Bekerja untuk sesama |
| Selasa, 02 Juni 2009 19:09 | |||||
|
Pertanyaan kedua: "Siapakah di perusahaan ini yang pekerjaannya berkaitan dengan pelayanan?" Ternyata banyak karyawan yang menjawab pertanyaan ini dengan "Departemen Customer Service". Pembaca yang budiman, melakukan pekerjaan berbeda jauh dengan melayani orang lain. Orang yang sekadar melakukan pekerjaan adalah orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Bagi orang-orang seperti ini hal yang paling penting adalah pekerjaannya selesai. Dia kehilangan perspektif terpenting yaitu untuk apa sebenarnya dia bekerja. Dia tidak sadar bahwa setiap pekerjaan pasti memiliki customer, dan tidak ada pekerjaan yang tidak berkaitan dengan manusia. Bukankah tujuan kita bekerja- bahkan tujuan kita hidup-adalah untuk saling membantu dan memberikan yang terbaik bagi sesama manusia? Namun, masih sering kita jumpai orang-orang yang hanya berorientasi pada tugas, bukan pada orang lain. Mereka seakan-akan tidak memiliki customer. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa tujuan pekerjaan mereka adalah untuk membantu dan mempermudah pekerjaan orang lain. Atau jangan-jangan mereka memang tidak mau tahu hal itu. Mereka tidak peduli apakah orang akan menikmati hasil pekerjaan mereka atau tidak. Yang penting, mereka sudah bekerja, sudah menjalankan tugas, sudah melunasi kewajiban dan karenanya sudah bebas dari segala tuntutan. Seorang manajer pelatihan di sebuah perusahaan besar pernah mengeluh kepada saya. Ceritanya, perusahaan ini membangun sebuah pusat pendidikan dan pelatihan. Pembangunan pusdiklat ini diserahkan kepada bagian konstruksi yang kemudian mencari vendor untuk melakukan eksekusi. Namun, manajer konstruksi sama sekali tidak melibatkan bagian pelatihan. Manajer pelatihan ini kaget karena tahu-tahu pusdiklatnya sudah jadi dan siap diserahterimakan. Dia lebih terkejut lagi begitu mengetahui bahwa desain ruang pelatihan berikut berbagai perlengkapannya tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Bagaimana bisa sesuai kalau orang yang membangun pusdiklat ini tidak memahami dinamika sebuah pelatihan tetapi hanya melihatnya semata-mata dari kacamata pembangunan fisiknya. Pembaca yang budiman, pernahkah Anda mengalami hal semacam ini dalam pekerjaan Anda? Biasanya akan lebih mudah memahami kalau kita yang berada di posisi customer. Kalau Anda adalah manajer pelatihan dalam cerita di atas, Anda akan paham betapa tidak enaknya diperlakukan demikian dan betapa pentingnya untuk senantiasa berorientasi kepada customer. Namun, kalau Anda berada di posisi manajer konstruksi, apakah Anda juga akan sadar dan mau melibatkan manajer pelatihan untuk mendisain pusdiklat tersebut? Di sinilah terletak tantangannya. Ketika berada di posisi pelaku pekerjaan (pemberi jasa) kita sering kali kehilangan perspektif bahwa tujuan pekerjaan kita bukanlah "menyelesaikan pekerjaan" itu sendiri tetapi "melayani orang lain". Hakikat spiritualitas Penyebab hal ini sesungguhnya adalah persoalan spiritualitas. Kita sering kali hanya berfokus pada kepentingan kita sendiri dan melupakan kepentingan orang lain. Ini bertentangan dengan hakikat spiritualitas. Spiritualitas justru berfokus pada kebutuhan orang lain. Ini berarti menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa kita hanya akan dapat memenuhi kebutuhan kita bila kita terlebih dahulu memenuhi kebutuhan orang lain. Orang yang spiritual sadar sepenuhnya bahwa nilai dirinya ditentukan oleh apa yang dia berikan kepada orang lain. Dia sibuk memperhatikan dan melayani orang lain karena sadar bahwa hanya dengan memenuhi kebutuhan orang lainlah ia akan menerima kebaikan di dunia ini. Dia yakin sepenuhnya akan hukum alam yang mengatakan bahwa ketika kita menabur kebaikan kita pasti akan menerima kebaikan yang sama bahkan lebih besar. Dia seakan-akan melupakan dirinya sendiri karena sadar akan hukum alam dan janji Tuhan yang pasti akan terjadi. Tujuan bekerja bukanlah melakukan hal yang baik, tetapi melakukan hal yang bermanfaat. Tahukah Anda apa bedanya hal yang baik dengan hal yang bermanfaat? Bila Anda tidak dapat membedakannya berarti Anda belum menemukan hakikat pekerjaan Anda yang sesungguhnya. Hal yang baik belum tentu merupakan hal yang bermanfaat? Kalau saya membelikan buku-buku filsafat sebagai hadiah ulang tahun bagi manajer penjualan di kantor saya, tentu saja ini adalah hal yang baik. Namun, apakah hal ini akan bermanfaat baginya? Kalau saya memberikan CD lagu klasik kepada penikmat musik dangdut, tentu saja ini adalah hal yang baik, tetapi apakah hal ini bermanfaat? Kalau saya memberikan dasi sutra yang mahal kepada orang lain, tentu saja ini merupakan hal yang baik? Namun, apakah hal itu bermanfaat bila saya memberikannya kepada seorang manajer yang bekerja di pabrik dan jarang menggunakan dasi, bahkan untuk menghadiri pesta-pesta pernikahan? Pembaca yang budiman, ketika sesuatu itu tidak bermanfaat maka sejatinya sesuatu itu menjadi tidak baik. Karena itu baik atau tidaknya sesuatu sesungguhnya ditentukan oleh baik tidaknya sesuatu itu bagi customer kita. Nah, kesadaran akan hal sederhana ini saja akan membawa perubahan paradigma yang luar biasa. Ketika kita sadar bahwa bekerja bukanlah untuk pekerjaan itu sendiri melainkan untuk melayani orang lain kita sesungguhnya sudah mengalami perubahan spiritual yang sungguh dahsyat. Implikasi hal ini dalam bisnis juga akan luar biasa. Ketika pelanggan terpuaskan posisi kita akan berubah menjadi sangat penting di matanya. Karena bukankah kita hanya menjadi orang penting kalau kita penting bagi orang lain? Karena itu mementingkan orang lain sesungguhnya bukanlah sekadar ajaran agama dan kemuliaan. Dia adalah kunci sukses keberhasilan dan kebahagiaan dalam bisnis dan kehidupan.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
Login
CB Login
Who's The Star
Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ... Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010 |
Build Your Dream (BYD) : Wang ChuanfuTanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang... Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010 |
Marni: Pengrajin Sulam Usus LampungManusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su... Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010 |
Seorang eksekutif di sebuah perusahaan multinasional pernah melakukan penelitian kecil-kecilan di perusahaannya mengenai pelayanan. Dia mengajukan beberapa pertanyaan. Pertanyaan pertama: Apakah pekerjaan Anda berkaitan dengan pelayanan? Ternyata banyak karyawan di perusahaan tersebut yang menjawab pertanyaan ini dengan "Tidak".
