbingan kepada masyarakat.
Santoso berencana membangun pabrik emping jagung di Kota Kupang dengan produksi 30 ton jagung butir per hari dan menyerap tenaga kerja sekitar 3.000 orang.
|
|
|